Versi Indonesia
English version
Pengunjung Online : 67
Hari ini :565
Kemarin :1.049
Minggu kemarin:7.388
Bulan kemarin:33.321

Anda pengunjung ke 2.095.751
Sejak 11 Rabi'ul Awal 1429
( 19 Maret 2008 )


Pengunjung Baru ?
   |   


www.melayuonline.com www.wisatamelayu.com www.rajaalihaji.com www.tengkuamirhamzah.com www.ceritarakyatnusantara.com www.adicita.com www.maharatu.com www.jogjatrip.com www.kerajaannusantara.com www.infokorupsi.com www.indonesiawonder.com
Isnain, 19 Jumadil Akhir 1435 (Minggu, 20 April 2014)
 
11 April 2008 06:05
Subyektifitas Raja Ali Haji dalam Penulisan Sejarah Melayu Dalam kitabTuhfat Al Nafis
Subyektifitas Raja Ali Haji dalam Penulisan Sejarah Melayu Dalam kitabTuhfat Al Nafis
Oleh: Ilham Yusardi

Pendahuluan: Pendekatan Filologi pada Tuhfat al-Nafis

Tuhfat al-Nafis merupakan kitab yang memaparkan silsilah dan sejarah Melayu karya almarhum Raja Ali Haji Riau. Namun Berdasarkan sebagian pendapat para sejarahwan, nama Raja Ali Haji memang mengemuka sebagai penulis teks Tuhfat al-Nafis. Namun demikian, terdapat juga pendapat yang mengatakan teks ini merupakan sebuah teks yang dikarang bersama (kompilasi) antara Raja Ali Haji dengan ayahnya Raja Ahmad. Lebih lanjut perihal kompilasi penulisan ini dapat kita lihat pada argumen Virgina Matheson Hooker dalam bagian pendahuluan (pengenalan) pada naskah Tuhfat al-Nafis yang telah dibukukan. Matheson memaparkan bahwa terdapat catatan dalam naskah kepunyaan Sir William Maxwell. Dalam naskah tersebut terdapat catatan yang mengungkapkan bahwa Raja Haji Ahmad, ayah dari Raja Ali Haji memulakan penulisan kitab ini.

Hingga sekarang ini masih ada polemik soal siapa sesungguhnya yang menulis Tuhfat al-Nafis. Matheson lebih meyakini kitab tersebut semula ditulis oleh ayah Raja Ali Haji, yakni Raja Ahmad dan kemudian dilanjutkan oleh Raja Ali Haji (versi panjang). Matheson juga membandingkan dengan buku-buku sejarah sebelum kelahiran Tuhfat al-Nafis seperti, Sejarah Melayu dan Sejarah Siak. Dikaitkan juga sekilas dengan karya Raja Ali Haji yang lain. Matheson juga memberi perspektif pensejarahan dalam Islam, kemudian disebutkan menjadi alas bagi penulisan Tuhfat al-Nafis.

Dengan naskah Tuhfat Al Nafis kita bisa melihat kemampuan pengarang dalam menyusun teks. Penulis ini cukup memahami struktur bahasa dan tata penulisan yang lebih teratur dari teks lain yang sezaman dengannya. Hal ini dapat dilihat dari segi penggunaan sumber dan pemberian tarikh atau jangka waktu suatu peristiwa yang diceritakan. Menurut sebagian sejarahwan dan filolog, disinilah keistimewaan Tuhfat Al Nafis. Namun anehnya, tidak ada tarikh yang pasti mengenai kapan teks ini ditulis. Berdasarkan pendapat mayoritas, teks ini dikarang sekitar penghujung abad ke-18 hingga pertengahan abad ke-19.

Buku yang kita hadapi sekarang ini merupakan translitasi dari aksara Arab-Melayu (Jawi) menjadi aksara latin. Pada edisi ini, Virginia Matheson dalam mengeditori buku ini menggunakan ejaan baru Malaysia dari bahasa Melayu dan bahasa Arab. Matheson mentranskripsi dan translitasi dari naskah yang dimiliki oleh Van Haselt, yang telah diserahkan kepada Koninklijk instituut voor Taal, Landen Volkenden di Leiden. Buku ini yang berisi Teks Tuhfat al-Nafis ini diterbitkan oleh penerbit Fajar Bakti sdn. Bhd., pada tahun 1982 dengan nomor ISBN 0 19 583142 X., dengan percetakan oleh Sun U Book. Co. Sdn. Bhd., Kuala Lumpur.

Sebelumnya juga terdapat buku yang memuat teks Tuhfat al-Nafis yang dialih aksarakan ke dalam huruf Latin oleh Inche Munir dan diterbitkan Malaysia Publication LTD, Singapura, 1965. Buku tersebut diterbitkan oleh Journal of The Malayan Branch, Royal Asiatic Society, dalam tulisan Arab-Melayu tahun 1932. ditulis Raja Ali Haji tahun 1865 (Hasan Junus, 2002).

Virginia Matheson menemukan empat manuskrip tuhfat. Empat naskah itu digolongkannya menjadi dua jenis, ada versi yang lebih panjang dan ada pula versi yang lebih pendek. Versi yang lebih pendek memuat kurang lebih 88.000 kata. Sedangkan versi yang terpanjang memuat lebih kurang 126.000 kata. Pada intinya, tidak terdapat perbedaan isi, namun pada Tuhfat yang lebih panjang itu kata-kata lebih lirik dan berbunga-bunga, banyak pengulangan, lebih banyak menggunakan sebutan yang panjang untuk gelar kehormatan, bahasa klise sastra, dan lebih banyak petikan bahasa arabnya (Mathesson, ed. 1982: hal.XX).

Sedangkan versi yang lebih pendek ditulis dalam tahun 1896 sebagai hadiah kenangan-kenangan kepada A.L Van Haselt, residen Belanda di Riau. Naskah yang lebih pendek ini disalin dari teks yang disimpan oleh Yang Dipertuan Muda Riau. Pada Tahun 1903, Van Haselt menghadiahkan naskah tersebut kepada Koninklijk Instituut Voor Taal, Landen Volkenden di Leiden.

Yang lebih panjang terdapat dalam tiga manuskrip. Manuskrip panjang pertama dimiliki oleh sir William Maxwel, yang telah disalin untuknya di perak pada tahun 1980. Manuskrip William Maxwell saat ini disimpan di perpustakaan Royal Asiatic Society London.

Naskah versi panjang lainnya baru ditemukan dan diakui sebagai teks Tuhfat pada tahun1971. Naskah ini terdapat di perpustakaan Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia. Teks ini cenderung mendekati teks yang pada naskah Maxwell.
 

Subyektifitas Raja Ali haji

Teks Tuhfat al-Nafis berisi paparan sejarah Melayu dan Bugis yang saling mempengaruhi selama hampir dua abad. Secara teratur memuat asal usul kerajaan Melayu, silsilah Kerajaan Melayu Besar, silsilah Kerajaan Siak, dan silsilah Kerajaan Bugis. Selanjutnya, perbagian memaparkan berbagai peristiwa sejarah dari periode-kepriode secara runut. Dengan demikian kita dapat membayangkan peralihan kekuasan pada kerajan Melayu Besar dan kerajaan kecil yang berada dibawah panji Kerajaan Melayu. Selain itu terlihat interkasi hubungan kekerabatan dan polemik politik, perebutan daerah dan kekuasan antara pembesar-pembesar dan pewaris turun-temurun hingga kehadiran bangsa Eropa ke negeri Melayu.

Menelaah dan mempertimbangkan pandangan beberapa pendapat budayawan dan serajawan Melayu, pandangan Raja Ali dalam kitab Tuhfat al-Nafis cenderung Bugis sentris. Jika dilihat dari latar belakang Raja Ali Haji, secara tak langsung tersirat dan dapat menjawabnya eksistensi Raja Ali Haji sebagai penulis. Raja ali Haji merupakan keturunan dan pewaris patriakat dari kerajaan Melayu. Dalam dirinya mengalir darah Bugis yang kuat. Selain karena faktor keturunan yang mempengaruhi Raja Ali Haji lebih pro-Bugis, faktor latar belakang hidupnya juga banyak mempengaruhinya. Beliau dibesarkan di Istana Riau, pernah menjabat beberapa jabatan penting kerajaan, seperti: sebagai penasihat raja-raja Riau, menjadi ahli undang-undang, guru agama dan hakim di Riau. Oleh karana itu, berdasarkan latar belakang keturunan dan kehidupan Raja Ali Haji seperti yang telah dipaparkan, jelaslah menunjukkan beliau mempunyai hubungan atau pertalian darah yang kuat dengan Opung Bugis lima bersaudara dan yang dikaitkan dengan keturunan Raja Bugis.

Sebaliknya, pada bagian tertentu dalam Tuhfat al-Nafis terdapat gamabaran yang negatif atau yang tidak baik kepada musuh-musuh kaum Bugis terutamanya Raja Kecik kaum Minangkabau serta juga kaum Melayu sendiri. Ini dapat diperjelaskan dengan melihat peristiwa atau episode-episode tertentu yang diceritakan. Misalanya, pada bagian Perihal pertikaian Raja Kecik dan Opung Bugis Lima bersaudara. Pada awal teks kita dapat menagkap keberpihakan Raja Ali Haji pada kaum Bugis. Ini dapat dibuktikan dengan caranya mengungkapkan hal-hal yang berkaitan dengan Raja Kecik dan Opung Bugis Lima Bersaudara. Seperti yang diketahui umum, Raja Kecik merupakan musuh utama kepada Opung Bugis Lima Bersaudara. Sepertinya, Raja Ali Haji selalu memberikan citra karakter dan watak yang negatif kepada Raja Kecik. Seperti pada bagian asal usul ibu-bapak dan silsilah Raja Kecik.

“Adalah Encik Pong itu dipakai memang oleh baginda itu, telah bunting memeng, konon. Waktu baginda mangkat, orang-orang tengah bergadukan hal baginda itu. Maka encik Pong dilarikan oleh Panglima Bebas,dibawahnya ke Pagar Ruyung, kepada puteri Janilan, lalu encik Pong beranak disitu, iaitu laki-laki….”

Jika dilihat secara sepintas lalu, petikan di atas menyiratkan kesan negatif kepada Raja Kecik. Maka bisa kita tangkap subyektifitas dari penulis. Raja Ali Haji mencoba memberi gambaran asal-usul Raja Kecik dalam situasi kesan negatif.

Pada bagian kisah silsilah Raja Kecik yang beribu Encik Pong, digambarkan sebagai berikut:

“Tatkala baginda mangkat, Zakarnya berdiri. Maka tidak ada orang yang berani menanam Baginda itu. Maka mesyuratlah segala menteri apa sebab pekerjaan itu, sangat ajaib. Maka kata daripada isi istana:adalah baginda tengah berahikan Encik Pong itu, maka baginda itu pun mangkat. Maka takbir segala menterinya (yang) baginda itu takut tiada meninggalkan anak cucu yang bangsa daripadanya.Maka disuruhnya orang besar-besar itu akan Encik Pong itu setubuh dengan baginda itu konon, pada ketika itu. Maka apabila selesai baharulah rebah zakar baginda itu. Maka encik Pong pun buntinglah konon”.

Dalam masa yang sama, Kecenderungan Raja Ali Haji dapat dilihat dengan jelas, ketika beliau menceritakan latar belakang Opung-Opung Bugis Lima Bersaudara. Keadaan ini sebenarnya adalah bertujuan utuk memberi gambaran kepada para pembaca bahwa Opung-Opung Bugis tersebut merupakan keturunan yang baik-baik dan berjiwa kesatria berbanding terbalik dengan citra yang dimunculkan pada Raja Kecik. Dengan cara ini membuat pembaca setidaknya akan memeberi persepsi yang positif kepada kaum Bugis. Citra baik pada sekalian Opung Bugis dalam Tuhfat al-Nafis cukup kuat, contohnya:

“Adalah puteranya (Tendari Burung Daeng Ralaka) yang lima orang itu baik-baik belaka parasnya, serta dengan sikap pahlawannya. Akan tetapi Upu Daeng Celak yang tersangat baik parasnya, memberi ghairah hati perempuan-perempuan memandangnya…”

Pada bagian lain, dalam menceritakan peristiwa berkenaan perjanjian antara Bugis dengan Minangkabau untuk menyerang Johor-Riau, Raja Ali Haji juga telah memberi satu kesan atau gambaran yang berpihak kepada kaum Bugis. Jika kita membaca tentang kerajaan Siak di bagian manapun, Raja Ali Haji seolah selalu menunjukkan bahwa pihak Raja Keciklah yang bersalah dalam setiap peristiwa. Raja Ali Haji mengatakan (berdasarkan teks), Raja Keciklah yang sebenarnya telah berjumpa dengan Opung-Opung Bugis Lima bersaudara dan meminta bantuan pada Opung-Opung Bugis untuk menyerang Johor. Akan tetapi, pihak Bugis telah menolak tawaran Raja Kecik.

“Syahdan di dalam tengah-tengah bersiap akan alat peperangan itu maka Opu-Opu Bugis yang berlima beradaik itu pun tibalah ke Bengkalis datang daripada mengembara. Maka berjumpalah ia dengan Raja Kecil. Maka Raja Kecil pun mengajaklah ia melanggar negeri Johor…Maka tiada ia mahu. Maka didalihkannya hendak ke Langat dahulu, mencari muafakat dengan Bugis yang di Langat itu. Maka tiadalah jadi Bantu membantu itu.”

Dalam melukiskan pertikaian politik diceritakan bahwa pihak Bugis dengan sukarela dan berpihak pada keluarga Sultan Sulaiman yang dizalimi oleh Raja Kecik. Oleh sebab itu, Opung-Opung sudi membantu Johor mengembalikan wilayah kekuasan Johor-Riau untuk mengalahkan Raja Kecik.

“Maka Menjawablah Opu Dahing Parani, ‘ seperti saya semua adik-beradik sama saja yang patut kepada hati baginda Sultan Sulaiman saya terimalah, akan tetapi yang saya seorang, tiada saya mahu jadi raja kerana saya ini yang tua sekali, tiada lain hanyalah mencari ketetapan saudara saya yang berempat ini.‘ Maka menjawab pula Opu Dahing Menambu, ‘saya ini tiada sanggup menjadi Yang Dipertua Muda di tanah barat ini. Kerana saya sudah berjanji dengan Sultan Mantan akan memelihara akan negeri Mempawa, tiadalah saya mahu mengecilkan hati mertua saya itu.‘ Maka menjawablah Dahing Celak, ‘Saya ini selagi ada abang saya ini, iaitu Kelana Jaya Putera, tiada saya mahu menjadi Yang Dipertua Muda.‘ Maka menjawablah Opu Dahing Kemasi , ‘adapun saya ini tiada berhajat manjadi Yang Dipertua Muda di tanah barat kerana jauh amat dengan Bugis, bersalahan jikalau seperti di Manatan dan Sambas itu mana kemuafakatan abang-abang sayalah.‘ Menjawab pula Kelana Jaya Putera, ‘Adapun saya jikalau bercerai dengan saudara-saudara saya, tiada saya mau menjawab Yang Dipertua Muda di tanah barat ini.‘ Demikianlah kata sekalian Opu-opu Bugis itu.”

Dengan melihat petikan di atas, Raja Ali Haji berupaya menghadirkan citra yang baik kepada Opung-opung Bugis Lima Bersaudara pada kedatangan mereka ke Johor. Lantaran itu, tidak heran jika Raja Ali Haji mengarang satu bentuk petikan yang menunjukkan bahwa Opung-Opung Bugis Lima Bersaudara tidak berniat berkuasa di tanah Melayu, hanya untuk bertuan dan mempersembahkan diri pada Sultan Sulaiman. Pada bagian lain terdapat penekanan eksistensi kaum Bugis di tanah melayu seperti bagian berikut

 “….Berjanji raja Sulaiman dengan Opu-Opu itu, salah satu Opu-Opu itu menjadi Yang Dipertuan  Muda turun-tumurun.

Perjanjian ini sebenarnya adalah perjanjian yang dibuat atas permintaan Opu Bugis tersebut. Justeru, disinilah jelas keberpihakan yang nyata Raja Ali Haji, dengan memutar balikkan fakta yang dibuat oleh Opung Bugis itu sendiri.

Bagi merendah-rendahkan lagi pihak Raja Kecil dan Minangkabau, Raja Ali Haji begitu sering dan berulang kali kesan itu ditekankan.

“Syahdan, itulah kata Raja Kecil, Hai sayangnya Isteri Yang Dipertuan Muda itu dibunuh, jikalau tiada dibunuhnya aku ambil, aku buat bini kerana termasyhur isteri Raja Muda itu baik rupanya, tiadalah bandingnya di dalam Johor ini..”

Kemudian juga terlihat pada peristiwa Raja Kecil Memperolehi kembali Isterinya, Tengku Kamariah. dalam episode ini, Raja Ali Haji terus memberi gambaran yang buruk kepada pihak musuh Opung Bugis terutama Raja Kecik. Dalam peristiwa ini, Raja Ali Haji menempatkan Raja Kecik sebagai tukang ingkar janji yang berakhir dengan riwayat yang tragis.

“Maka raja Kecil pun sudah berubah akalnya maka apabila sudah hilang Tengku Kamariah itu, maka Raja Kecil pun selalunya gila sekali, lalu ia tidur di kubur isterinya …Maka Raja Kecil pun jatuhlah sakit sangat di dalam gilanya itu, Maka tiada berapa lamanya mangkatlah, innalilahi wa inna ilahi rajiun.”

Tuhfat al-Nafis memang sebuah narasi sejarah kerajaan Melayu. Namun alangkah baiknya kita tidak sekonyong-konyongnya meyakini kesahihan sejarahnya. Membaca dan memahaminya perlu dibersihkan dari subjektifitas dan pandangan Raja Ali haji. Keberpihakan Raja Ali Haji pada Suku Bugis dalam Tuhfat al-Navis perlu menjadi perhatian bagi kita dan generasi selanjutnya dalam membaca dan memahami teks sejarah dalam Tuhfat al-Nafis, maupun teks sejarah lainnya.

Seyogyanya segala peristiwa sejarah harus ditulis objektif, jauh dari prasangka dan penggiringan penulis pada sebuah persepsi. Namun seperti ungkapan klise, bahwa catatan kesejarahan dapat disesuaikan dengan keinginan penguasa, sehingga dapat dijadikan sebagai alat pelanggeng kekuasaan. Sebutlah, contoh dari zaman dari masa yang belum jauh lampau di negara kita, tatkala penguasa Orde Baru menutupi berbagai kontroversi sejarah kemunculan penguasa Orba sebagai penguasa politik dan kebijakan. Pencitraan positif “program pembangunan”. Kemudian timbal-balik pemberian citra negatif pada Orde Lama pimpinan Soekarno. Alangkah baiknya kita terus menggali catatan kesejarahan bangsa kita dari berbagi sumber dan sudut pandang.

 -----------------ooOoo--------------

Bahan Bacaan

  • Haji, Raja Ali, dan Raja Haji Ahmad (Virginia Matheson, ed). 1982. Tuhfat Al Nafis. Malaysia: Fajar Bakti sdn. Bhd.
  • Jamil, Taufik Ikram. 2005. “Penggalan Kepala untuk Sultan Melayu: Membolak-Balik Tuhfat al-Nafis”. Pekanbaru: Koran Riau Pos.

 

Sumber : ilham-yusardi.blogspot.com

Dibaca 4.092 kali

Sila Tulis Komentar Anda Disini !



Artikel terkait