Versi Indonesia
English version
Pengunjung Online : 55
Hari ini :590
Kemarin :561
Minggu kemarin:4.240
Bulan kemarin:32.329

Anda pengunjung ke 2.195.344
Sejak 11 Rabi'ul Awal 1429
( 19 Maret 2008 )


Pengunjung Baru ?
   |   


www.melayuonline.com www.wisatamelayu.com www.rajaalihaji.com www.tengkuamirhamzah.com www.ceritarakyatnusantara.com www.adicita.com www.maharatu.com www.jogjatrip.com www.kerajaannusantara.com www.infokorupsi.com www.indonesiawonder.com
Jum'ah, 26 Ramadhan 1435 (Kamis, 24 Juli 2014)
 
31 Maret 2008 04:54
Raja Ali Haji:Tokoh Bahasa dan Sastra Melayu Abad XIX
Raja Ali Haji:Tokoh Bahasa dan Sastra Melayu Abad XIX
Oleh: I Nyoman Veda Kusuma[2]

Pendahuluan

Dalam sejarah perkembangan sastra Indonesia yang didasari pada periodisasi/angkatan nama pengarang Raja Ali Haji jarang disebutkan. Namun, beliau dikenal lewat pelajaran sastra Indonesia di Sekolah Menengah Umum Tingkat Pertama (SMP) maupun Sekolah Menengah Umum Tingkat Atas (SMA) sebagai pengarang Gurindam Dua Belas. Walaupun demikian, peran beliau tidak dapat dipungkiri dalam perkembangan sastra Indonesia, sebab kelahiran sastra Indo­nesia tidak dapat dipisahkan dari perkembangan sastra Melayu atau disebut juga dengan sastra Indonesia lama.

Pernyataan di atas didukung oleh salah satu hasil rumusan Kongres Bahasa Indonesia II di Medan pada tahun 1934 yaitu: Asal Bahasa Indonesia adalah Bahasa Melayu; dan Dasar Bahasa Indonesia adalah Bahasa Melayu yang disesuai­kan dengan perkembangan dalam masyarakat Indonesia sekarang. Berdasarkan keputusan Kongres Bahasa Indonesia II tersebut, dapat dikatakan bahwa Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu yang digunakan oleh negara tetangga kita, Malaysia sekarang merupakan bahasa yang serumpun (rumpun bahasa yang sama). Dengan demikian, secara logika dapat ditegaskan bahwa bahasa dan sastra Melayu itu sekaligus merupakan cikal-bakal lahirnya bahasa dan sastra Indonesia. Bertolak dari pandangan itu, secara otomatis karya-karya beliau yang menggunakan media Bahasa Melayu yang lahir pada awal abad ke-19 sebagai awal perkembangan Bahasa dan Sastra In­donesia yang sekaligus menunjukkan bahwa Raja Ali Haji sebagai tokoh pengarang pada zamannya.

Pangeran dari Riau

Riau adalah tanah kelahiran pengarang Raja Ali Haji. Di daerah itu merupakan tempat beliau melakukan kegiatan sebagai penulis karya-karyanya. Mendengar nama Riau, pikiran kita pasti tertuju kepada sebuah Propinsi yang pertama beribu­ kota di Tanjungpinang. Sebagai daerah kepulauan dengan pelabuhannya yang sudah dikenal sejak ratusan tahun silam dapat dipastikan bahwa Riau mempunyai peran penting dalam perdagangan. Sejak dahulu, perahu dan kapal layar hilir mudik datang dan pergi dari Semenanjung Malaka ke tempat-tempat dibelahan selatan melalui pelabuhan di kawasan itu. Banyak perahu dan kapal layar dari Bugis, Jawa, Siam, Bali, Cina, dan kapal-kapal dari benua Eropa pernah singgah di pelabuhan Riau tersebut. Di sanalah pengarang Raja Ali Haji melaksana­kan kegiatan menulis melahirkan karya-karyanya baik di bidang bahasa (Bustan Al-Katibin), sastra (Gurindam Dua Belas) maupun Sejarah (Silsilah Melayu dan Bugis dan sekalian Raja-Rajanya serta Tuhfat Al-Nafis). Dalam dirinya (Raja Ali Haji) mengalir darah Bugis dari moyang laki-lakinya. Ia adalah salah seorang cucu dari Raja Haji yang gugur pada tahun 1784 di Teluk Ketapang saat menyerang Belanda di Malaka (Winstedt, 1932: 320).

Seperti pepatah yang mengatakan: Buah itu jatuhnya tidak jauh dari pohonnya, demikianlah perilaku Raja Ali Haji. Setidaknya ada tiga orang pendahulunya yang mempengaruhi bakat dan kepribadiannya semasa hidup. Pertama kakeknya, Raja Haji yang jihad di Teluk Ketapang melawan Belanda. Ia sangat menghormati dan fanatik pada kakeknya yang dibuktikan dengan selalu mencantumkan namanya pada karya­-karyanya dengan nama yang lengkap yaitu: Raja Ali Haji Ibn Raja Ahmad Ibn yang Dipertuan Muda Raja Haji fi Sabilillah. Kedua Uaknya Raja Jakfar yang disebutkan dalam Tuhfat Al-Nafis (hlm.212) sebagai orang yang bijaksana, sayang pada keluarga, ramah, hormat pada orang tua, disegani teman­-temannya, suka berguru dan menghormati para ulama serta pergaulannya sangat luas. Ketiga adalah ayahnya sendiri yaitu Raja Ahmad yang perangainya tidak berbeda dengan Uaknya. Suka kepada ilmu pengetahuan dan taat pada ajaran agama Islam. Beliaulah pelopor rombongan jemaah haji yang pertama dari Kepulauan Riau dan Lingga. Pengaruh dari ketiga orang itulah yang membentuk dirinya menjadi seorang muslim yang taat melaksanakan ajaran agama, serta penulis yang handal di bidang bahasa, sastra dan sejarah.

Buah Karya Raja Ali Haji

Berdasarkan katalog Ph. S. van Ronkel yang tersimpan di Museum Jakarta, tercatat bahwa hasil karya Raja Ali Haji disebutkan sebanyak 7 buah yakni: (1) Tuhfat Al-Nafis, (2) Silsilah Melayu dan Bugis dan Sekalian Raja-Rajanya, (3) Gurindam Dua Belas, (4) Bustan Al-Kantibin, (5) Nasihat, (6) Syair Abdul Muluk, dan (7) Thamra Tu Al-Muhammadiyafa (Saidi, 1962:32). Di antara ke tujuh karyanya itu yang paling dikenal sampai kini adalah Tuhfat Al-Nafis, Silsilah Melayu dan Bugis dan Sekalian Raja-Rajanya, Gurindam Dua Belas, dan Bustan Al-Katibin.

Gurindam Dua Belas selesai ditulis oleh Raja Ali Haji pada Tanggal 23 Rajab 1263 H. Karyanya itu pernah dinilai oleh E. Netscher yang dimuat dalam T.B.G. jilid II tahun 1854. Dalam pengantarnya disebutkan bahwa Gurindam Dua Belas kalau dibaca sangat menyenangkan bagi telinga orang Eropa. Gambaran citanya sangat indah dan ungkapan-ungkapannya berisi, karya sastra Gurindam itu dapat dikatakan seolah-olah merupakan “peralihan atau bentuk antara” bentuk Pantun dan Syair. Gurindam terdiri dari dua baris, bersajak sama. Baris pertama merupakan syarat sedangkan baris kedua merupakan jawabannya.

Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji ini terdiri atas 12 pasal. Tiap-tiap pasal merupakan satu kesatuan isi. Menurut Saidi (1962: 68-69) isi dari Gurindam Dua Belas itu adalah:                                                                                                                              

Pasal 1
berisi nasihat tentang agama dan mistik;
Pasal 2 
berisi nasihat tentang rukun Islam;
Pasal 3  
   
berisi nasihat tentang memelihara alat-alat panca indra;
Pasal 4  
   
berisi nasihat tentang menghadapi sifat-sifat nafsu, perasaan pikiran dan perbuatan manusia yang baik dan yang jahat;

Pasal 5 

berisi nasihat tentang mengenal sifat-sifat orang yang baik, mulia dan luhur;

Pasal 6

berisi nasihat tentang mencari teman hidup yang baik;

Pasal 7 

berisi tentang kewaspadaan terhadap sesuatu per­buatan, jangan terlalu berlebih-lebihan, jangan ter­lalu menurutkan perasaan hati, dan bagaimana cara bertingkah laku semestinya;
Pasal 8 
berisi nasihat tentang perlakuan terhadap diri sendiri;

Pasal 9 

berisi nasihat tentang menghindari perbuatan syaitan di mana tempat-tempat syaitan dan bagaimana caranya menjauhi tempat itu;

Pasal 10  

berisi nasihat tentang sikap yang sebaiknya dalam hubungan kekeluargaan antara ayah, ibu, anak dan istri;

Pasal 11

berisi nasihat tentang sikap yang sebaiknya dalam pergaulan di masyarakat dan pemerintahan; dan

Pasal 12

berisi nasihat tentang kepemimpinan seorang raja dalam pemerintahannya agar berhasil di dunia dan akhirat.

Dalam Gurindam Dua Belas, Raja Ali Haji ingin menyampaikan nasihat atau pesan yang mengingatkan kita agar selalu melaksanakan hubungan dengan Tuhan, dengan pemerintah dan menyeimbangkan kehidupan sendiri atas nafsu dan perbuatan. Itulah keistimewaan isi Gurindam Dua Belas, dan keunikannya pasal-pasal di dalamnya merupakan suatu kesatuan yang ditata sedemikian rupa sehingga mewujudkan suatu yang tersohor dalam kesusastraan Melayu.

Tubfat Al-Nafis dan Silsilah Melayu dan Bugis beserta Raja-­Rajanya karya Raja Ali Haji mengungkap tentang sejarah. Menurut Winstedt (1932:320) kitab tersebut sangat penting setelah kitab Sejarah Melayu. Lebih lanjut dikatakan bahwa kitab Tubfat Al-Nafis merupakan sebuah karya sejarah yang mengungkap peristiwa-peristiwa sejak jatuhnya kerajaan­-kerajaan di daerah Riau sampai kedatangan bangsa-bangsa Eropa ke daerah itu. Diungkapkan juga mengenai Silsilah Raja-Raja Selangor. Kitab ini terdiri atas 228 halaman, setiap halaman terdiri dari 22 baris. Selesai ditulis tahun 1370 H.

Sebagai seorang penulis sejarah, Raja Ali Haji ingin bersikap objektif mengenai permusuhan yang terjadi antara orang-orang Bugis dengan Raja Kecil di Riau agar tidak menim­bulkan dampak psikologis di antara keduanya. Kekritisannya yang lain misalnya ia pernah mengecam penulis Sejarah Siak yang dianggapnya kurang dapat dipertanggungjawabkan atas peristiwa-peristiwa yang diungkap karena tidak sesuai dengan kenyataan. Ketelitiannya yang lain ia mencatat dengan teliti perjanjian-perjanjian yang dilaksanakan oleh raja-raja Melayu, masalah adat-istiadat kerajaan dan peristiwa-peristiwa penting yang menyangkut kehidupan masyarakat Riau. Dalam kitab itu juga diungkapkan mengapa kakeknya sampai syahid dalam perang melawan Belanda di Teluk Ketapang? Salah satu sebab­nya karena Selangor sudah berperang melawan Belanda di Malaka. Kakeknya juga mengharap semua pengikutnya melakukan Jihad fi Sabilillah. Demikianlah kekhasan Raja Ali Haji sebagai penulis sejarah yang amat teliti, kritis dan selalu memilih sumber-sumber yang logis menurut pandangannya.

Dalam karyanya Bustan Al-Katibin banyak dijumpai istilah-istilah Arab. Hal itu disebahkan oleh pengaruh keadaan lingkungannya. Pada waktu itu kebanyakan di istana Raja-Raja Melayu berkomunikasi sering menggunakan Bahasa Arab, seiring dengan perkembangan Agama Islam di daerah itu. Bahkan pada waktu ini, di daerah Semenanjung Malaka sudah suatu idaman bagi orang-orang tua untuk menyekolahkan anaknya menimba ilmu pengetahuan ke Timur Tengah khususnya Mekah atau Mesir.

Penulisan kitab Bustan Al-Katibin merupakan permintaan Yang Tuan Muda Raja Ali ibn Raja Jakfar yang dimaksudkan untuk diajarkan kepada saudara-saudaranya serta anak-anak raja, terutama dalam keperluan surat-menyurat (Saidi, 1981:3). Kitab tersebut juga mengungkap Hadith-­Hadith Nabi, kata-kata hikmah dan nasihat-nasihat tentang kewajiban mencari ilmu pengetahuan keagamaan dari orang­-orang alim, misalnya: Ilmu Tauhid, Ilmu Furu‘ (Fiqh), dan Ilmu Tasawuf.

Kitab Bustan Al-Katibin terdiri atas 31 pasal yang dapat diperinci menjadi dua bagian. Bagian pertama dari pasal 1 sampai dengan pasal 14 membicarakan tentang morfologi (bentuk kata) dan bagian kedua dari pasal 15 sampai dengan 31 membicarakan tentang sintaksis (tata kalimat). Bagian terakhir penutup kitab berisikan tiga pesan pokok yaitu: (1) bagi yang belajar kitab ini hendaknya mematuhi tiap-tiap pasal serta carilah guru yang ahli; (2) yang rnengajarkan kitab ini hendaknya memberikan contoh-contoh yang baik yang mudah dipahami oleh anak didik, jika terdapat kesalahan atau kekurangan hendaknya diperbaiki dari sumbernya Kitab Nahwu, dan (3) kepada siapa saja yang menggunakan kitab itu dan mengambil nasihat dari padanya, hendaknya dilaksanakan secara baik dan cermat. Setelah selesai pintalah doa dan ampun kepada Allah Ta‘ala bagi pengarang kitab ini serta puji-pujian kepada Allah dan Rasul (Saidi, 1981: 46-47).

Kesimpulan

Berdasarkan pemahaman terhadap karya Raja Ali Haji yang telah diuraikan di atas dapat dikatakan bahwa pengarang tersebut sangat besar jasanya dalam perkembangan Sastra Melayu pada abad ke-19 yang menjadi cikal-bakal kelahiran sastra Indonesia. Dia adalah tokoh bahasa dan sastra yang pantas menjadi pahlawan nasional. Nasihat-nasihat/petuah yang terungkap dalam karya-karyanya (Raja Ali Haji) mengandung nilai-nilai yang masih relevan apabila diaplikasikan dalam kehidupan dewasa ini. tersebut merupakan produk lokal (daerah Melayu) yang dapat disumbangkan untuk pengembangan khazanah budaya nasional. Untuk itulah warisan budaya itu perlu dilestarikan demi kepentingan generasi penerus agar dapat dijadikan teladan dalam kehidupannya sehari-hari, demi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

----------------------ooOoo---------------------------

Daftar Pustaka

  • Netscher, E, 1854. "De Twaalf Spreukgedichten" (Gurindam Dua Belas): Eene Maleisch gedicht door Radja Ali Hadji van Riouw. Museum Djakarta T.B.G. 2th.
  • Ronkel, van. 1901. "Bustan Al Katibin". Museum Djakarta: T.B.G. Djilid 44.
  • Rosidi, Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia. Bandung: Bina Cipta.
  • Saidi, Shaleh. 1962. "Raja Ali Haji Sebagai Penulis dan Pembicaraan Beberapa Hasil Karyanya". Yogyakarta: Thesis Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada.
  • …………1969. Gurindam Dua Belas. Singaradja: Direktorat Bahasa dan Kesusastraan Direktorat Djenderal Kebudajaan Departemen pendidikan dan Kebudajaan.
  • ………….1981. Bustan Al Katibin: Sebuah Kitab Tata Bahasa Indonesia Yang Tertua (1857). Denpasar: Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Udayana.
  •  Winstendt, R.O. 1932. "A Malay History of Riu and Johore" (Tuhfat Al Nafis) JMBRAS. Vol. X: II.

 

[1] Naskah tulisan ini dimuat dalam buku “Sejarah Perjuangan Raja Ali Haji sebagai Bapak Bahasa Indonesia” halaman 436-442, yang diterbitkan atas kerjasama antara Pemerintah Kota Tanjungpinang, Provinsi Riau dan UNRI Press.

[2] Dr. I Nyoman Weda Kusuma, MS. adalah Dosen Fakultas Sastra Universitas Udayana Bali.

Kredit Foto : http://photos1.blogger.com/blogger/1690/173/1600/gurindam.jpg

Dibaca 6.473 kali

Sila Tulis Komentar Anda Disini !



Artikel terkait