Versi Indonesia
English version
Pengunjung Online : 0
Hari ini :230
Kemarin :788
Minggu kemarin:6.118
Bulan kemarin:41.661

Anda pengunjung ke 4.724.456
Sejak 11 Rabi'ul Awal 1429
( 19 Maret 2008 )


Pengunjung Baru ?
   |   


www.melayuonline.com www.wisatamelayu.com www.rajaalihaji.com www.tengkuamirhamzah.com www.ceritarakyatnusantara.com www.adicita.com www.maharatu.com www.jogjatrip.com www.kerajaannusantara.com www.infokorupsi.com www.indonesiawonder.com
Isnain, 11 Safar 1443 (Minggu, 19 September 2021)
 
22 Maret 2008 03:24
Raja Ali Haji: Munsyi dan Pujangga
Raja Ali Haji: Munsyi dan Pujangga

Oleh: Dr. Dendy Sugono dan A. Rozak Zaidan

Kalam Pembuka

Gajah mati meninggalkan gading

Harimau mati meninggalkan belang

Sebutan munsyi dan pujangga bagi Raja Ali Haji dapat dipandang sebagai upaya "mempersempit" tilikan terhadap gerak kreativitas yang dilakukannya. Dengan Cara itu diharapkan akan tampak jelas sosok pribadi Raja Ali Haji dengan membatasi sudut pandang kita atasnya, sudut pandang dalam hubungannya dengan bahasa dan sastra semata. Hal itu perlu dilakukan karena banyak persoalan yang dapat dikaitkan dengan Raja Ali Haji. Beliau adalah ulama besar yang pengetahuanya tentang agama mengantarkannya pada posisi sebagai guru agama dan bahasa Arab di Pulau Penyengat yang pada perkembangan lebih jauh menjadi penasehat Sultan dalam bidang agama. Abu Hassan Sham (1987:184) menyebutnya sebagai ahli sejarah, ahli undang-undang, dan ahli bahasa. Melalui karyanya yang amat terkenal, Tuhfat al-Nafis, misalnya diperoleh informasi ihwal perlakuan yang baik dari raja terhadap ulama dari Bugis, juga Banjar.

Bagi khalayak umum yang mengikuti perkembangan ilmu bahasa atau sejarah kajian bahasa, Raja Ali Haji telah meninggalkan "gading" dan "belang" yang berupa kitab tata bahasa Melayu dengan sudut pandang bahasa Arab, yakni Bustanul Katibin. Dari  tangannya juga telah diwariskan "gading gajah" dan "belang harimau" yang berwujud sebuah ensiklopedia bahasa Melayu dengan judul Kitab Pengetahuan Bahasa. Kedua kitab tersebut merintis tradisi kajian bahasa sehingga pantaslah kiranya kalau Raja Ali Haji dikukuhkan sebagai munsyi.

Dalam bidang kesastraan akan ditemukan nama munsyi ini sebagai pujangga dengan karyanya yang agung Gurindam Dua Belas dan Tuhfat al-Nafis di antaranya. Yang disebut terakhir tampaknya merupakan karya bersama dengan Raja Ahmad, ayahnya sendiri. Melalui Gurindam Dua Belas itu, Raja Ali Haji menunjukkan pengetahuannya yang luas tentang ilmu agama, khususnya akhlak dan tauhid yang dipadukan dengan penguasaannya yang optimal terhadap sarana puitika Melayu. Ulama yang sekaligus pujangga itu dapat disejajarkan dengan Hasan Mustapa yang menulis syair dalam bahasa Sunda dengan isi ajaran tasawuf. Ulama yang sekaligus pujangga yang setara dengan Raja Ali Haji yang menulis dalam bahasa Melayu adalah Hamzah Fansuri yang dianggap sebagai pemula tradisi puisi Melayu. Melalui Tuhfat al-Nafis, dapat diperoleh informasi kesejarahan ihwal konflik kepentingan dalam lingkungan kerajaan-kerajaan di seputar Riau dan Semenanjung Malaka.

 
Munsyi Pelanjut Sibawaihi

Kajian Harimurti Kridalaksana yang cukup mendalam atas Bustanul Katibin (1991:349)  yang disajikannya untuk mengisi Hari Sastera 1983 di Johor Baru pada 10-13 Desember 1983 menempatkan Raja Ali Haji sebagai pelanjut tradisi kajian bahasa Sibawaihi, seorang ahli gramatika Arab yang menjadi buku pintar pembelajar Arab dalam lingkungan pesantren di Indonesia. Posisi Raja Ali Haji memang "berseberangan" dengan Sutan Takdir Alisjahbana yang melanjutkan tradisi kajian bahasa model Barat (Yunani, Latin). Dalam peta yang dibuat Harimurti tampak bahwa Raja Ali Haji seperti "sendirian" dalam perkembangan tradisi kajian bahasa Melayu.

Bustanul Katibin (1857) dan Kitab Pengetahuan Bahasa (1859) merupakan bukti intelektualitas Raja Ali Haji. Mungkin dengan Bustanul Katibin, Raja Ali Haji seperti mau menerapkan konsep gramatika Arab dalam bahasa Melayu dalam hal pengelompokan kata dan analisis kalimat. Ilmunya tentang bahasa Arab yang dipelajarinya sejak usia amat muda dengan bermukim beberapa lama di Mekah telah mempertemukan Raja Ali Haji dengan berbagai buku karangan ulama ahli bahasa Arab seperti Kitab al Masadir karangan Zauzani, al-Awamil al‑Mi‘a karangan al-Jurjani, Danal-Jurrumiyya karangan Muhammad al-Sanhaji ibn Ajurrum (1987:184). Kitab yang juga diakrabinya yang mengantarkannya menjadi ulama yang luas pengetahuan agamanya yang memberikannya dasar-dasar pemikiran tasawuf adalah Minhaj al-Abidin karangan al-Ghazali dan kitab Umm al-Barahin karangan al-Sanusi, serta karangan Ibrahim bin Ibrahim bin Hasan al-Lakani yang berjudul Jawharat Tawhid. Tentu masih banyak lagi kitab agama yang menjadikannya ulama yang disegani pada zamannya. Kitab-kitab itu barangkali yang memberikannya kemampuan untuk, antara lain, memberikan nasihat dengan kalimat sederhana sebagaimana terungkap dalam Gurindam Dua Belas.

Dapat dikatakan bahwa Raja Ali Haji dengan Bustanul Katibin berkehendak "mendekatkan" tradisi tulis dalam budaya Melayu sebagai lanjutan dari tradisi tulis yang kuat dikembangkan dalam agama yang dianutnya. Upaya "pemaksaan" konsep bahasa dalam mendeskripsikan gramatika Melayu tidak akan berhasil dengan baik karena kedua bahasa itu (Arab dan Melayu) merupakan dua bahasa yang amat berbeda, yang satu termasuk dalam bahasa berfleksi, sedangkan yang lainnya bukan tergolong bahasa berfleksi. Harus diakui bahwa membuat sebuah kajian gramatika dari titik nol tidak dapat menghindarkan diri dari tradisi gramatika yang dikuasai dan dikenal dengan baik, yakni gramatika Arab. Dalam perspektif zamannya Bustanul Katibin perlu mendapat penilaian yang sewajarnya. Harimurti (1991:360) dalam kajiannya yang mendalam atas kitab tata bahasa itu mengakui pentingnya karangan Raja Ali Haji ini.

Konteks zaman yang melahirkan Bustanul Katibin adalah dominannya tradisi berpikir yang dikuasai oleh bacaan­-bacaan berbahasa Arab bersamaan dengan makin meresapnya pengaruh agama Islam. Pengaruh bahasa Arab pada zaman itu tidak dapat dilepaskan dari perkembangan agama Islam, yang mau tidak mau, dihadapkan pada bacaan yang bersumber pada tradisi bahasa Arab, termasuk tradisi berpikirnya. Sampai hari ini tradisi berpikir dalam bahasa Arab masih berlaku dalan penerjemahan kitab berbahasa Arab, termasuk penerjemahan Al-Qur‘an. Apa yang dilakukan H.B. Jassin dengan terjemahan Bacaan Mulia bagi Al-Qur‘an masih dipersoalkan orang sebagai sesuatu yang kontroversial. Jadi, dengan mempertautkan Bustanul Katibin pada konteks zamannya dapat diterima Bustanul Katibin seperti apa adanya.


Perintis Leksikografi Melayu

Setelah selesai dengan Bustanul Katibin yang "memaksakan" gramatika Arab itu, Raja Ali Haji memberikan sumbangan sebuah kitab ensiklopedi pertama ihwal bahasa Melayu dengan Kitab Pengetahuan Bahasa. Kitab itu tergolong kitab perintis dalam hidang leksikografi. Dengan kitab tersebut, Raja Ali Haji menyajikan uraian yang panjang lebar tentang kata­-kata dalam bahasa Melayu dalam rangka pembelajaran bahasa Melayu.

Raja Ali Haji tampaknya sudah menyadari bahwa Bustanul Katibin harus dilengkapi dengan kitab lain untuk lebih memahami kaidah yang dideskripsikan dalam tata bahasanya itu. Begitulah Kitab Pengetahuan Bahasa memanggil fungsi sebagai pelengkap bagi pembelajaran bahasa Melayu saat itu. Pentingnya kitab pelengkap itu tidak dapat dipisahkan dari latar belakang kedudukan Raja Ali Haji sebagai guru bahasa selain sebagai guru agama. Harimurti (1991:357) menyebut kitab itu sebagai kamus yang mengandung banyak keunikan dan menyayangkan tidak adanya perhatian yang selayaknya dari para ahli yang cenderung meremehkannya. Memang kalau penilaian didasarkan pada disiplin linguistik modern, sebagaimana dilakukan oleh Teeuw dan Za‘ba yang disinggung Harimurti, kitab tersebut merupakan ensiklopedi yang tidak sistematis dan bahwa itu bukan kamus karena banyak melaratnya.

Terlepas dari penilaian yang cenderung meremehkan kitab sumbangan Raja Ali Haji, kitab tersebut dapat ditempatkan dalam perspektif zamannya sebagaimana yang diperlakukan terhadap Bustanul Katibin. Dengan Kitab Pengetabuan Bahasa, tradisi leksikografi dalam dunia Melayu dimulai. Harus diakui bahwa Raja Ali Haji secara konsekuen menerapkan sistem alfabet bahasa Arab karena upaya "mendekatkan" bahasa Melayu dengan bahasa Arab sebagai semangat zamannya. Kalau dapat diterima sistem alfabet bahasa Jawa Kuno yang menerapkan sistem Sansekerta, mengapa harus ditolak sistem alfabet bahasa Arab (pada tataran awal itu)? Tentulah sebagai perintis yang mengawali sebuah tradisi leksikografi, Raja Ali Haji telah berjasa dan ditempatkan dalam konteks dan perspektif zamannya.

Dalam perkembangan bahasa Indonesia, kini telah terjatuh pergeseran dan perkembangan orientasi kajian bahasa Indonesia yang mengikuti prinsip linguistik. Perkembangan bahasa internasional yang menetapkan bahasa Inggris sebagai yang utama juga dicermati. Sebelumnya, orientasi dalam pengembangan konsep dan leksikon bertumpu pada bahasa Belanda. Selepas kemerdekaan, keterkaitan dengan Belanda sedikit demi sedikit mengendor dan untuk selanjutnya melepas. Kebijakan dalam pengembangan leksikon sejalan dengan kesepakatan yang dicapai dengan anggota Majelis Bahasa Brunei Darussalam Indonesia Malaysia (MABBIM) tidak lagi mengutamakan keserumpunan semata-mata. Pengembangan peristilahan, misalnya kini dapat dilakukan dengan penyerapan dari bahasa Inggris. Kebijakan ini didasarkan pada perkembangan kebahasaan yang tidak terelakkan dari globalisasi yang menempatkan bahasa Inggris sebagai orientasi utama dalam pengembangan peristilahan.

Dinamika pertumbuhan bahasa Melayu ke bahasa Indonesia berjalan seiring dengan dinamika keindonesiaan. Bahwa bahasa Melayu merupakan "rumah" asal bahasa Indonesia merupakan kenyataan sejarah yang tidak dapat dihapuskan. Oleh karena itu, penghargaan terhadap tradisi kajian kebahasaan dan kajian kesastraan yang menampilkan Melayu merupakan ihwal yang harus didukung. Namun, perkembangan bahasa Indonesia tidak dapat dihentikan dengan hanya mengandalkan modal dasar perbendaharaan bahasa dan sastra Melayu. Dalam konteks keindonesiaan, bahasa Indonesia terbuka untuk menampung sumbangan leksikon dari bahasa di luar bahasa Melayu. Dengan cara itulah, kini bahasa Indonesia yang ketika masih dalam status bahasa Melayu dalam Kitab Pengetahuan Bahasa "hanya" memiliki 3.373 lema, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia telah berkembang sehingga mencapai angka 78.000 lema.

Naik tangga tidak mungkin langsung ke anak tangga paling atas. Naik tangga mulai pada anak tangga pertama. Dalam konteks itu Kitab Pengetahuan Bahasa karangan Raja Ali Haji adalah anak tangga pertama perkembangan bahasa kebangsaan kita. Anak tangga pertama itu tidak mungkin tidak ada, bahkan mutlak keberadaannya. Berangkat dari titik nol dan itulah yang dilakukan oleh Raja Ali Haji, dengan Bustanul Katibin dan Kitab Pengetahuan Bahasa. Oleh karena itu, penghargaan atas karangan Raja Ali Haji, sebagai pelopor penulisan atau tradisi penulisan tata bahasa dan kamus sudah selayaknya diberikan. Dapat disebutnya sebagai pembuat anak tangga pertama dan peletak dasar tradisi kajian bahasa di In­donesia.


Pujangga Penjaga Agama

Di awal catatan ini disebutkan bahwa Raja Ali Haji bagi pelajar sekolah amat terkait dengan Gurindam Dua Belas. Ingat Raja Ali Haji ingat Gurindam Dua Belas. Sumbangan Raja Ali Haji dalam bidang kesastraan sebenarnya bukan semata-­mata gurindam. Raja Ali Haji dapat dikenalnya juga sebagai pujangga pencipta sastra sejarah. Dialah yang menulis (bersama ayahnya Raja Ahmad) Tuhfat al-Nafis sastra sejarah yang dianggap orang kelengkapan dan kecermatan informasinya hampir setara dengan Sejarah Melayu. Dan tangannya juga terlahir sastra sejarah yang bertajuk Silsilah Melayu dan Bugis. Selain itu, dapat juga dicatat syair yang ditulis Raja Ali Haji, yakni Syair Abdul Muluk. Menurut pengakuan Raja Ali Haji sendiri, syair tersebut disusun bersama adiknya (yang sesungguhnya anaknya sendiri, yakni Raja Calihat). Kalau boleh disejajarkan, dapat disebut bahwa Tuhfat al-Nafis disusun bersama Raja Ahmad, ayahnya dan Syair Abdul Muluk ditulis bersama Raja Calihat, anaknya. Apa implikasi dan iklim kerja seperti ini? Mungkin dapat disebutnya sebagai terjalinnya hubungan baik ayah, anak, cucu. Atau, tradisi menulis itu didukung kuat oleh segenap anggota keluarganya.

Melalui Gurindam Dua Belas itu Raja Ali Haji menunjukkan minatnya yang besar terhadap tradisi dan puitika Melayu. Raja Ali Haji begitu menguasai puitika Melayu itu sehingga untuk kepentingan pengajaran dia menggubah ajaran itu dalam bentuk gurindam. Gurindam yang memendam ajaran tauhid dan akhlak Islami menempatkan Raja Ali Haji pada posisi pujangga, berikut fatwanya.

Gurindam Dua Belas diawali dengan pernyataan rendah hati Raja Ali Haji dalam bentuk syair sebagai berikut: 

Dengarkan Tuan suatu rencana

Mengarang di dalam gundah gulana

Barangkali gurindam kurang kena

Tuan betulkan dengan sempurna

 

Selanjutnya, baca pernyataan gurindam sebagai pengantar,

Bersimpanan yang indah-indah

Yaitulah ilmu yang memberi faedah

Aku hendak bertutur

Akan gurindam yang beratur


Begitulah Raja Ali Haji mengawali ajarannya dalam susun kata yang tiada cela. Bagaimana kita diminta "betulkan dengan sempurna" gurindam yang sempurna itu sebagai gurindam, tentulah sia-sia karena bentuk gurindam itu sudah sempurna.

Dari segi isi ajaran yang disampaikan, Raja Ali Haji memulai dengan pernyataan iman tauhid sebagai berikut:
 

Barang siapa tiada memegang agama

Sekali-kali tiada boleh dibilang nama

Barang siapa mengenal yang empat

Maka yaitu orang yang makrifat

 
Empat hal itu mencakupi kenal akan Allah, kenal akan diri sendiri, dan kenal akan dunia.
Itulah yang menjadi dasar tauhid seorang hamba dan dinyatakan dalam rangkaian kata yang teratur sebagai gurindam.

Pada Gurindam pasal yang kedua dikemukakan ihwal prinsip Islam yang mencakupi syahadat, sembayang, berpuasa, berzakat, dan berhaji. Kelima rukun Islam itu dinyatakan dalam lima gurindam, satu rukun dalam satu gurindam. Di sinilah letak kekuatan sistematika ajaran Islam yang disampaikannya. Hal berikutnya yang diajarkan adalah ilmu tasawuf dengan penekanan pada budi pekerti. Dalam pasal ketiga, misalnya dikemukakan, "Apabila terpelihara mata / Sedikitlah cita-cita // Apabila terpelihara kuping / Kabar yang jahat tiadalah damping // dan seterusnya berurusan dengan ihwal menjaga anggota tubuh yang lainnya juga mulai dari lidah, tangan, perut hingga kaki. Pada pasal keempat dikemukakan ihwal menjaga hati: Hati itu kerajaan di dalam tubuh / Jikalau zalim segala anggota pun rubuh. Pasal ini terdiri atas sebelas gurindam dengan keteraturan rima yang tetap terjaga.

Pasal lima hingga pasal delapan berkaitan dengan ajaran tentang bagaimana berhubungan dengan orang lain, pendeknya bermasyarakat, misalnya ajuran: Jika hendak mengenal orang berbangsa / Lihat kepada budi dan bahasa // Jika hendak  mengenal orang yang baik perangai / Lihatlah pada ketika bercampur dengan orang ramai//. Pada pasal ini pula diungkapkan ajaran kepada anak, misalnya: Apabila anak tidak dilatih / Jika besar bapaknya letih. Ajaran yang berkaitan dengan keluarga itu ditegaskan lagi dalam pasal sepuluh, seperti jangan durhaka kepada bapak, hendaklah hormat kepada ibu, jangan lalai kepada anak, kepada istri (dan gundik) jangan lupa. Peringatan akan bahaya syetan dan iblis masuk juga dalam gurindam kesembilan yang menekankan pentingnya memelihara akhlak dari perilaku syetan dan iblis, dikemukakan: Tahu pekerjaan tak baik tetapi dikerjakan / Bukannya manusia yaitulah syetan/  Kejahatan seorang perempuan tua / Itulah iblis punya punggawa // Kebanyakan orang  yang muda-muda / Di situlah syetan tempatnya berkuda. Peringatan ini diakhiri dengan anjuran: Adapun orang tua yang hemat / Syetan tak suka membuat sahabat // Jika orang muda kuat berguru / Dengan syetan jadi berseteru. Gurindam Dua Belas ditutup dengan pernyataan : Akhirat itu terlalu nyata / kepada hati yang tidak buta.

Begitulah isi fatwa sang Pujangga, Raja Ali Haji. Ada sistematika isi ajaran yang dilatarbelakangi dengan nilai-nilai Tauhid dan Tasawuf. Perumpamaan yang ada di dalamnya mengingatkan kita pada tradisi kaum sufi dalam mengemukakan ajarannya kepada sang murid. Demikian juga ihwal yang menyangkut penataan antarhubungan dimulai dengan Tuhan, dengan diri sendiri, dengan orang lain, dan masyarakat. Sistematika ajaran yang disampaikan demikian teratur disampaikan dalam bentuk yang teratur pula, yakni gurindam. Atas dasar ini dapat disebut Raja Ali Haji itu pujangga agama artinya pujangga penganjur ditegakkan nilai-­nilai keberagaman dalam lingkungan terkecil hingga lingkungan yang lebih luas.


Kalam Penutup

Dengan penempatan Raja Ali Haji sebagai munsyi dan pujangga, kini sampailah tulisan ini pada simpulan bahwa sumbangan Raja Ali Haji tak terkira. Dalam konteks zaman yang sarat dengan intrik dan konflik kepentingan antar sesama Melayu dan Bugis, Raja Ali Haji berhasil mempersembahkan karya yang tidak mungkin dilupakan generasi sekarang. Rintisannya dalam bidang kajian kebahasaan dan leksikografi hendaknya diletakkan dalam perspektif zamannya. Dengan cara itu dapat diberikan penghargaan yang selayaknya. Sebagai pujangga, sumbangannya pada tradisi puitika Melayu melalui Gurindam Dua Belas menempatkan dirinya pada posisi terhormat. Gurindam menjadi bentuk khas yang diwariskan kepada generasi berikutnya yang dengan model puitika gurindam dapat bertutur dengan santun dan puitis.

Gajah meninggalkan gading, harimau meninggalkan belang. Raja Ali Haji meninggalkan Bustanul Katibin, Kitab Pengetahuan Bahasa, dan Gurindam Dua Belas. Semua itu hanya berarti kalau diberikan penghargaan dan pengakuan yang layak kepadanya.

                                                            -------------ooOoo----------------

Bacaan

  •  Djamaris, Edward. 1986. Puisi Indonesia Lama Berisi Nasehat. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penertiban Buku Sastra Indonesia dan Daerah.
  • Kridalaksana, Harimurti (ed.). 1991. Masa Lampau Bahasa Indonesia: Sebuah Bunga Rampai. Jakarta: Kanisius.
  • Saleh, Siti Hawa Haji (ed.).1987. Cendikiawan Kesusastraan Melayu Traditional. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
Dr. Dendy Sugono, adalah doktor Ilmu-ilmu Sastra Jurusan Linguistik, Kepala Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional RI, Ketua Majelis Bahasa Brunei Darussalam – Indonesia – Malaysia (MABBIM), Ketua Majelis Sastra Asia Tenggara (MASTERA).


  [*] Naskah tulisan ini pernah dimuat dalam buku “Sejarah Perjuangan Raja Ali Haji sebagai Bapak Bahasa Indonesia” halaman 394-404, yang diterbitkan atas kerjasama Pemerintah Kota Tanjungpinang, Riau dan UNRI Press Pekanbaru.

Kredit foto : www.rajaalihaji.com

Dibaca 4.497 kali

Sila Tulis Komentar Anda Disini !



Artikel terkait