Versi Indonesia
English version
Pengunjung Online : 0
Hari ini :162
Kemarin :788
Minggu kemarin:6.118
Bulan kemarin:41.661

Anda pengunjung ke 4.724.388
Sejak 11 Rabi'ul Awal 1429
( 19 Maret 2008 )


Pengunjung Baru ?
   |   


www.melayuonline.com www.wisatamelayu.com www.rajaalihaji.com www.tengkuamirhamzah.com www.ceritarakyatnusantara.com www.adicita.com www.maharatu.com www.jogjatrip.com www.kerajaannusantara.com www.infokorupsi.com www.indonesiawonder.com
Isnain, 11 Safar 1443 (Minggu, 19 September 2021)
 
22 Maret 2008 04:11
Raja Ali Haji dan Bahasa Indonesia
Raja Ali Haji dan Bahasa Indonesia


Oleh: Oman Fathurahman dan Jajat Burhanudin 

Pengantar

Barangkali tidak berlebihan jika kebangkitan intelektual Indonesia pada penghujung abad ke-19 dialamatkan antara lain pada Raja Ali Haji (± 1809-1872). Dia adalah seorang elit politik kerajaan Riau-Lingga yang telah berjasa besar dalam perkembangan intelektual di bumi Indonesia. Karya Raja Ali Haji tidak hanya terbatas pada Gurindam Dua Belas, sebagaimana umumnya dikenal di Indonesia, tapi juga meliputi bidang-bidang lain, baik menyangkut aspek keislaman maupun sejarah dan budaya Melayu, di samping sastra dan bahasa Melayu (Palawa, 2003: 108).

Tuhfat al-Nafis adalah salah satu karya besar Raja Ali Haji di bidang sejarah, yang dikarang bersama orang tuanya, Raja Ahmad (Matheson, 1997: 35-45). Karya ini bahkan melampaui nilainya sebagai karya sejarah. Ia juga memuat argumen teologis dan etik untuk menjelaskan masa lalu dunia Melayu (Andaya dan Matheson, 1979: 117). Sementara itu, di bidang politik dan tata negara, Raja Ali Haji secara khusus menulis Muqaddimah fa al-Tsamarat al-Muhimmah. Dua karya ini berisi nasehat Raja Ali Haji terhadap perilaku politik para raja-raja Melayu. Di samping itu, Raja Ali Haji juga menulis beberapa karya di bidang hukum, antara lain Syair Hukum Nikah, yang berisi nasehat tentang perkawinan bagi kaum lelaki, dan Syair Siti Sihana, yang berisi pesan kepada kaum wanita berkaitan dengan aturan dalam rumah tangga dan berbakti kepada suami (Palawa, 2003: 108-9).

Tulisan ini akan mengkaji satu aspek dari pemikiran dan kontribusi Raja Ali Haji di bidang bahasa Melayu, yang menjadi cikal bakal bahasa Indonesia sekarang ini. Bahasa Melayu memang menjadi salah satu bidang garap utama Raja Ali Haji. Suasana kerajaan Riau Linga yang tengah mengalami proses "restorasi" (Burhanudin, 2002: 164-7) --yang terjadi menyusul fragmentasi ideologi politik akibat desakan kolonialisme (Milner, 1996)-- telah mendorong Raja Ali Haji untuk secara intens terlibat dalam usaha pelestarian dan pengembangan bahasa Melayu. Hal ini memang seiring dengan tampilnya pulau Penyengat sebagai pusat kegiatan intelektual dan budaya Melayu kerajaan Riau-Lingga pada akhir abad ke-19 (Matheson, 1991: 6). Di samping itu, kebijakan politik kolonial Belanda yang membatasi kegiatan politik pihak kerajaan juga semakin mendorong sejumah elit kerajaan berkonsentrasi pada kegiatan intelektual untuk pengembangan budaya Melayu.

Menyangkut bidang bahasa Melayu, Raja Ali Haji menulis setidaknya tiga karya. Ketiganya adalah Gurindam Dua Belas, dikarang pada tahun 1847, Bustan al-Katibin dan Kitab Pengetahuan Bahasa pada 1851 (Matheson, 1991: 55). Namun demikian, pembahasan tulisan ini akan difokuskan pada Kitab Pengetahuan Bahasa saja. Dibanding dua karya yang disebut pertama di atas, Kitab Pengetahuan Bahasa merupakan wujud kontribusi penting Raja Ali Haji untuk bidang bahasa. Dalam dua karyanya yang disebut pertama --Gurindam Dua Belas dan Bustan al-Katibin-- Raja Ali Haji lebih terfokus pada upaya mengetengahkan keprihatinan dan menggagas upaya awal untuk memperbaiki beberapa konsep dan tata bahasa Melayu. Dalam Kitab Pengetahuan Bahasa, sebagaimana tampak dalam judulnya, ia secara tegas menghadirkan satu karya yang dirancang untuk menjadi rujukan utama dalam bahasa Melayu.

Satu hal penting yang perlu digarisbawahi adalah perhatian Raja Ali Haji terhadap bahasa Melayu harus dilihat sebagai bagian dari upayanya yang besar untuk kebangkitan kembali budaya Melayu, atau sebagai "restorasi kerajaan Melayu". Baginya, bahasa memiliki pesan sangat penting dalam strategi pengembangan budaya dan masyarakat Melayu. Dalam Bustan al-Kitabin, misalnya, Raja Ali Haji menekankan bahwa bahasa, "kalam", bisa berfungsi sebagai bentuk perjuangan kultural yang hendak diwujudkan di dunia Melayu, sebagai "segala pekerjaan pedang" (Hamidy, 1998: 24). Oleh karena itu, sebelum membahas secara rinci tentang kontribusi Raja Ali Haji dalam bidang bahasa, satu penjelasan umum, tentang perannya dalam pengembangan budaya Melayu secara umum penting diberikan.

Restorasi Budaya Melayu: Latar Intelektual Raja Ali Haji

Sebagai seorang elit kerajaan, pemikiran-pemikiran Raja Ali Haji lebih banyak berkisar pada upaya restorasi kerajaan dan tradisi Melayu. la sejak kecil telah menyaksikan persoalan-persoalan politik dan ekonomi yang melanda kerajaan, di samping perubahan-perubahan mandasar di dunia Melayu menyusul hadirnya kekuatan baru kolonial. Konflik berkepanjangan antara Sultan Melayu dengan Yang Dipertuan Muda Bugis --dualisme kekuasaan di kerajaan Johor antara suku Melayu dengan Bugis-- adalah pengalaman berarti yang kemudian membentuk pemikiran Raja Ali Haji. Selain itu, dia juga menyaksikan kemunduran ekonomi kerajaan, terutama bila dibandingkan dengan Singapura yang semakin berkembang menjadi kota metropolis. Semua faktor tersebut telah mendorong kalangan elit kerajaan untuk berpaling pada masalah sastra dan budaya. Seperti halnya di Jawa pada abad ke-18 (Ricklefs, 1998), perkembangan budaya Melayu di Riau-Lingga berlangsung di tengah kemunduran ekonomi dan politik kerajaan.

Pemikiran-pemikiran Raja Ali Haji tertuang dalam karya-karyanya yang penting, antara lain Tuhfat al-Nafis (Hadiah yang Berharga), Tsamarat al-Muhimmah (Pahala Tugas-Tugas Kenegaraan), dan Intizam Wazaif al-Malik (Peraturan Sistematis tentang Tugas Raja-Raja). Ketiga teks tersebut merupakan karya penting Raja Ali Haji, khususnya menyangkut sejarah dan politik kerajaan Melayu. Dalam Tuhfat al-Nafis, ia menjelaskan secara panjang lebar sejarah kerajaan Melayu, terutama mengenai perilaku politik raja-raja. Sehingga, karya ini juga dinilai memiliki nilai historiografi tinggi, sejajar misalnya dengan teks Sejarah Melayu di abad ke-17. Hal yang paling diperhatikan dalam Tuhfat al-Nafis adalah, selain informasi sejarah kerajaan, ia berisi anjuran moral untuk senantiasa mengambil pelajaran dari masa lalu kerajaan Melayu. Bagi Raja Ali Haji, kebesaran Melayu di masa lalu merupakan contoh yang harus diikuti para penguasa pada masanya, yang dinilai telah menyimpang dari norma-norma Islam.

Tuhfat al-Nafis adalah karya terbesar Raja Ali Haji, yang selesai ditulis pada 1860. Menurut Virginia Matheson, Tuhfat al-Nafis ditulis Raja Ali Haji bersama orang tuanya, Raja Ahmad. Sangat mungkin, Raja Ali Haji memperbaiki dan menyempurnakan teks yang sebelumnya ditulis Raja Ahmad (Matheson, 1997: 45). Ditulis oleh seorang keturunan Bugis, salah satu isu penting dalam Tuhfat al-Nafis adalah rekonsiliasi antara Melayu dan Bugis, yang dilihat sebagai salah satu unsur penting yang menentukan keberadaan kerajaan Melayu. Oleh karena itu, melalui teks tersebut dia berusaha, meski terkadang secara implisit, memberikan justifikasi terhadap keberadaan suku Bugis di kerajaan Melayu Johor, yang memegang posisi dominan di dalam kerajaan. Namun, pada saat yang sama, Tuhfat al-Nafis juga memberi porsi seimbang terhadap peran bangsa Melayu.

Lebih dari itu, melalui Tuhfat serta karya-karyanya yang lain, Raja Ali Haji justru memberikan citra masyarakat Bugis di Melayu sebagai penjaga tradisi besar Melayu yang tengah menghadapi perubahan mendasar di bidang sosial dan budaya. Di tengah suasana Melayu yang memasuki masa modern sejalan dengan kolonialisme, Riau-Lingga justru menjadi benteng pertahan tradisi dan budaya Melayu. Pertumbuhan Singapura menjadi kota metropolis tampaknya memang tidak berpengaruh pada kehidupan tradisional dan agama di Riau-Lingga. Di sinilah Raja Ali Haji tampil sebagai seorang elit kerajaan yang memiliki perhatian besar menjaga keberlangsungan tradisi dan adat-istiadat Melayu. Bahkan, justru di tangan Raja Ali Haji, dari keturunan Bugis, khazanah budaya Melayu hidup kembali. la memang sangat prihatin terhadap kondisi masyarakat Melayu di Johor yang mulai melupakan tradisi dan budaya mereka (Burhanudin, 2002: 165).

Dalam Tuhfat al-Nafis, perhatian Raja Ali Haji ini dinyatakan melalui himbauan moral agar memahami serta mengambil pelajaran dari sejarah. Himbauan ini secara spesifik diarahkan pada alit kerajaan yang berkuasa, di mana ia termasuk di dalamnya, agar melaksanakan kekuasaan mereka berdasarkan nilai dan norma Islam. Dalam konteks ini, Raja Ali Haji memang sangat menghendaki pelaksanaan kembali Islam dalam kehidupan seperti masa sebelumnya, ketika kerajaan Melayu-Johor berada di puncak kejayaan. Oleh karena itu, selain Tuhfat al-Nafis, Raja Ali Haji juga menulis karya lain yang berbicara lebih spesifik mengenai masalah politik, Tsamarat al-Muhimmah dan Intizam Wazaif al-Malik. Bila Tuhfat al-Nafis lebih merupakan karya historiografi Melayu, dua karya tersebut berisi prinsip-prinsip politik yang menjadi pegangan dan sumber petunjuk bagi raja dan elit politik kerajaan.

Dalam Tsamarat al-Muhimmah dan Intizam Wazaif al-Malik, Raja Ali Haji mengedepankan pemikiran kerajaan Melayu, yang dirumuskan berdasarkan pengalaman masa lalu kerajaan sebagaimana digambarkan secara rinci dalam Tuhfat al-Nafis. Tsamarat al-Muhimmah berisi nasehat-nasehat dan petunjuk-petunjuk bagi para penguasa agar mencontoh cerita para penguasa Melayu sebelumnya dalam menjalankan kekuasaan mereka. Hal ini tentu sesuai dengan kapasitas Raja Ali Haji sebagai penasehat agama kerajaan Johor, khususnya masa kekuasaan Yamtuan Muda Raja Ali ibn Raja Ja‘far pada tahun 1845. Ia dalam Tsamarat al-Muhimmah, khususnya pada bab pertama, menegaskan antara lain prasyarat untuk menjadi seorang raja dan elit kekuasaan, seperti beriman, cakap, adil, bijaksana, serta syarat-syarat lain yang menjadi kriteria konsep penguasa ideal. Begitu pula dalam teks tersebut, Raja Ali Haji menekankan pentingnya pelaksanaan ajaran-ajaran Islam dalam kehidupan kerajaan (Tsamarat al-Muhimmah, hal. 7-8).

Bagi Raja Ali Haji, kerajaan tampak merupakan sistem politik yang tepat untuk membangun masyarakat Melayu. Hal ini bisa dilihat bahwa dalam Tsamarat al-Muhimmah ia menekankan pentingnya kedudukan raja dalam pembentukan kehidupan masyarakat. Kutipan berikut ini adalah inti pemikiran Raja Ali Haji tentang raja sebagaimana disarikan Andaya dan Matheson (1979: 103), dalam satu atikelnya tentang pemikiran Raja Ali Haji:

"Raja yang jelek dapat dilihat dari sikapnya yang congkak, iri hati, jahat, serakah, menghambur-hamburkan uang, tidak acuh terhadap soal-soal administrasi, penipu, tidak memiliki humor, dan bersifat menghambat. Semasa pemerintahannya, tiada biaya untuk menghimpun ahli-ahli agama, sekolah-sekolah tidak diadakan, dan pendidikan merana. Rakyatnya bodoh, tidak tahu tata sopan santun, dan amoral; dalam kondisi demikian banyak pencuri, perampok dan perompak. Sebaliknya, seorang raja yang baik, pantang hal-hal keduniawian seperti minum arak, Judi, dan sabung ayam, dan mencurahkan perhatiannya pada pembangunan mesjid, asrama bagi musafir, jembatan, jalan umum, kota, rumah, saluran, kantor polisi. Kesejahteraan mencerminkan sifat-sifat sang raja, karena hanya raja lah yang memiliki kekuasaan untuk menciptakan negara spiritual yang didambakan dan bisa memberikan kesejahteraan materiil. Di bawah pemerintahan raja yang baik, negaranya pun menjadi sejahtera."

Kutipan di atas dengan jelas menunjukkan bahwa raja, menurut Raja Ali Haji, menempati posisi menentukan dalam kehidupan sosial-keagamaan di kerajaan. Ia menjadi satu-satunya sumber kekuatan yang menentukan kehidupan masyarakat. Pribadi dan perilaku sang raja merupakan basis terciptanya jenis masyarakat di wilayah kerajaan yang berada di bawah kontrolnya. Oleh karena itu, pada saat yang sama, Raja Ali Haji sangat menekankan pentingnya ajaran Islam dalam kehidupan kerajaan, khususnva dalam praktek-praktek politik raja; Islam menjadi basis perumusan moral dan etika politik kerajaan, sehingga kebijakan-kebijakan politik raja didasarkan pada prinsip-prinsip. Bagi Raja Ali Haji, raja dengan moralitas keislaman merupakan prasyarat utama bagi terciptanya kehidupan yang baik di masyarakat (Burhanudin, 2002: 166).

Penekanan pentingnya moralitas Islam di atas tentu harus dilihat sebagai bagian dari konsepsi politik Raja Ali Haji yang berorientasi pada ideologi kerajaan; hal tersebut merupakan ekspresi dari hasrat Raja Ali Haji untuk membangun kembali institusi kerajaan yang berbasis Islam, setelah dalam perkembangannya mengalami proses degradasi moral sebagaimana dijelaskan secara rinci dalam Tuhfat al-Nafis. Dalam salah satu bagian pembahasan Tuhfat al-Nafis, Raja Ali Haji mengetengahkan kritik pedas terhadap perilaku politik raja-raja Melayu yang dinilai telah menyimpang dari nilai-nilai Islam. Dia dalam hal ini menunjuk misalnya pada konflik politik antara Sultan Mahmud dan Raja Indera Bungsu, yang berujung terjadinya kerusuhan pada tahun 1787. Begitu pula hal yang sama dilakukan terhadap pertentangan politik terus-menerus di lingkungan kerajaan Melayu Siak, yang telah menyebabkan penderitaan masyarakat kerajaan tersebut. Dua contoh kasus tersebut, menurut Raja Ali Haji, merupakan bukti bahwa ajaran Islam, khususnya tentang pengendalian hawa nafsu, telah terabaikan dalam kehidupan politik raja-raja Melayu.

Bila diamati secara lebih dekat pemikiran Raja Ali Haji di atas, tampak bahwa ia berusaha menghidupkan kembali sistem politik kerajaan Islam, khususnya di dunia Melayu masa sebelumnya. Dia beranggapan bahwa sistem kerajaan merupakan model bangunan politik ideal bagi dunia Melayu. Hal ini tampak sedemikian kuat pada fakta bahwa pemikiran politik yang tertuang dalam karya-karya Raja Ali Haji, teristimewa teks Tsamarat al-Muhimmah, dalam beberapa segi penting bersandar pada pemikiran politik yang terdapat dalam teks-teks Melayu klasik, khususnya Tajussalatin di abad ke-17. Dalam hal prasyarat dan kedudukan raja, misalnya, pemikiran Raja Ali Haji memperlihatkan kedekatan yang jelas dengan pemikiran yang terdapat dalam Tajussalatin; bahwa kedua teks menganggap raja yang adil, Islam dan bijaksana sangat sentral dalam menciptakan kesejahteraan rakyat di kerajaan.

Lebih dari itu, seperti dijelaskan Andaya dan Matheson, pemikiran Raja Ali Haji di bidang politik ini mengacu pada pemikiran politik Islam klasik oleh AI-Ghazali (w. 1111), khususnya melalui karya terkenalnya, Nasihat al-Muluk (Nasehat bagi Raja-raja). Hal ini didasarkan pada argumen bahwa karya-karya Raja Ali Haji, terutama Tsamarat al-Muhimmah, banyak mengutip Nasihat al-Muluk-al-Ghazali. Kedua karya tersebut sama-sama mengedepankan pandangan bahwa tugas utama raja adalah menciptakan kondisi yang baik bagi pelaksanaan ajaran-ajaran Islam di tengah masyarakat. Maka dalam konteks inilah Raja Ali Haji bisa dikatakan sebagai penggagas bagi kebangkitan kembali sistem kerajaan dalam dunia Melayu di abad ke-19.

Kitab Pengetahuan Bahasa: Suatu Penjelasan Umum

Sebagaimana telah disingung sebelumnya, pembahasan tentang peran Raja Ali Haji dalam pengembangan bahasa Melayu akan difokuskan pada satu buah karyanya, Kitab Pengetahuan Bahasa. Di sini, kajian akan didasarkan pada cetakan baru oleh Khazanah Fathaniyah, Kuala Lumpur, pada tahun 1997. Selain bab "Muqaddimah" oleh Wan Mohd. Shaghir Abdullah, edisi ini berupa cetak ulang dari edisi pertama yang dicetak pada tahun 1927 oleh Ahmadiyah Press di Singapura. Isi dan format penulisan yang menggunakan tulisan Jawi (bahasa Melayu dalam huruf Arab) bisa dipastikan sama dengan edisi pertama dari Ahmadiyah Press.

Sesuai anak judulnya, "Kamus Lughat Melayu Johor, Pahang, Riau-Lingga", karya ini memang mengukuhkan penjelasan kata-kata Melayu yang disusun secara alfabetis, meski memang belum Iengkap. Kitab dengan tebal 465 halaman ini baru sampai pada huruf ”ca", abjad keenam dalam sistem tulisan Jawi. Meski demikian, penting ditegaskan bahwa istilah "kamus" untuk Kitab ini tampaknya tidak sepenuhnya tepat. Penjelasan atas beberapa kata dalam bahasa Melayu diberikan secara mendalam dan panjang, bahkan disertai sejumlah rujukan terhadap kitab-kitab dari sarjana Muslim terkemuka. Seperti akan dijelaskan di bawah, salah seorang ulama yang kerap dikutip oleh Raja Ali Haji adalah Abu Hamid al-Ghazali (w. 1111), seorang ulama sunni yang sangat berpengaruh di dunia Muslim. Oleh karena itu, lebih dari hanya sekadar "kamus", Kitab Pengetahuan Bahasa berisi pengetahuan dan pandangan tentang bahasa Melayu yang menyeluruh dan ensiklopedis (Za‘ba, 1940: 143; Musa, 1997: 227).

Lebih dari itu, Raja Ali Haji sendiri memang cenderung menjadikan Kitab Pengetahuan Bahasa ini lebih dari hanya sekadar karya tentang bahasa. Sejalan dengan semangat restorasi kebudayaan Melayu, kitab ini dirancang sebagai wujud dari strateginya untuk mengukuhkan bahasa Melayu sebagai satu bahasa peradaban yang sudah mapan dari masyarakat yang kini mendiami wilayah yang terbagi ke dalam negara Indonesia, Malaysia, dan Brunei, serta beberapa wilayah di Filipina dan Thailand. Oleh karena itu, dalam pendahuluan kitab ini, Raja Ali Haji menulis, ”....sesungguhnya sekali-kali tiada boleh dapat kenyataan segala maksud bahasa Melayu dengan sempurnanya, melainkan hendaklah dengan ilmu yang tersebut yang lagi akan datang di dalam kitab ini" (hal. 2). Dengan demikian, melalui Kitab ini, Raja Ali Haji tidak hanya memberi pengetahuan tentang bahasa, tapi juga telah berjasa --seperti akan ditunjukkan nanti-- memperkuat laju perkembangan, dan kemudian penerimaan, bahasa Melayu menjadi bahasa nasional Indonesia. Dan untuk alasan itu, pembahasan tentang isi kitab ini menjadi penting dilakukan.

Secara umum, muatan kitab ini bisa dibagi ke dalam dua bagian utama. Bagian pertama, sebanyak 32 halaman, berisi pembahasan menyangkut tata bahasa Melayu; dan bagian kedua, sebagai bagian inti dari Kitab ini, memuat penjelasan kata-kata bahasa Melayu yang disuguhkan dalam bentuk kamus. Kedua bagian ini tentu saja tidak bisa dilihat terpisah. Bagian pertama lebih merupakan bab "pendahuluan" yang memberi pengetahuan umum tentang bahasa Melayu. Dan pembahasan berikut ini diarahkan untuk mengkaji masing-masing kedua bagian tersebut.

Standardisasi Tata Bahasa

Mengikuti tata bahasa Arab, Raja Ali Haji mengidentifikasi tiga aspek penting yang disebutnya sebagai landasan dari "diperbuat perkataan oleh segala manusia di dalam dunia ini". Ketiga aspek tersebut adalah: nama (‘ism), perbuatan (fi‘l), dan huruf (harf). Selanjutnya dia, mendefinisikan "nama" sebagai "tiap-tiap barang yang menunjukkan maknanya pada dirinya tiada beserta dengan masa yang tiga, yang menjadi dasar pembagian dari "perbuatan" yakni masa yang telah lalu, masa yang lagi akan datang, dan masa hal sekarang ini" (hal 3). Sementara itu "huruf" berarti "yang memberi faidah pada perkataan masing-masing dengan maknanya dan gunanya" (hal. 11).

Raja Ali Haji selanjutnya memberi penjelasan lebih rinci disertai contoh-contoh dari bahasa Melayu yang berkenaan dengan ketiga aspek di atas. Dengan lagi-lagi mengikuti tata bahasa Arab, dia antara lain membagi "nama" ke dalam beberapa jenis, yakni nakirah (yang melengkapi pada jenisnya) dan makrifah (nama yang diketahui), di mana yang kedua ini kemudian dibagi lagi ke dalam beberapa kategori "nama" yang memang sudah dikenal dalam tata bahasa Arab. Begitu pula hal yang sama dilakukannya untuk kategori "perbuatan" dan "huruf", di mana dia berusaha menjadikan tata hahasa Arab sebagai satu penjelasan gramatis untuk bahasa Melayu.

Pembahasan ini tidak bermaksud merinci apa yang telah Raja Ali Haji lakukan. Hal terpenting untuk ditekankan di sini adalah bahwa ia telah memperkenalkan satu sistem tata Bahasa untuk bahasa Melayu, yang diadopsi dari bahasa Arab. Upaya ini tentu saja tidak bisa dikatakan sebagai proses "Arabisasi" bahasa Melayu. Sebaliknya, dia berusaha menerapkan satu standar tertentu, sehingga bahasa Melayu memiliki perangkat yang jelas menyangkut sistem dan cara penggunaannya. Dan apa yang disuguhkan Raja Ali Haji memang memiliki makna penting dalam perkembangan dan pelembagaan bahasa Melayu di bumi Melayu-Nusantara.

Penting pula ditegaskan, pengadopsian tata bahasa Arab oleh Raja Ali Haji tentu saja bukan tanpa pendasaran yang kuat. Pertumbuhan bahasa Melayu menjadi bahasa perantara (lingua franca) di dunia Melayu-Indonesia --bahkan selanjutnya berkembang menjadi bahasa "resmi" kebudayaan-- berlangsung sejalan dengan proses islamisasi, di wilayah tersebut. Dan, bersamaan dengan itu, tulisan Jawi yang menggunakan huruf Arab juga tampil rnenggantikan sistem aksara kuno yang dipengaruhi Hindu-Budha (1997: 69). Lepas dari perbedaan pendapat mengenai istilah "Jawi" yang digunakan untuk jenis tulisan Arab-Melayu, bukti di atas menjukkan bahwa tradisi Arab, tepatnya tulisan Arab, telah diterima menjadi sistem aksara untuk bahasa Melayu. Maka, bisa dipastikan bahwa tata bahasa Arab juga memberi pengaruh penting bagi perkembangan bahasa Melayu.

Oleh kerenanya tidak mengherankan jika tahap-tahap perkembangan Islam di dunia Melayu-Nusantara sebagian dijelaskan dengan proses penerimaan sistem tulisan Arab ke dalam sistem tulisan Melayu. Penemuan sebuah inskripsi dengan tulisan Arab di Leran, Jawa Timur, adalah salah satu contoh menarik. Inskripsi tersebut, diduga bertanggal tahun 1082, hingga kini diyakini sebagai salah satu teks tulisan Arab tertua di Asia Tenggara. Inskripsi tersebut tertulis di atas batu nisan dari makam binti Maimun (anak perempuan Maimun). Meski dipercaya berasal dari luar dunia Melayu, inskripsi tersebut cukup menjadi saksi mulai digunakannya tulisan Arab di dunia Melayu. Dua abad kemudian, inskripsi lain dengan tulisan Arab juga ditemukan. Ini terdapat pada makam Sultan Malik al-Salih di Pasai, Sumatera Utara, tertanggal 1297. Penemuan-penemuan tersebut, diikuti beberapa penemuan lain periode berikutnya, menggambarkan bahwa tulisan Arab --tulisan Jawi-- mulai digunakan di dunia Melayu-Nusantara (Casparis, 1975: 70). Dan, yang terpenting, penggunaan tersebut sekali lagi sejalan dengan proses islamisasi di wilayah tersebut.

Proses di atas bahkan semakin kuat menyusul tumbuhnya kerajaan-kerajaan Islam, yang sekaligus berfungsi sebagai pusat agama dan budaya. Bermula di Samudra Pasai pada abad ke-13, kemudian Malaka pada abad ke-14. Selanjutnya, pada abad ke-17, kerajaan Aceh dan Johor di Sumatera, Mataram di Jawa dan Goa-Tallo di Makassar, di samping Pattani di Thailand dan Brunei. Semua kerajaan tersebut menjadi basis lahirnya tidak saja karya-karya sastra dan keagamaan yang diadaptasi dari dunia Muslim di Timur Tengah dan Asia Kecil (Ricklefs 1998: 76-89), tapi pada saat bersamaan meletakkan fondasi bagi tumbuhnya "gaya-gaya bahasa Melayu baru" yang dipengaruhi tradisi Arab-Islam (Reid, 1992: 274).

Untuk hanya menampilkan satu contoh saja, Nuruddin al-Raniri (w. 1658) --salah seorang ulama terkemuka di Melayu-Nusantara abad ke-17 (Azra, 1995: 166-88)-- mulai menggunakan bahasa Melayu, dengan tulisan Jawi, sebagai media bagi karya intelektual yang dikarangnya, di samping tentu saja bahasa Arab. Bustanussalatin, satu karyanya di bidang sejarah yang berjumlah tujuh jilid, ditulis dalam bahasa Melayu. Karya ini tidak hanya membuktikan tingkat keulamaan Nuruddin al-Raniri, tapi juga telah memberi sumbangan bagi lajunya perkembangan bahasa Melayu sebagai bahasa resmi kebudayaan dan pengetahuan Islam (Azra, 1995: 168; Teeuw, 1991: 125-6). Untuk lebih tegasnya, abad ke-13, satu periode penting dalam proses islamisiasi, telah menandai satu babak baru dalam perkembangan sastra dan bahasa di Melayu-Nusantara, di mana Islam telah menjadi satu kategori penting dalam tradisi sastra. Dan, terutama, tulisan Jawi menjadi jenis tulisan bahasa dan sastra Melayu (Iskandar 1995: 101).

Pada akhir abad ke-19, periode ketika Raja Ali Haji menulis Kitab Pengetahuan Bahasa-nya, bahasa Melayu telah melembaga sedemikian rupa sebagai bahasa untuk dunia Melayu-Nusantara, yang mengatasi penggunaan bahasa-bahasa etnis tertentu yang masih hidup di tengah masyarakat Melayu-Nusantara yang sangat beragam. Khusus untuk konteks keagamaan, perkembangan ini ditandai dengan membanjirnya karya-karya keagamaan yang beredar di lembaga-lembaga pendidikan Islam, yakni pesantren, surau dan pondok masing-masing di Jawa, Sumatera, dan Semenanjung Melayu. Karya-karya keagamaan tersebut kemudian terkenal dengan sebutan "Kitab Jawi" atau "Kitab Kuning" (van Bruinessen, 1995: 17-40; Madmarn, 1999: 40). Dan sebagian dari kitab-kitab tersebut ditulis para ulama Melayu-Nusantara, khususnya "ulama Jawi", mereka yang memiliki pengalaman belajar di Mekkah (Snouck Hurgronje, 1931). Dalam konteks Indonesia sendiri, karya-karya keagamaan tersebut --tentu saja yang ditulis dalam tulisan Jawi-- terdapat dalam jumlah besar. Bahkan, ia telah menyebar di seluruh wilayah Melayu-Nusantara. Tidak hanya di Riau atau Semenanjung Melayu, tapi juga di berbagai wilayah-wilayah lain seperti Bima di Nusa Tenggara dan Ternate di Maluku (Chambert-Loir & Fathurahman, 1999: 131-171).

Dalam konteks demikianlah Raja Ali Haji menulis karyanya tentang bahasa. Berkat kemampuannya dibidang sastra dan agama Islam --yang tumbuh sejalan dengan iklim intelektual di kerajaan Riau-Lingga-- dia memperkenalkan satu pemikiran tentang tata bahasa Melayu yang sudah mapan (established), yang diterima dan digunakan secara luas di dunia Melayu-Nusantara. Lebih dari itu, bagi Raja Ali Haji sendiri, Kitab Pengetahuan Bahasa yang dikarangnya memiliki makna penting dalam konteks sosial-politik dan budaya di kerajaan Riau-Lingga. Sebagai pewaris budaya Melayu, Raja Ali Haji --tentu saja bersama elit kerajaan Riau-Lingga pada umumnya-- menyadari perlunya membuat satu aturan tertentu yang jelas bagi bahasa Melayu. Luasnya penggunaan bahasa Melayu, yang melibatkan komunitas etnis yang beragam, pada gilirannya membuka kesempatan bagi muculnya "korupsi" yang merusak keaslian bahasa Melayu.

Perhatian Raja Ali Haji di bidang ini selanjutnya juga bisa dilihat dari sejumlah surat yang ditulisnya untuk pejabat kolonial, khususnya Roorda van Eijsinga dan kemudian A.F. von de Wall, yang memang memiliki perhatian besar di bidang bahasa dan budaya Melayu. Raja Ali Haji mencurahkan hasratnya yang besar untuk menjaga keaslian dan kebesaran bahasa Melayu. Berikut ini adalah salah satu contoh surat Raja Ali Haji untuk Roorda van Eijsinga di Batavia, sebagaimana dikutip Steenbrink (1993: 68):

”Mudah-mudahan barang disampaikan Tuhan yang diseru oleh sekalian alam juga kiranya kepada pihak majlis, yaitu sahabat kita Tuan Philippus Roorda van Eisjinga, yang ada duduk hal keadaannya, kesenangannya dan kebajikannya dan kemuliannya di dalam negeri Batawi. ..Syahdan, yang kita tahulah akan sahabat kita itu satu orang yang bijaksana mahir dan biasa atas jalan bahasa Melayu.”

Meski memang tidak mengacu pada kelompok atau komunitas tertentu, keprihatinan Raja Ali Haji terhadap bahasa Melayu bisa dijelaskan dari konteks kerajaan Riau-Lingga, di mana upaya restorasi kerajaan Melayu membentuk satu wacana dominan. Seperti telah dijelaskan di atas, Raja Ali Haji berusaha membangun kembali supremasi kerajaan politik Melayu sebagai satu bangunan sosial-politik bagi masyarakat Melayu. Dalam upayanya ini, tentu saja, Raja Ali Haji menekankan pentingnya unsur agama, tepatnya moralitas Islam, sebagai satu bagian penting dari konsepsi politik Melayu. Baginya, ajaran Islam harus menjadi dasar bagi perumusan moral dan etika politik kerajaan, sehingga pemikiran dan praktik politik raja-raja Melayu senantiasa mangacu pada nilai-nilai ajaran Islam (Burhanudin, 2002: 166).

Dipahami dari perspektif di atas, sangat beralasan jika Raja Ali Haji mengadopsi tata bahasa Arab untuk membuat standar dan merumuskan tata bahasa Melayu. Dan hal itulah yang menjadi inti pembahasan dari bab pendahuluan Kitab Pengetahuan Bahasa, seperti telah ditunjukkan sebelumnya. Hanya saja, pertanyaannya kemudian adalah bagaimana wujud dari usaha Raja Ali Haji untuk menjaga keaslian bahasa Melayu? Untuk itu, bagian selanjumya dari Kitab Pengetahuan Bahasa, yang menghadirkan pembahasan kata-kata dalam bahasa Melayu, menjadi penting dijelaskan. Dan itulah yang menjadi fokus artikel ini selanjutnya.


Kamus Bahasa dan Budaya Melayu

“Inilah suatu kitab pada menyatakan bahasa Melayu," demikian Raja Ali Haji membuka pembahasan bagian kedua dari Kitab Pengetahuan Bahasa (hal. 33). Sebagaimana umumnya sebuah kamus, Kitab ini memang memberi penjelasan, atau "pengetahuan", atas kata-kata dalam bahasa Melayu, yang disusun secara aflabetis mulai dengan huruf pertama dalam tulisan Jawi, alif (a), hingga huruf keenam (ca). Penjelasan setiap kata yang sebelumnya sudah dikelompokkan secara alfabetis dilakukan dengan berpegang pada urutan abjad di awal dan di akhimya. Untuk kata-kata yang dimulai dengan abjad alif (a), misalnya, penjelasannya dibagi ke dalam beberapa fasal yang menegaskan urutan abjad pada awal dan akhir kata. Fasal pertama, misalnya, membahas kata berhuruf awal alif (a) dan berhuruf akhir alif (a) atau hamzah, selanjutnya huruf berawal alif (a) dan berakhir ba (b), dan demikian seterusnya. Begitu pula dengan kata-kata yang terkategoriberabjad ba (b). Seperti halnya dengan kata-kata berabjad alif (a), fasal pertama membahas kata-kata yang berhuruf awal ba (b) dan berhuruf akhir alif (a) atau hamzah.

Setiap kata umumnya diberi penjelasan sekitar tiga sampai lima baris, kecuali kata-kata tertentu yang dianggap memiliki makna penting dalam dunia politik dan budaya Melayu. Dan penjelasan ini kerap kali diberikan beserta contoh-contoh cara penggunaan, atau ilustrasi-ilustrasi tertentu yang menjelaskan konteks atau suasana di mana kata itu digunakan. Sebagai misal, kata "ombak" menarik untuk disimak. Di sini Raja Ali Haji mengartikan "ombak" dalam dua pengertian, sebagai kata benda (ism) dan sebagai keadaan (hal). Sebagai kata benda, "ombak" berarti "air laut atau sungai dipukul oleh angin maka tinggi rendah ia" (hal. 51). Sementara itu sebagai keadaan, kata "ombak" itu menjadi "berombak-ombak". Dalam hal ini, dia menulis dua makna, yang mengacu pada gerakan air di sebuah tanjung --"maka berombak-ombaklah sedikit" (hal. 51)-- dan pada "pemadangan atas yang banyak". Dia menulis: "berombak-ombak padang anu itu pada pemandangan daripada sangat banyaknya rakyat tentaranya berjalan adanya" (hal. 51). Di samping itu, Raja Ali Haji juga mengidentifikasi munculnya kata "ombak-ombakan" dari kata "ombak" tersebut.

Contoh lain yang juga penting diangkat adalah kata "angkat". Sebagai seorang ahli bahasa, Raja Ali Haji memberi penjelasan atas kata tersebut berdasarkan jenis kata jadian yang muncul, yakni "diangkat", "terangkat", dan "angkatlah". Raja Ali Haji memberi makna dasar kata "angkat" sebagai berikut: "seseorang yang memegang dengan tangan atau dengan perkakas sesuatu yang terletak di bawah atau di lantai maka dibawanya naik ke atas" (hal. 106). Di samping itu, Raja Ali Haji juga mencatat makna lain, sebagai "makna majazi", seperti "angkat kerajaan, angkat perang, angkat raja, dan lainnya yang seumpama adanya" (hal. 106). Sementara itu kata "diangkat" diartikan sebagai "sesuatu yang kena angkat", baik dalam arti hakiki atau majazi (hal. 107). Selanjutnya adalah kata "terangkat", yakni kata kerja yang mengacu pada masa lalu. Dia menulis, "sesuatu yang sudah diangkat oleh seseorang, sudah naik dari bawah ke atas" (hal. 107). Dan terakhir adalah bentuk perintah (fi‘l amr) dari kata "angkat", yakni "angkatlah". Raja Ali Haji mendefinisikannya sebagai "seseorang menyuruh akan seseorang mengangkat akan sesuatu dengan katanya: angkatlah" (hal. 107).

Dua contoh di atas menyuguhkan bukti kuat bahwa Raja Ali Haji menguasai secara mendalam tata bahasa dan sekaligus makna kata-kata bahasa Melayu. Dan penjelasannya atas makna dua kata di atas --tentu saja di samping kata-kata lain yang tidak bisa dibahas di sini-- memberi kita satu bukti bahwa dia telah mulai meletakan dasar-dasar yang kuat bagi perkembangan bahasa Melayu di kemudian hari, khususnya ketika ia menjadi bahasa nasional Indonesia. Apa yang disuguhkan Raja Ali Haji ini, melalui Kitab Pengetahuan Bahasa, dalam beberapa segi penting menjadi "acuan" --meski kerap tidak dilakukan secara eksplisit-- untuk memahami dan melembagakan bahasa Melayu menjadi bahasa resmi di Indonesia. Dengan ungkapan lain, Raja Ali Haji telah meletakkan fondasi yang kuat bagi tumbuhnya bahasa Indonesia, yang akar-akarnya memang bisa dilacak pada bahasa Melayu.

Di samping bahasa, Kitab Pengetahuan Bahasa juga memuat penjelasan sejumlah kata bahasa Melayu yang sarat dengan substansi agama dan hudaya. Hal ini tentu sama sekali tidak mengherankan. Sebagaimana telah dijelaskan di atas, upaya Raja Ali Haji dalam pengembangan bahasa tidak bisa dilihat terpisah dari hasrat dan gerakanya dalam restorasi budaya dan kerajaan Melayu. Oleh karena itu, unsur-unsur agama dan budaya ini kerap kali menjadi dasar penjelasan —dan pemaknaan— atas kata-kata bahasa Melayu. Bahkan, sejumlah kata diberi penjelasan penjang lebar dan rinci, yang berakar baik dalam tradisi Islam di dunia Melayu. Dalam konteks inilah, seperti telah disinggung di atas, bahwa Kitab Pengetahuan Bahasa tidak bisa dilihat semata-mata sebagai kamus bahasa, tapi juga kamus budaya Melayu. Bahkan, dalam beberapa aspek tertentu, kitab tersebut juga hadir sebagai ensiklopedi.

Sejauh menyangkut isi Kitab Pengetahuan Bahasa, kuatnya unsur agama ini antara lain bisa dlihat pada fakta bahwa Raja Ali Haji memulai pembahasannya justru dengan kata-kata yang secara langsung berhubungan dengan Tuhan, yakni kata "Allah". Raja Ali Haji menulis, "bermula bab yang pertama pada menyatakan segala kalimat bahasa maka dimulai daripada bab alif maka yaitu dimulai daripada alif Allah, karena ia ism al-a‘zam [nama yang agung, pen.] bagi nama Tuhan kita Yang Maha Besar dan Maha Mulia" (hal. 33). Selanjutnya, Raja Ali Haji memberi penjelasan rinci tentang kata "Allah" disertai ajaran Islam tentang perlunya kaum Muslim untuk percaya kepada Allah dan mengikuti segala perintah-Nya (hal. 33-6).

Setelah menjelaskan kata "Allah", Raja Ali Haji kemudian membahas "alif al-nabi", yakni Nabi Muhammad. Di sini, dia juga memberi penjelasan panjang lebar menyangkut makna kata "Muhammad", disertai riwayat hidupnya yang singkat, dan menekankan bahwa ia adalah Nabi terakhir (hal. 35-7). Penjelasan tentang nabi ini disusul dengan para sahabat (alif ashab), para ulama (alif al-akbar), para wali (alif al-auliya) dan baru manusia (alif insan) sebagai makhluk Allah (hal. 38¬44). Terakhir, Raja Ali Haji menulis tentang hari akhir, "alif al-akhirat", yakni hari di mana manusia kembali kepada Allah (hal. 45-8). Dan Raja Ali Haji secara sadar menekankan pentingnya mengetahui semua hak pokok di atas, sebelum kemudian mempelajari kamus bahasa Melayu. Dia menulis: "sahdan apabila selesai daripada mengetahui daripada bahasa yang tujuh itu, maka mengiringi akan dia pula pelajaran yang lain pula pada bicara mengetahui makna bicara bahasa Melayu yang mashur dipakai sebelah Johor dan Riau, maka dengarkan olehmu" (hal. 50).

Sejalan dengan itu, Raja Ali Haji memberi penjelasan atas kata-kata tertentu yang bersifat keagamaan dari perspektif ajaran Islam. Kata "agama" atau "ugama", misalnya, secara tegas dimaknai berdasarkan definisi yang secara umum dipegang kaum Muslim. Dia dalam hal ini mendefinisikan agama sebagai "i‘tikad dan syariat nabi-nabi yang menjadi rasul daripada Allah ta‘ala dibawanya kepada umatnya diperintahkannya dengan memegang syariah itu dengan kuat, maka barangsiapa umatnya yang tiada mau mengikuti maka yaitu bernama orang kafir" (hal. 174). Begitu pula hal yang sama tampak pada pemaknaan kata "iman". Meski dinyatakan sebagai berasal dari bahasa Arab, dan berarti percaya, Raja Ali Haji juga memberi penjelasan tambahan. Dia menulis: "adapun yang dihendaki iman pada syar‘i itu yaitu percaya akan Allah ta‘ala dan percaya akan segala rasulnya, dan percaya akan segala kitabnya..." dan demikian seterusnya mengikuti rukun Iman yang dikenal dalam ajaran Islam (hal. 182-3).

Aspek selanjutnya --selain bahasa murni dan agama-- yang menjadi perhatian Raja Ali Haji adalah berhubungan dengan kerajaan. Pada dasarnya, aspek kerajaan ini menjadi bagian inheren dari agama. Raja Ali Haji,  sebagaimana orang Melayu umumnya, lebih mendefinisikan etnis dalam karangka agama. Ini terkenal misalnya dengan ungkapan, "masuk Islam berarti masuk Melayu". Hanya saja, aspek kerajaan ini tidak secara khusus diberi perhatian dalam Kitab Pengtahuan Bahasa ini. Dan hal ini tentu saja beralasan, karena Raja Ali Haji membahas masalah kerajaan dalam karyanya yang lain, Tuhfat al-Nafis dan terutama Tsamarah al-Muhimmah. Dalam Kitab ini, Raja Ali Haji hanya mencatat secara sepintas tentang kerajaan, meski menjadikannya sebagai satu kategori penting untuk diperhatikan.

Demikian dalam menjelaskan kata "adab", misalnya, Raja Ali Haji dalam kitab ini lebih membatasi pada pengertian etiket hubungan manusia dengan Tuhan dan sesama manusia (hal. 81-91). Sementara makna adab dalam kerangka kerajaan dipahami secara terpisah. "Inilah setengah daripada adab masuk pada pekerjaan-kerajaan", demikian dia menuturkan (hal. 91). Dan dalam kerangka itu, dia menganjurkan untuk membaca karyanya yang lain yang memang secara khusus berbicara tentang kerajaan. Dia menulis, "dan jika kita berkehendak lebih lagi perkara pekerjaan kerajaan itu maka hendaklah kita lihat di dalam kitab karanganku juga yang bernama Tsamarat al-Muhimmah, rujuklah di dalamnya adanya" (hal. 91-2).

Tidak kalah pentingnya untuk juga dicatat adalah, Raja Ali Haji memasukkan bahasa Bugis --asal keturunannya-- ke dalam karyanya ini yang diklaim sebagai kamus bahasa Melayu. Untuk hanya mengambil satu contoh, dia memasukkan kata "opu" sebagai salah satu kata bahasa Melayu, dan, mengartikannya sebagai "nama anak raja-raja Bugis di negeri lalu" (hal. 186). Tidak berhenti di situ, Raja Ali Haji juga menjelaskan secara singkat kisah kedatangan raja-raja Bugis ke kerajaan Johor, dan proses naiknya mereka menjadi bagian dari elit politik kerajaan, yakni sebagai "Yang Dipertuan Muda". Selain itu, dia juga menganjurkan untuk membaca karya yang lain yang secara spesifik membahas kisah tersebut, yakni Tuhfat al-Nafis.


Raja Ali Haji dan Bahasa Indonesia: Sebuah Catatan Penutup

Pada 1868, Temenggung Abu Bakar Johor mengirim utusan untuk menghadap Raja Ali Haji di Riau, yang digambarkannya sebagai "seorang raja yang tua dan berilmu". Elit kerajaan Johor memandang Raja Ali Haji, dan elit intelektual di Penyengat umumnya, sebagai telah memperlihatkan minat yang tinggi mengenai sejarah raja-raja Melayu. Demikianlah, utusan Johor tiba di kediaman Raja Ali Haji. Dan mereka diberi tujuh buah buku pilihannya sebagai oleh-oleh untuk dibaca dan dikaji oleh Temenggung Johor (Matheson, 1991: 46-7).

Cerita di atas, yang juga direkam dalam Kisah Pelayaran ke Riau (Matheson, 1985: 3-22) merupakan salah bukti dari apa yang menjadi fokus utama artikel ini; Raja Ali Haji adalah seorang yang tidak diragukan lagi telah memberi kontribusi sangat penting dalam pengembangan dan pelestarian bahasa dan budaya Melayu. Juga sebagian berkat Raja Ali Haji, Pulau Penyengat di Riau pada abad ke-19 tclah berkembang menjadi pusat budaya Melayu dan agama Islam sekaligus. Para elit politik tidak lagi berurusan dengan masalah kekuasan, yang memang telah berada di bawah dominasi kolonial. Mereka justru menjadi kekuatan utama yang menggerakkan tradisi intelekrual dan keagamaan, khususnya dalam bidang bahasa dan sastra (Matheson 1989: 153-72). Dan hal itu pula yang menjadi dasar ketertarikan para sarjana Eropa untuk datang ke Pulau Penyengat. Mereka menemukan "keaslian" dan ketinggian bahasa Melayu di sana.

Dalam konteks ini, Raja Ali Haji, dengan Kitab Pengetahuan Bahasa-nya, tentu saja menjadi salah seorang tokoh terdepan. Bila memperhatikan substansi Kitab Pengetahuan Bahasa, harus diakui bahwa Raja Ali Haji memang seorang yang berpengaruh dalam sejarah bahasa Melayu. Isi dan gaya penuturannya menunjukkan bahwa ia tidak hanya menguasai secara mendalam, tapi juga memperlihatkan hasratnya yang besar untuk perkembangan bahasa Melayu. Karena itu, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Raja Ali Haji adalah salah seorang peletak dasar bahasa Indonesia modern. Hal ini bisa dijelaskan dengan kenyataan bahwa ia telah memberi inspirasi yang sangat besar bagi pertunbuhan tradisi intelektual terutama di Riau, dan melahirkan sejumlah tokoh yang secara intens terlibat dalam pengembangan bahasa dan budaya Melayu.

Beberapa cendikiawan dan penulis lahir setelah Raja Ali Haji. Mereka antara lain adalah Raja Ali Kelana dan Raja Muhammad Yusuf Ahmad (1858-1899). Raja Ali Kelana melahirkan karya-karya: Pohon Perhimpunan, Perhimpunan Pelakat, Bughyat al-Anifi Huruf al-Ma‘ani, Inilah Rencana Mudah Mengenal Diri yang Indah, Kumpulan Ringakas Berbetuilan Lekas, dan Percakapan Si Bakhil (Junus, 1987: 55-7). Sementara Raja Abdullah, cucu Raja Ali Haji, semasa hidup dikenal pengabdiannya yang besar bagi dunia sastra dan bahasa Melayu. la diberitakan mempunyai perpustakaan buku yang cukup Iengkap. Dalam karir intelektualnya, ia telah mengarang sejumlah karya, yakni: Kitab Pelajaran Bahasa Melayu Penolong bagi yang Menuntut Akan Pengetahuan Yang Patut, Pembuka Lindah dengan Teladan Umpama yang Mudah, Hikayat Tanah Suci, Kutipan Mutiara, Syair Syahinsya, Ghuyat al-Muna, dan Seribu Satu Hari (Junus dan Hamidi, 1987: 140).

Lebih penting lagi, sejumlah tokoh intelektual binaan Raja Ali Haji ini pada tahun 1886 bergabung dalam sebuah organisasi yang mereka dirikan, Rusydiyah Klab. Organisasi ini terutama bertujuan untuk mengembangkan tradisi intelektual (ilmu pengetahuan agama dan budaya) di dunia Melayu-Riau (Sham, 1979: 36-8). Organiasi inilah yang kemudian menjadi jembatan intelektual antara Raja Ali Haji dan perkembangan bahasa Indonesia, yang secara resmi diakui sebagai bahasa nasional Indonesia sejak Sumpah Pemuda pada tahun 1928. Mereka yang terlibat dalam Rusydiyah Klab tidak hanya meneruskan semangat dan usaha Raja Ali Haji untuk pengembangan bahasa dan budaya Melayu, melainkan, dan bahkan terpenting, mereka juga terlibat --secara langsung ataupun tidak-- dalam suatu proses historis yang berujung pada penerimaan bahasa Melayu menjadi bahasa nasional Indonesia.

Bagaimana pun, karya-karya intelektual-keagamaan yang dilahirkan Rusydiyah Klab telah memberikan kontribusi yang sangat berarti bagi perkembangan bahasa Melayu. Raja Ali Kelana, yang telah disebut di atas, adalah salah satu tokoh penting dalam hal ini. Di samping menulis sejumlah karya seperti dijelaskan di atas, dia juga ikut terlibat dalam penerbitan majalah al-Imam pada tahun 1906 di Singapura, bersama Sayyid Shaikh al-Nadi, seorang alim Hadrami keturunan Malaysia yang juga aktif dalam Rusydiyah Klab. Al-Imam adalah majalah pertama yang terbit menyuarakan gagasan pembaharuan Islam di dunia Melayu-Nusantara. Dan melalui majalah itu pula, gerakan pembaharuan Islam berkembang di Melayu-Nusantara. Di Indonesia majalah al-Imam sangat berpengaruh. Sejalan dengan perubahan sosial akibat modernisasi menyusul penerapan politik etis oleh pihak kolonial, al-Imam ikut berjasa untuk memperkuat arus gerakan pembaharuan Islam pada awal abad ke-20, yang kemudian melahiran gerakan nasionalisme Indonesia.

Akhirnya, gerakan nasionalisme inilah yang kemudian melahirkan Sumpah Pemuda, di mana bahasa Indonesia dinyatakan sebagai bahasa nasional Indonesia. Dan, dalam proses menuju Sumpah Pemuda itulah, semangat intelektual Raja Ali Haji, yang terus hidup di tangan para intelektual sesudahnya, memperoleh bentuknya yang kongkrit, yakni bahasa Melayu menjadi bahasa nasional Indonesia. Dan, karena itu, Raja Ali Haji jelas telah memberi kontribusi penting bagi bahasa nasional Indonesia.

                                                                                  ----------------ooOoo-------------------


BIBLIOGRAFI

  • Andaya, B.W. dan Mathseon, V, 1979, "Islamic Thought and Malay Tradition: An Examination of the Writings of Raja Ali Haji of Riau, ca. 1870", dalam A. Reid dan D. Mart (ed.), Southeast Asian Perception of the Past, (Singapore: Southeast Asian Studies).
  • Azra, Azyumardi, 1995, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, (Bandung: Mizan).
  • Bruinessen, Martin van, 1995, Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat Tradisi-Tradisi Islam di Indonesia, (Bandung Mizan).
  • Burhanudin, Jajat, 2002, "Tradisi Keilmuan dan Intelektual", Ensiklopedi Tematis Dunia Nam, vol 5 Asia Tenggara, (ed.) Taufik Abdullah at. Al. (Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve).
  • Casparis, J.G. de, 1975, Indonesian Palaeography: A History of Writing in Indonesia from the Beginning to c. A.D. 1500, (Leiden: E.J. Brill).
  • Chambert-Loir, Henn & Oman Fathurrahman, 1999, Khazanah Naskah: Panduan Koleksi Naskah-Naskah Indonesia se-Dunia, (Jakarta: EFEO & Obor).
  • Haji, Raja Ali, 1886, Tsamarat al-Muhimmah, (Riau Lingga), 1997, Kitab Pengetahuan Bahasa, (Kuala Lumpur: Khazanah Fathaniah Press), cetak ulang dari edisi 1927 oleh Ahmadiah Press di Singapura.
  • Hamidi, U.U., 1987, "Sumbangan dan Peranan Cendikiawan Riau dalam Penghidupan Kebudayaan Nasional Indonesia", dalam Tradisi Johor-Riau: Kertas Kerja Hari Sastra 1983, (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka).
  • Iskandar, T., 1995, Kesusastraan Klasik Melayu Sepanjang Abad, (Brunei: Jabatan Kesusastraan Melayu Universiti Brunei Darussalam).
  • Madmarn, Hasan 1999, The Pondok and Madrasah in Patani, (Bangi: Penerbit Universiti Kebangsaan Malaysia).
  • Matheson, Virginia, 1997, Tuhfat al-Nafis: Sejarah Melayu Islam, (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka).
  • ________________, 1985, "Kisah Pelayaran ke Riau: Journey to Riau" Indonesian Circle, 36.
  • ________________, 1989, "Pulau Penyengat: Nineteenth Century Islamic Centre of Riau", Archipel, 37.
  • Musa, Hashim, 1997, Epigrafi Melayu: Sejarah Sistem Tulisan dalam Bahasa Melayu, (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Budaya).
  • Palawa, Alimuddin Hasan, 2003, "The Penyengat School: The Intellectual Tradition of Riau-Lingga Kingdom". Studia Islamika, Vol. 10, no. 3.
  • Reid, Anthony, 1992, Asia Tenggara dalam Kurun Niaga, 1450-1680, vol. 1, Tanab di Bawah Angin, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia).
  • Ricklefs, M.C. 1998, Sejarah Indonesia Modern, (Yogyakarta: Gajah Mada University Press).
  • Sham, Abu Hasan, 1979, "Klab Rusydiah: Sebuah Perkumpulan Cendikiawan Melayu-Riau", Dewan Masyarakat, Juni.
  • Snouck Hurgonje, C., 1931, Mekka in the Later Part of the Nine Teenth Century, (Leiden: E.J. Brill).
  • Steinbrink, Karel A., 1993, "Syair Abdul Muluk Raja Ali Haji dari Penyengat", Ulumul Qur‘an, no. 2, vol. 4.
  • Teeuw, A., "Pertumbuhan Bahasa Melayu menjadi Bahasa Dunia", Harimurti Kridalaksana (ed.), Masa Lampau Bahasa Indonesia: Sebuah Bunga Rampai, (Yogyakarta: Kanisius).
  • Zainal Abidin Ahmad, 1940, Pelita Bahasa Melayu, (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka).


 
Naskah tulisan ini dimuat dalam buku “Sejarah Perjuangan Raja Ali Haji sebagai Bapak Bahasa Indonesia” halaman 365-393, yang diterbitkan atas kerjasama Pemerintah Kota Tanjungpinang, Provinsi Riau, dan UNRI Press Pekanbaru.

Oman Fathurahman adalah dosen pada Fakultas Adab dan Humniora Universitas Islam Negeri Jakarta. Gelar sarjana (S1) diperoleh dari Fakultas Adab UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan Magister Humaniora (M.Hum) serta Doktornya dari Universitas Indonesia Depok. Beberapa aktifitas lainnya adalah sebagai peneliti pada Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta, dan editor jurnal internasional Studia Islamika. Peneliti naskah-naskah kuno, dan ketua Masyarakat Pernaskahan Nusantara, serta menjadi Research Fellow dari The Alexander von Humboldt-Stiftung Jerman di Universitat zu Kohln.

Jajat Burhanudin adalah dosen pada Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta. Gelar Sarjana (S1) diperoleh dari Fakultas Adab UIN Syarif Hidayatullah, dan Master of Arts (MA) dari Leiden University Belanda. Selain di UIN, ia juga aktif sebagai peneliti pada Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta, dan editor jurnal internasional Studi Islamika. Sekarang sedang meneruskan studi S3 di Leiden University Belanda.

Kredit foto : www.rajaalihaji.com
Dibaca 6.450 kali

Sila Tulis Komentar Anda Disini !



Artikel terkait