Versi Indonesia
English version
Pengunjung Online : 12
Hari ini :122
Kemarin :194
Minggu kemarin:2.066
Bulan kemarin:10.498

Anda pengunjung ke 4.144.765
Sejak 11 Rabi'ul Awal 1429
( 19 Maret 2008 )


Pengunjung Baru ?
   |   


www.melayuonline.com www.wisatamelayu.com www.rajaalihaji.com www.tengkuamirhamzah.com www.ceritarakyatnusantara.com www.adicita.com www.maharatu.com www.jogjatrip.com www.kerajaannusantara.com www.infokorupsi.com www.indonesiawonder.com
Tsulasa', 01 Rabi'ul Akhir 1440 (Senin, 10 Desember 2018)
 
10 November 2010 06:12
Nalar Pemberontakan
Nalar Pemberontakan

Oleh Hudjolly

A. Latar Sosial Tulisan RAH

Nama Lengkap RAH, adalah Raja Ali al-Hajj ibni Raja Ahmad al-Hajj ibni Raja Haji Fisabilillah bin Opu Daeng Celak alias Engku Haji Ali ibni Engku Haji Ahmad Riau. Dilahirkan pada tahun 1808 M di pusat Kesultanan Riau-Lingga di Pulau Penyengat (kini Kepulauan Riau). Pada masa tersebut, pulau Penyengat berkembang menjadi magnet pertumbuhan ekonomi berbasis perdagangan maritim karena letaknya berdekatan dengan Singapura dan Malaka. Singapura, saat itu, masih berada di bawah kendali Holanda (Belanda) dan akan dikembalikan kepada Inggris. Sebagai ganti pengembalian Singapura, Inggris memberikan Tanjung Pinang kepada Holanda (Raja Ali Haji, 2002:258).  RAH lahir pada periode masa ketika orang-orang Eropa mencapai zaman keemasan di dunia timur dan beriringan dengan mulai surutnya keperkasaan raja-raja lokal seperti Singapura dan Tanjung Pinang itu.

Untaian panjang sejarah Riau-Lingga pada kitab Tuhfat al Nafis yang ditulis Raja Ali Haji diurai dari periode tahun 1699 hingga tahun 1864 (naskah Tuhfat al Nafis versi Winstedt). Saat-saat  penulisan buku itu RAH telah berusia sekitar 56 tahun, ia dengan mudah membeberkan beberapa keadaan Penyengat di masa hidupnya dan setidaknya dapat menggambarkan suasana di masa kelahirannya. Berdasarkan surat-surat RAH terhadap Hermann Van der Wall yang dibukukan Van der Putten (2007), dapat  diketahui  bahwa  sekitar sembilan tahun sesudah penulisan Tuhfat, RAH tutup mata.

Makam RAH berada di komplek pemakaman Engku Putri Raja Hamidah, dikelilingi relief Gurindam Dua Belas sepanjang dinding bangunan makamnya (www.melayuonline.com). Namun dari tulisan Van der Putten pula, ditemukan sebuah sudut pandang eurosentris yang kental mengenai keberpihakan RAH pada tulisan Tuhfat al Nafis. Pandangan tersebut rasanya perlu dijernihkan. Putten (2001) menyebut adanya keberpihakan RAH terhadap suku Bugis dalam Tuhfat al Nafis. Kesimpulan  pembacaan semacam itu akan mempengaruhi posisi Tuhfat al Nafis dan RAH secara keseluruhan sebagai rujukan Sejarah Riau-Lingga. Dan sebagaimana biasa, pandangan eurosentris itu kerap dijadikan sandaran penelitian selanjutnya, atau menjadi ciri dalam peletakkan asumsi studinya (lihat Oman Fathurahman dan Burhanudin, 2008 dalam www Rajaalihaji.com  ;Matheson Hooker,1986  ;Watson, 1979 )

Membaca Tuhfat, terutama pada bagian-bagian akhir di mana RAH mulai nampak mengambil peran dalam badan cerita Tuhfat, adalah sama dengan membaca latar sosial kehidupan RAH dari sudut pandangnya sendiri. Asumsi ini akan menjadi landasan utama sekaligus sebagai dalil sanggahan terhadap pandangan Van der Putten mengenai RAH. Dari perjalanan hidup RAH, hiruk-pikuk perebutan kekuasaan, perang, antara perompak (orang Lanun) atau  perebutan daerah (pulau Karimun) sedikit banyak berpengaruh pada paradigma pemikiran RAH. Bagian akhir Tuhfat, menggambarkan peran-peran politik RAH, dengan demikian dapatlah keseluruhan Tuhfat disebut sebagai akrobat politik RAH terhadap Belanda, pemberontakan RAH pada dominasi kekuasaan  Holanda. 

RAH berperan vital dalam sejumlah pergantian pucuk kekuasaan raja. Posisinya seolah seorang sastrawan yang menduduki jabatan penting dengan seabreg peran strategis. Maka amatlah naif, jika intelektual istana seperti RAH yang terlibat banyak masalah genting kerajaan hanya mengguratkan berpuluh lembar tulisan sekedar menunjuk pada hal ‘remeh-temeh’ seperti sajak-sajak yang digunakan untuk pengajaran lisan moral atau syair nasehat-menasehati (bandingkan Ahmad Badrun[i]).  Tentu saja kepentingan sastra RAH adalah ekspresi-ekspresi politik kenegaraan. Pujangga, sastrawan yang ada di luar ring satu istana itulah yang lebih pas menorehkan tinta puja istana, puja sastra, pelajaran moral dan seterusnya.

Baik Gurindam ataupun Tuhfat al Nafis adalah senjata pemberontakan. Pengajaran lisan moral dan syair nasehat, tentu saja dapat dilakukan oleh sastrawan ‘tulen’ lain yang tidak terlibat proses penyerahan kekuasaan antara raja-raja Riau di antara pengawasan gebermen Holanda (pemerintah Belanda). Maka dapat dikatakan, setiap karya RAH adalah akrobat politik seorang diplomat. Prosesi penting penabalan raja juga dimulai oleh pidato Raja Ali Haji, padahal di antara petinggi kerajaan kala itu duduk pula para penghulu agama Islam dari Kabul (Raja Ali Haji, 2002 :337). Artinya posisi RAH menduduki peranan strategis, ring satu kekuasaan, bukan semata karena faktor kepandaian agama sebagaimana banyak dispekulasikan sejumlah penelaah riwayat RAH.

Selain menguasai ilmu agama Islam, dari paparan dalam Tuhfat al Nafis, bisa disimpulkan pula bahwa RAH menguasai seluk-beluk pemerintahan serta peralihan-peralihan kekuasaan yang diakui oleh Belanda dan Inggris, ataupun oleh orang-orang Cina dan Keling. (Lihat peristiwa kekosongan jabatan raja Riau Pulau Penyengat pasca mangkatnya Raja Abdul Rahman dalam Tuhfat al Nafis). RAH merupakan orang pribumi—bukan utusan seorang raja yang sedang berkuasa—tetapi menguasai diplomasi dan ‘hukum international’ yang diakui oleh orang-orang asing.

“Jikalau sungguh perkataan tuan-tuan semua (raja-raja yang saat itu hadir, residen Riau utusan gubernur jenderal Betawi- pen) dengan ikhlas yang demikian ini, hendaklah taruh tanda tangan masing-masing dalam satu surat yang kita sudah mufakat ini” (Tuhfat al Nafis, Raja Ali Haji, 2002:319).

Penggalan di atas merupakan sepotong cerita Tuhfat al Nafis tentang proses pergantian kekuasaan. Suksesi kepemimpinan tersebut berlangsung tanpa perebutan fisik antar keturunan raja, tetapi melalui surat perjanjian. Perjanjian untuk mengakhiri konflik bersenjata sudah sering dilakukan pada masa itu, tetapi, biasanya diprakarsai oleh pihak Belanda atau kerajaan besar terhadap kerajaan taklukannya. Tentu saja simpulan ini mengabaikan kemungkinan bahwa RAH sengaja ‘menepuk dada sendiri’ dalam karya Tuhfat al Nafis. Tetapi kemungkinan itu sangatlah kecil dilihat dari segi epistemologi penulisan Tuhfat al Nafis. Penggalan kisah itu sekaligus menunjukkan peran strategis RAH sehingga sastra yang dia telurkan bukanlah sastra hasil karya penyair biasa yang tanpa muatan makna politik tertentu.

Konteks sosial dan sejarah saat RAH membuahkan karya, berisi pergumulan kekuatan antar etnis yang semakin menegang. Seperti pertikaian yang dilaporkan Van der Putten (2001) antara Bugis di Penyengat dan Melayu di Lingga. Demikian juga ketegangan antara Terengganu, Siak, Keling, serta semakin banyaknya orang Cina di Riau yang dikalkulasi Belanda bakal tumbuh sebagai ancaman. Sehaluan dengan analisis Putten itu, Hendrik MJ Maeir (2001) berkesimpulan Belanda khawatir terhadap potensi ancaman tersebut lalu menugaskan Van der Wall untuk menjadi mata-mata di kawasan tersebut. RAH pun serta merta harus menempatkan posisinya di antara kekuatan etnik kala itu yang saling bersitegang. Ini merupakan sesuatu yang lumrah dalam konstelasi politik kekuasaan. Selanjutnya, RAH menggubah kondisi pertentangan etnik itu sebagai simbol-simbol perlawanan yang dipakai dalam TuhfatNamun sesungguhnya ia tahu dengan siapa orang negerinya sedang berhadapan, pertentangan antar etnik bukanlah ancaman besar bagi negerinya.  Berpuluh tahun sebelum  kelahiran RAH, Datuknya, Raja Haji Fisabilillah "Yang Dipertuan IV" Kerajaan Riau Lingga dan seorang yang termasyur keberaniannya melawan Belanda, akhirnya gugur dalam peperangan di Teluk Ketapang pada tahun 1874. (http://www.kompas.com/).  Hasan Junus (2002:103) memberikan angka tahun yang lebih rasional tentang kematian Raja Haji, 18 Juni 1784

B. Prasangka RAH

Laporan Van der Putten (2001) pada Journal of Southeast Asian Studies menyatakan kecenderungan RAH pada faksi Bugis. “Legitimising the presence of the Bugis faction in the kingdom seems to have been the key motivation for the compilation of two of Raja Ali Haji’s most famous works: the Tuhfat al-Nafis and Salasilah Melayu dan Bugis” (Van Der Putten, 2001:343). RAH memang menonjolkan cerita Upu Lima Bersaudara asal Bugis yang menurunkan raja-raja Melayu dalam Tuhfat (Raja Ali Haji, 2002:106 ;147 ;226). Terhadap simpulan van Der Putten tersebut dapat diajukan beberapa argumen sanggahan.

Argumen pertama, adanya pengaruh tradisi tulis orang Bugis terhadap tradisi tulis Melayu. Epos besar La Galigo yang berusia jauh lebih tua harus dipertimbangkan sebagai sastra tulis yang mempengaruhi tradisi tulis orang luar Bugis (bersifat hypogram). La Galigo jelas menjadikan tokoh ‘Bugis’ sebagai wira utama. Penempatan ini dapat dilihat dari cara RAH menyebut secara rinci keturunan orang-orang Luwuk-Bugis dari kakek Sawerigading hingga La Galigo sampai lebih dari sepuluh generasi (Raja Ali Haji, 2002:17-19). Penyebutan silsilah itu merupakan untaian silsilah terpanjang dalam Tuhfat al Nafis. Penyebutan silsilah raja Melayu tidak lebih dari tiga-empat generasi.

Pengaruh Hypogram  terjadi pula pada naskah-naskah sejarah (babad) di tanah Jawa. Asal usul penguasa dan raja Jawa kerap dikaitkan dengan nama-nama dalam Mahabarata. Epos Mahabarata dan Ramayana menjadi hypogram, latar belakang yang mempengaruhi nalar penulis pada periode berikutnya, pada saat para pujangga itu mulai menulis babad. Karya sastra kerap mendapat gagasan dari interaksi dan serapan dengan teks-teks lain secara sadar ataupun tidak sadar. Michael Riffaterre sebagaimana dikutip Istanti (2007:8) mendefinisikan hypogram sebagai karya sastra yang menjadi latar penciptaan. Pengaruh dari hypogram bukan berarti keberpihakan.

Argumen kedua, RAH sadar ruang kekuasaan negeri-negeri saat itu, siapa yang sesungguhnya sedang berkuasa di Riau dan kerajaan sekitarnya (Hudjolly,2010, www.Rajaalihaji.com). Ketegangan  sebelum perang Teluk Ketapang pasti telah nampak pada beberapa tahun sebelum perang itu meletus, saat ketika RAH masih hidup dan mungkin pula pada saat ia sedang mengakhiri penulisan Tuhfat. Ketegangan politis semacam itu secara psikologis mengendap dalam kesadaran RAH (nerbula). Namun kenapa sepanjang Tuhfat al Nafis hampir tidak menyebut Holanda sebagai ancaman terhadap negeri-negeri Melayu, padahal beberapa cerita perang melawan Holanda dikisahkan pula. Melalui nerbula itulah, RAH menjaga konfrontasi terbuka secara langsung terhadap Holanda, maka ia menggunakan simbolisasi ‘etnik’ yakni memasukan Holanda dalam kategori “etnik” yang sedang bersaing di daerah Riau dan sekitarnya. Sebutan “etnik” Holanda disetarakan dengan etnik lain seperti Bugis, padahal dengan kapasitas pengetahuan RAH, ia sadar Holanda adalah sebuah negeri besar yang berbeda dengan orang Bugis, orang Keling atau orang Lanun. Bisa jadi cara tersebut digunakan untuk mengecilkan kebesaran Belanda untuk mengobarkan keberanian perlawanan rakyat.

Strategi simbolisasi ‘etnik’ itu semakin terlihat manakala secara perlahan etnik Bugis diangkat dari wacana konflik dengan etnik Melayu dengan cara mengisahkan sumpah setia Bugis-Melayu pada satu kisah tersendiri dalam Tuhfat (Raja Ali Haji, 2002: 226-228). Setelah bab sumpah setia itu, ritme perlintasan politik Tuhfat al Nafis lebih mengisahkan dinamika internal kerajaan-kerajaan lokal dan melukiskan secara simbolik bagaimana ‘campur tangan’ Holanda dalam setiap penyelesaian masalah kerajaan. Melalui Tuhfat RAH mengabarkan adanya ketidakmerdekaan negeri-negeri Riau.

RAH tidak menyebut terus terang ‘campur tangan’ melainkan dengan selalu menceritakan kehadiran petinggi-petinggi perang Holanda dalam satu lantai balairung bersama raja-raja yang akan ditabalkan. Holanda dan Inggris dalam Tuhfat al Nafis sama sekali tidak digambarkan sebagai komprador, tidak ada emosi tulis yang ditampakkan RAH terhadap pengaruh Belanda di tanah Melayu. Emosi pemberontakan itu diwujudkan dalam simbol ‘persaingan etnik’ atau interaksi antara raja-utusan Belanda. Inilah pandangan dunia (worldview) penulis yang ditransformasikan dalam bentuk simbol dan wacana. Hal semacam ini merupakan sesuatu yang mungkin dilakukan dalam teori sastra (Abdul Hadi 2002: 149). Wacana yang ditawarkan dalam Tuhfat adalah pemberontakan terhadap dominasi Belanda yang memenangkan ‘persaingan etnik’. Peran penting Belanda dalam urusan-urusan kerajaan dimaksudkan untuk menggugah nerbula kolektif orang Melayu saat itu agar menyadari betapa puak kerajaan Melayu mulai runtuh dan tidak lagi merdeka penuh. Mengingat latar belakang keluarga dan pendidikan kala itu, adalah suatu kemustahilan jika RAH justru bersikap lunak terhadap Belanda.

Tetapi, perlu dicermati pula bagaimana prinsip ‘prasangka Bugisme’ itu dijadikan dasar penarikan kesimpulan oleh Putten. Prasangka Bugisme antara lain dilandasi keterkaitan genetis bahwa RAH memiliki galur nama bin Opu Daeng Celak. Opu Daeng Celak digambarkan RAH sebagai seorang anak Raja Bugis yang baik parasnya dan kawin dengan saudara Sultan Sulaiman (Raja Ali Haji, 2002:62). Bagaimanakah prasangka lain yang mungkin digunakan oleh Putten?

Prasangka ialah suatu sikap negatif terhadap suatu kelompok yang dimengerti secara sosial  terhadap orang yang diasosiasikan sebagai anggota kelompok tersebut. Ada empat type prasangka: prasangka merupakan suatu fenomena antar kelompok, prasangka berbasis suatu orientasi negatif, prasangka ialah sesuatu yang buruk, dan terakhir prasangka ialah suatu sikap pengamatan (Ashmore, 1970). Prasangka juga dapat diartikan sikap tertentu dari sesuatu kelompok eksklusif, seperti kelompok agama dan etnik (Baron and Byrne, 1982). Dari definisi prasangka di atas, laporan Putten memasukkan ‘prasangka RAH‘ sebagai kategori prasangka negatif, dengan alasan: terdapat sejumlah pencitraan negatif yang ditulis RAH dalam Tuhfat al Nafis tentang asal usul raja Melayu dari garis Siak dan Minang[ii]. Namun perlu diingat, RAH selalu menyebutkan bahwa kisah-kisah tersebut masih samar.

C. Simbolisme Pemberontakan

Secara tekstual, tidak ditemukan nafas pemberontakan kepada Holanda dalam Tuhfat al Nafis. Untuk menemukan spirit pemberontakan RAH digunakan perangkat hermeneutika dan semiotika simbol etnik. Etnik yang muncul dalam Tuhfat dijadikan simbol yang menandakan perseteruan sejumlah negara. Jika menyebut secara vulgar, Holanda merebut tanah-tanah Melayu, peran RAH akan semakin sempit dan tidak lagi strategis, atau mungkin langsung diberangus. Misalnya peristiwa di tahun 1822, “Force by Dutch representatives... making possible the installation of Sultan Abd al-Rahman as ruler of Riau-Lingga the following year (Watson 1986)”. Saat peristiwa ini terjadi, diperkirakan, RAH telah berusia sekitar 14 tahun, ia telah cukup sadar untuk melihat kondisi tersebut.

Dengan memahami keadaan politik pada masa karya itu ditulis, ada peluang bagi kita untuk memahami dan menafsirkannya lebih mendalam (Abdul Hadi, 2002:150). Kekuasaan Melayu, Riau yang semakin kalah pamor tidak dibicarakan secara langsung. Proses semacam ini setara dengan model pantun sindiran, yang biasanya pada sampiran berisi pengantar kata yang datar. Emosi dan kebencian tidak dibuka secara vulgar dalam sastra Melayu. Demikian pula kecenderungan (rasa suka dan keberpihakan) pada sesuatu juga tidak dilakukan secara terang-terangan, termasuk jenis-jenis , agitasi. Sedangkan adanya pujian dan ‘pencitraan baik’ terhadap orang Bugis merupakan pengaruh hypogram La Galigo ke Tuhfat.

Apabila pemikiran eurosentris sebagaimana disampaikan Matheson Hooker (1975:34) bahwa pada awalnya Tuhfat disusun oleh Raja Ahmad (ayah RAH), maka awal permulaan Tuhfat yang menceritakan kisah lima Upu Daeng itu ditulis oleh Raja Ahmad dan bukan oleh RAH. Secara esensial Putten dan Matheson sedikit berseberangan (komparasi pemikiran kedua peneliti terhadap RAH mesti dilakukan secara komperhensif ). Selain itu, Matheson juga menyebut penulisan Tuhfat selesai di tahun 1860 (Oman Faturahman, 2008 dalam www.Rajaalihaji.com), sedangkan penyalinan Tuhfat al Nafis yang dilakukan oleh Richard Owel Winstedt dan dialihaksarakan Yayasan Khazanah Melayu (2002) memasukan masa tahun 1864. Memang disebut dalam penelitian Matheson (1991), bahwa naskah Winsedt merupakan naskah C, sebab ada 2 naskah Tuhfat al Nafis lain. Tetapi perbedaan ini tidak menyebabkan adanya perbedaan sudut pandang mengenai keberpihakan RAH kepada Bugis.

Penggunaan simbol dalam karya sastra hampir serupa dengan pemakaian metafor. Dari segi tertentu, dapatlah pula dikatakan bahwa pemakaian kata ‘etnik’ itu bukan simbol melainkan metafor. Penyamaan ini tentu saja hanya untuk menyebut adanya suatu prinsip non tekstual dalam Tuhfat. Karena simbol dan metafor sejatinya merupakan dua hal yang berbeda. Simbol merupakan salah satu bahasa enkripsi yang dipakai dalam produk kebudayaan (termasuk sastra). Semua produk kebudayaan modern atau kuno memakai sarana simbol (Hudjolly,2010:11).

Sangat boleh jadi, jika secara hermeneutis, Karya Tuhfat itu ditulis dalam rangka menunjukkan pudarnya kekuasaan Riau-Lingga pasca kedatangan Holanda. Interaksi dengan Belanda dan peran-peran yang dimainkan Belanda di kerajaan ini nampak sekali dalam Tuhfat, terutama naskah Winstedt yang ditulis ulang dengan sistem kodifikasi bab. Misalnya kisah pemakzulan Sultan Muzafar Syah oleh Belanda dan digantikan oleh Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah. RAH lebih suka mengisahkan riwayat Sultan Muzafar, pergolakan pasca pemakzulan hingga akhir hayat Sultan Muzafar.

Dalam penulisan sejarah, worldview dan kepentingan si penulis akan membedakan jenis narasi dan pemilihan data-data sejarah yang akan dirangkai si penulis. RAH memahami benar bagaimana ia memilih data sejarah, ikon, simbol dan mengemasnya lalu menggunakan penulisan sejarah untuk suatu tujuan nalar pemberontakan: mengabarkan keterancaman kerajaan Melayu-Riau di bawah kekuasaan Holanda. (Hudjolly/art/ 09.11.2010)

Hudjolly, Editor www.Rajaalihaji.com

Sumber Foto: http://rajaalihaji.com

Daftar Pustaka

Abdul Hadi WM,2002. “Ta’wil Sebagai Asas Teori Sastra Dan Bentuk Hermeneutika Islam” Jurnal Universitas Paramadina, Vol. 1 No. 2, Januari 2002: 148-171

Ahmad Badrun, “Gurindam Dua Belas: Sebuah Pertemuan dengan Raja Ali Haji” dalam Sejarah Perjuangan Raja Ali Haji sebagai Bapak Bahasa Indonesia, halaman 405-435. Pemerintah Kota Tanjungpinang, Provinsi Riau dan UNRI Press.

Ashmore, R. D. 1970. The problem of intergroup prejudice. Dalam B. E. Collins (Ed.),

Baron, R. A., and Byrne, D. 1982. Exploring social psychology (Edisi ke-2). Boston: Allyn & Bacon.

Berry, B. 1965. Race and ethnic relations. Boston: Houghton.

Hasan Junus, 2002. Raja Haji Fisabilillah, Hannibal dari Riau. Pekanbaru, Yayasan Pustaka Riau.

Hudjolly. 2010.  Nalar dan Tradisi. Yogyakarta. re-kreasi.

Hendrik MJ, Maier. 2001. Raja Ali Haji dan Hang Tuah: Arloji dan Mufassar, Jurnal J- Sari(2001) page 178 159.

Istanti, Kun Zachrun. 2007. “Wujud Kearifan Lokal Teks Amir Hamzah Nusantara” dalam Jurnal Ibda‘ |Vol. 5 | No. 1 | Jan-Jun 2007 |5-26.

Jan van der Putten. 2001. “A Malay of Bugis Ancestry: Haji Ibrahim’s Strategies of Survival” .  Journal of Southeast Asian Studies, 32 (3). Printed in the United Kingdom, The National University of Singapore.

Putten,  Van der Putten and Al Azhar, (ed). 1997. Di dalam Berkekalan Persahabatan. ‘In Everlasting Friendship.’ Letters from Raja Ali Haji. Leiden: Department of Languages and Cultures of Southeast Asia and Oceania, University of Leiden. Terj. Surat-surat Raja Ali Haji Kepada Von de Wall, Jakarta. KPG (2007).

Matheson Hooker, Virginia. 1986. “Strategies of Survival: The Malay Royal Line of Lingga-Riau”. Journal       of Southeast Asian Studies 17(1).

___________. 1991.(ed). Tuhfat al- Nafis: Sejarah Melayu- Islam. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

Raja Ali Haji.2002. Tuhfat al Nafis. Yayasan Khazanah Melayu. Riau

Watson, and Virginia Matheson Hooker. 1979. Islamic Thought and Malay Tradition: The Writings of Raja Ali Haji of Riau.

www.Rajaalihaji.com  

http://www.kompas.com



 

[i] Lihat karya Dr. Ahmad Badrun  “Gurindam Dua Belas: Sebuah Pertemuan dengan Raja Ali Haji” dalam buku Sejarah Perjuangan Raja Ali Haji sebagai Bapak Bahasa Indonesia, halaman 405-435, yang diterbitkan atas kerjasama antara Pemerintah Kota Tanjungpinang, Provinsi Riau dan UNRI Press. (dalam http://rajaalihaji.com). Kemungkinan , teori yang lebh tepat dipakai dalam analisis Badrun adalah Semantik, bukan semiotics.

[ii] Silsilah raja Melayu dari kerajaan Siak dan Raja Kecil dimulai dari cerita peristiwa meninggalnya Yang Dipertuan Raja Kecik dalam keadaan birahi dan menimbulkan masalah di istana sehingga tidak bisa dimakamkan sebelum birahi raja dituntaskan. Versi lain menyebut, raja tersebut justru berahi terhadap peri. Kematian Raja Kecik juga dilukiskan secara tragis ditikam oleh Megat Sri Rama yang juga digambarkan merobek perut isteri bendahara kerajaan dan mengambil bayi dalam perut tersebut. Kisah ini menimbulkan serangkaian pembunuhan berantai dan pemberontakan dari bendahara Kerajaan.(Raja Ali Haji, 2002:13)

 
Dibaca 3.640 kali

Sila Tulis Komentar Anda Disini !