Versi Indonesia
English version
Pengunjung Online : 41
Hari ini :266
Kemarin :990
Minggu kemarin:5.772
Bulan kemarin:20.531

Anda pengunjung ke 2.220.236
Sejak 11 Rabi'ul Awal 1429
( 19 Maret 2008 )


Pengunjung Baru ?
   |   


www.melayuonline.com www.wisatamelayu.com www.rajaalihaji.com www.tengkuamirhamzah.com www.ceritarakyatnusantara.com www.adicita.com www.maharatu.com www.jogjatrip.com www.kerajaannusantara.com www.infokorupsi.com www.indonesiawonder.com
Ahad, 26 Syawal 1435 (Sabtu, 23 Agustus 2014)
 
25 Mei 2011 04:16
Syair Nasehat untuk Raja Bijak Bestari
Syair Nasehat untuk Raja Bijak Bestari

Oleh Hudjolly, M.Phil

Pendahuluan

Membaca Syair Nasehat Kepada Anak (SNKA) karya Raja Ali Haji (RAH) dalam konteks situasi masa kini terasa menyentuh kalbu (lihat lengkap SNKA di www.RajaAliHaji.com). Untaian kata yang dirajut sederhana tanpa berbuai yang menunjukkan makna sebagai anjuran, petuah dari ayahanda terhadap anakanda, guru pada muridnya terkasih.

Dengarkan tuan ayahanda berperi

Kepada anakanda muda bestari

Jika benar kepada diri

Masihat kebajikan ayahanda beri

Larik kalimat menggunakan pilihan kata yang lugas dan padat dengan irama bunyi mendayu beriringan. Tak urung pembaca yang telah menyelami riwayat hidup RAH dan memahami konstelasi sosial politik kebudayaan saat itu merasakan betapa besar kekhawtiran RAH terhadap realitas masyarakat di negerinya. Dalam karya Tuhfat Al Nafis, RAH meresahkan kerajaan yang dikecamuk konflik internal. Kerajaan diapit kekuatan dari luar, konflik internal keturunan raja-bangsawan dan kekuatan Belanda dan Inggris yang semakin meluas (Tuhfat Al Nafis: 300-319). Sementara itu, budi dan pekerti para petinggi kerajaan semakin menurun, rupanya RAH merasakan susahnya mencari orang-orang bijak. Dalam pandangan RAH generasi muda saat itu sulit diharapkan partisipasinya dalam mempertahankan adat Melayu[1]. Bahkan, RAH khawatir terhadap keadaan anak-anaknya sendiri yang tidak lagi begitu tertarik budaya Melayu. Kekhawatiran itu disampaikan RAH pada sahabat penanya, Hermann von De Wall. RAH meminta temannya itu agar membantu membuat sekolah untuk mendidik anak-anak muda tentang budaya Melayu.

Rupanya dua kekhawatiran itu mengendap dalam ruang psikis RAH, sehingga SNKA terlahir sebagai kritik sosial atas anomali budaya saat itu sekaligus menjadikannya sebagai “petisi” kepada para raja bestari yang masih terhitung muridnya. Tafsir SNKA sebagai “petisi” menggunakan beberapa asumsi. Pertama, posisi RAH sebagai kerabat kerajaan yang melekatkan kesadaran sosial politik ke dalam segi keahlian sastra dirinya. Kedua, dalam perspektif hermeneutika, sebuah teks (sastra SNKA) bersifat  otonom atau berdiri sendiri dan tidak bergantung pada maksud pengarang. Otonomi teks bertumpu pada tiga pijakan, yakni intensi (maksud pengarang), situasi kultural (kondisi sosial pengadaan teks), dan kepada siapa teks itu ditujukan. Lebih jauh, Paul Riecoeur sebagaimana dikutip Mudjia Raharjo (2008:49), meletakkan perluasan ruang otonomi teks dengan melakukan dekontekstualisasi, yakni materi teks melepaskan diri dari cakrawala intensi pengarangnya yang terbatas. Langkah rekontekstualisasi juga dapat ditempuh dari perluasan ruang otonomi teks SNKA. SNKA membuka diri terhadap kemungkinan dibaca secara luas, dalam perspektif pembaca yang selalu berbeda-beda.

Berangkat dari dua asumsi di atas, syair SNKA bukan semata-mata syair yang dibuat untuk sekadar menasehati.[2] Ungkapkan syair nasehat moral antara ayah dan anak, merupakan alegori tentang relasi penguasa dan abdi. Sebuah peringatan kepada raja tanpa menjatuhkan wibawanya di hadapan rakyat.  Meskipun raja adalah muridnya namun dari segi kekuasaan tetaplah ia raja yang harus dihormati dan dibela oleh RAH. Makna “petisi” itu dapat dirasakan dari pemilihan kata yang menyandingkan kekuasaan dengan moralitas ideal di awal pembukaan syair sebagai seruan moral, serta di bagian tengah syair bait ke 12 hingga 15.

Ayuhai anakanda muda remaja

Jika anakanda mengerjakan raja

Hati yang betul hendaklah disahaja

Serta rajin pada bekerja

 

Mengerjakan gubernemen janganlah malas

Zahir dan batin janganlah culas

Jernihkan hati hendaklah ikhlas

Seperti air di dalam gelas

 

Jika anakanda menjadi besar

Tutur dan kata janganlah kasar

Janganlah seperti orang sasar

Banyaklah orang menaruh gusar

Dalam keruhnya situasi politik kerajaan, RAH masih percaya akan adanya transparansi pemerintahan kerajaan, kebijakan para muda bangsawan untuk menjunjung tinggi adat Melayu. Kritik sosial itu pun dilontarkan dalam syair sebagai kalimat untuk mengutarakan suatu maksud secara santun. Syair Melayu di tangan RAH menjadi senjata perlawanan. Gaya “melawan” dalam dunia sastra semacam ini banyak ditemui dalam, misalnya, karya-karya Chairil Anwar, WS Rendra, dan lain-lainnya. Bahkan, spirit sastra perlawanan (dan kritik sosial) itu rasanya terwariskan juga dalam syair-syair komunitas cendekia Rusydiah Club, sebuah komunitas sastra di tanah kelahiran RAH. 

Bahasa dan Alegori RAH

Bahasa lisan masyarakat Melayu sudah sedemikian akrab dengan pantun dan syair. Bagi orang-orang yang menekuni sastra seperti RAH, syair menempati sentral bahasa pengungkapan maksud. Untuk menyampaikan suatu maksud tidak harus menggunakan bahasa terbuka, tetapi dapat dilakukan secara tersamar lewat alegori syair atau majas dalam pantun. Sartono Kartodirdjo (1987:17-18) menyampaikan beberapa fungsi bahasa antara lain: mencerminkan gaya dan etos peradaban, serta menjadi media untuk membangun ide, kesadaran, pikiran, memori, dan imaginasi manusia.

Jika memerintah dengan cemeti

Ditambah dengan perkataan mesti

Orang menerimanya sakit hati

Barangkali datang fikir hendak mati

 

Lihatlah pemilihan kata “memerintah dengan cemeti” pada syair SNKA. Kalimat ini merupakan alegori, perumpamaan untuk menyatakan “tangan besi”, yakni memerintah secara paksa disertai ancaman. Tangan besi bukanlah makna tersembunyi dari “memerintah dengan cemeti”, melainkan alegori. Penggunaan alegori menghindarkan diri dari telaah pencarian makna tersembunyi di dalam teks. Untuk mencapai pembacaan alegori pada SNKA hanya dapat dilakukan secara interpretatif. Pembaca tidak lagi meletakkan jarak dengan SNKA agar hubungan antara dua antara diskursus teks dan diskursus interpretasi dapat dilakukan. Interpretasi dianggap sudah berhasil mencapai tujuan apabila dunia teks dan dunia interpreter telah berbaur menjadi satu (E. Sumaryono, 1999:41).

Otonomi Teks

Otonomi teks SNKA bertumpu pada tiga hal: intensi (maksud pengarang), situasi kultural (kondisi sosial pengadaan teks), dan kepada siapa teks itu ditujukan. Otonomi teks berkaki tiga dapat dlilihat dari SNKA bait pertama:

Ayuhai anakanda muda remaja

Jika anakanda mengerjakan raja

Hati yang betul hendaklah disahaja

Serta rajin pada bekerja

Syair ini akan membawa interpreter pada realitas teks bahwa RAH menyampaikan maksud tentang diperlukannya suatu totalitas jatidiri sebagai raja, yakni hati yang bersahaja dan rajin bekerja (kaki pertama: intensi). Pengetahuan ini menunjukkan bahwa raja tidak ditempatkan sebagai kedudukan yang tidak terjamah, ditaati mutlak sebagaimana lazimnya tradisi kerajaan (kaki kedua: situasi kultur dan kondisi sosial). Syair itu menggambarkan situasi kultural kebudayaan Melayu yang tidak taat secara membuta kepada raja, tidak menggambarkan kekuasaan raja sebagai perwakilan tuhan yang selalu suci dan benar. Pemikiran sosial ideologis yang berkembang dalam kultur semacam itu bukan teokrasi atau feodal, sekalipun bentuk pemerintahannya adalah kerajaan. Paradigma sosial tersebut merupakan sintesa dari pemahaman Islam yang telah melekat dalam sistem kepemimpinan Melayu.[3] Melihat pokok pesan yang dimaksudkan oleh pengarang, dapat diambil kesimpulan bahwa syair tersebut ditujukan pada raja. Jika ditujukan kepada khalayak ramai, apalah gunanya kalimat //jika anakanda mengerjakan raja//, tentu saja semua orang mahfum dalam sistem kerajaan jabatan raja yang tidak terbuka untuk umum melainkan bergantung hereditas semata (kecuali dalam keadaan abnormal seperti perang).

Simak bait selanjutnya:

Mengerjakan gubernemen janganlah malas

Zahir dan batin janganlah culas

Jernihkan hati hendaklah ikhlas

Seperti air di dalam gelas

Dalam bait ini terdapat teks yang sengaja mengacu pada suatu urusan pemerintahan: “gubernemen”. Untuk memahami ini, interpreter pun tiada perlu mendatangkan pemaknaan eksplisit, cukuplah kata itu sebagai tanda perwakilan keadaan yang dimaksud. Kita ambil contoh berbeda, “kicau camar menyambar sarang”, kata yang dipilih dalam kalimat ini cukup mewakili suasana laut, pantai di kala temaram senja yang memaksa burung-burung pulang. Tiga baris kalimat yang mengikuti “Mengerjakan gubernemen janganlah malas” juga dihadirkan bersambung untuk menyempurnakan mengerjakan gubernemen dengan kondisi zahir dan batin yang jujur jauh dari sifat licik culas, mengerjakan segala sesuatu dengan hati yang jernih seperti air di dalam gelas, ikhlas.

Bait berikutnya:

Jika anakanda menjadi besar

Tutur dan kata janganlah kasar

Janganlah seperti orang sasar

Banyaklah orang menaruh gusar

Penggalan bait ini menyertai kelengkapan karakter jatidiri sang raja yang besar, bukan lagi raja remaja seperti disebut pada bait ke dua. Sikap dan tutur kata raja besar (dewasa) tiada boleh berbentuk bahasa kasar yang membuat hati bawahan menjadi gusar.

Lihatlah bait berikut ini:

Tutur yang manis anakanda tuturkan

Perangai yang lembut anakanda lakukan

Hati yang sabar anakanda tetapkan

Kemaluan orang anakanda fikirkan

Untaian bait ini melanjutkan tuntutan karakter jatidiri raja (pemuka) pada bait sebelumnya. Kalimat dalam bait ini menggambarkan manfaat yang dapat diperoleh raja yang bertutur kata baik (manis), juga menandaskan perilaku lembut sebagai pemimpin, sabar, dan memperhatikan perasaan hati orang yang dipimpin. Apabila kata-kata nasehat SNKA dimaksudkan untuk khalayak ramai sebagai nasehat umum, sebagaimana pendapat banyak peneliti RAH, tentulah syair ini tidak perlu menerangkan subjek-subjek kepemimpinan yang disebar di sejumlah bait syair (bait ke 2, 3, 6, 15 16,dan 17). Syair ke -17 secara berterus terang juga menandaskan tujuan syair ini:ananda muda bangsawan.

Lihatlah syair ke enam dan ke tujuh berikut ini:

Kesukaan orang anakanda cari

Supaya hatinya jangan lari

Masyurlah anakanda dalam negeri

Sebab kelakuan bijak bestari

Nasehat ayahanda anakanda fikirkan

Keliru syaitan anakanda jagakan

Orang berakal anakanda hampirkan

Orang jahat anakanda jauhkan

Syair ke-6 dimaksudkan untuk menggalang kesetiaan dari orang lain. Apabila SNKA ditujukan pada khalayak umum, bukankah mereka tidak memerlukan kesetiaan semacam itu, cukuplah nasehat untuk berperilaku saling menghormati, menghargai orang lain, bertutur kata lembut dan berperangai baik. Syair ke 3, 4, 5 semuanya menandaskan pentingnya perilaku, yang ternyata bermuara pada pencapaian supaya hati jangan lari: kesetiaan. Bait syair ke-7 mengandung maksud permintaan, perhatian terhadap isi syair sebelumnya sekaligus mengingatkan konsekuensi religius atas pengabaian terhadapnya. Memberikan anugerah jabatan didasarkan atas sehatnya akan, prinsip kebaikan, dan harus menegasikan orang-orang yang ambisius.

Syair ke-8 dan ke-9 di bawah ini merupakan antitesis dari syair ke-3 sampai ke-6. Pikiran yang karu, gegabah dan menurutkan nafsu ibarat anjing pemburu yang tiada pantas diikuti. Penggunaan kata orang besar juga menjadi alamat pada siapa pengibaratan itu ditujukan. Demikian pula penghadiran kata “Bencilah orang hilir dan hulu” merujuk pada keadaan sosial orang-orang penting (jabatan basah atau orang hilir) hingga rakyat biasa (orang hulu, jauh dari pusat kekuasaan). Alegori hilir dan hulu berhubungan dengan sumber air (sumber kehidupan/kekuasaan), semakin jauh aliran air semakin jauh dari sumbernya. Orang-orang hulu adalah orang yang paling jauh dari sumber kekuasaan, mereka adalah rakyat.

Setelah orang besar fikir yang karu

Tidak mengikut pengajaran guru

Tutur dan kata haru-biru

Kelakuan seperti anjing pemburu

Tingkah dan laku tidak kelulu

Perkataan kasar keluar selalu

Tidak memikirkan orang empunya malu

Bencilah orang hilir dan hulu

Syair ke-10 dan ke-11 berisi pesan terbuka yang merupakan konklusi dari bait yang berisi antitesis (ke-8 dan ke-9) “Itulah orang akalnya kurang”. Bait ini menjadi intro untuk menyampaikan maksud sebagaimana bait ke-12 dan ke-13. Syair ke-12 dan ke-13 secara gamblang menceritakan perbuatan negatif “orang besar” yang membuat hal-hal buruk, menebar kesalahan bagai seorang ceroboh. Kalimat ini juga ditujukan untuk orang besar  bodoh dengan alegori “seperti harimau mengejar rusa”

Itulah orang akalnya kurang

Menyangka diri pandai seorang

Takbur tidak membilan orang

Dengan manusia selalu berperang

Anakanda jauhkan kelakukan ini

Sebab kebencian Tuhan Rahmani

Jiwa dibawa ke sana sini

Tiada laku suatu dewani

Sampailah pada bait yang mencurigakan: relasi kerajaan yang lebih lemah terhadap kekuasaan yang lebih besar (Belanda). Lihatlah bait berikut ini:

Patut juga mencari jasa

Kepada raja yang itu masa

Tetapi dengan budi dan bahasa

Supaya negeri ramai temasya

Nampak nuansa kerajaan yang lemah dirasakan pada kata “patut juga mencari jasa, kepada raja yang itu masa” di hadapan raja yang lebih berkuasa (Belanda). Ini simpulan negatif bahwa kerajaan mencari “jasa” terhadap kerajaan Belanda? Kata ini juga membuka peluang sebagai perkataan alegoris dengan maksud: membuat terobosan (dalam bidang perdagangan). Terobosan diperlukan di tengah semakin surutnya lalu lintas perdagangan di selat, kalah pesona daya tarik dengan pelabuhan dagang Melaka, atau pelabuhan Singapura yang dikuasai Inggris.

Pusat perdagangan rempah dan lalu lintas perdagangan Melayu bertumpu di segitiga wilayah ini, dermaga-dermaga sepanjang pulau Jawa telah surut kejayaannya di masa itu. Untuk meramaikan kembali kerajaan, RAH menunjukkan suatu cara yakni penguasaan bahasa dan perilaku santun mengesankan, agar orang yang berniaga berkenan dan akan datang kembali supaya negeri ramai temasya. Dalam perspektif yang luas, apa yang dimaksud oleh RAH perilaku yang santun dan mengesankan orang  identik dengan strategi branding pada sistem perdagangan modern. Seolah RAH hendak mengajukan teori komunikasi bisnis modern: dengan bahasa yang mengena (positif branding evoked) dan perilaku yang baik (brand attitude) menjadikan ciri khas daya tarik tersendiri (brand image) untuk para pedagang. Ini suatu interpretasi yang terlalu berani dan akan mengundang perdebatan menarik.

Kembali pada model interpretasi otonom teks SNKA. Syair ke-15 dan ke-16:

Apabila perintah lemah dan lembut

Semua orang suka mengikut

Serta dengan malu dan takut

Apa-apa kehendak tidak tersangkut

Jika mamerintah dengan cemeti

Ditambah dengan perkataan mesti

Orang menerimanya sakit hati

Barangkali datang fikir hendak mati

Semakin jelaslah bahwa maksud pengarang SNKA mengajurkan tata cara yang santun ketika memerintah dalam konteks atasan pada bawahan. Lihatlah teks memerintah dengan cemeti, bagi khalayak umum mustahil memerintah (dalam arti menyuruh) secara paksa, yang mau tidak mau harus ditaati meskipun berat hati. Perintah paksa yang ditaati hanya bisa disampaikan dalam suatu relasi: atasan-bawahan, orangtua-anak, atau relasi struktur lain. Apalagi orang yang melaksanakan perintah sampai merasa tertekan sebagaimana teks datang fikir hendak mati, tentulah ada kekuasaan tinggi yang menciptakan kondisi sosial underpressure semacam itu.

Dua bait akhir SNKA (syair ke-17 dan 18) hanyalah penutup “petisi” di mana penekanan tujuan terasa ditonjolkan secara terbuka. Dapat dilihat dari teks 17, “Inilah nasehat ayahanda tuan, Kepada anakanda muda bangsawan” dan pada teks 18 “Ayahanda memberi tabik dan salam”.

Inilah nasehat ayahanda tuan

Kepada anakanda muda bangsawan

Nafsu yang jahat anakanda lawan

Supaya kita jangan tertawan.

Habislah nasehat habislah kalam

Ayahanda memberi tabik dan salam

Kepada Orang Masihi dan Islam

Mana-mana yang ada bekerja di dalam

Pembacaan SNKA di atas merupakan khazanah baru atas karya-karya RAH. Selama ini SNKA lazim ditafsirkan sebagai syair nasehat sebagaimana teks judul, padahal “nasehat” adalah sebuah alegori untuk “petisi”. Dalam bahasa modern term “nasehat” dari rakyat (bawahan) kepada pemimpin disampaikan dengan cara ”mosi tidak percaya” atau “rekomendasi kebijakan”sebagaimana dilakukan organisasi masa, atau “petisi” yang lebih bersifat politis, serta di ranah yuridis formil  ada “somasi” yang berarti teguran yang berisi itikad baik untuk tidak menempuh jalur formal. RAH menyampaikan  ketidakpuasan dan kritik sosial kepada penguasan itu dalam term informal “nasehat” kepada “anak”.

Penutup

Menggunakan pembacaan di atas, SNKA terasa masih cukup relevan dengan kondisi sosial masa kini. SNKA mampu melintasi perbedaan zaman, perbedaan sosial. Tetapi rasanya agak berlebihan jika menyebut keberhasilan lintas zaman itu datang lantaran kemahiran RAH meramu kata, melainkan kepiawaian sasaran bidik RAH yang mengkritik model kepemimpinan. Model kepemimpinan yang baik dan yang jahat tentu bersifat universal dan lintas zaman[4], karena hal tersebut merupakan general karakter (karakter yang berlaku umum).

Di tengah modernitas yang dihimpit penggunaan rekayasa teks, SNKA layak untuk disuarakan sebagai “nasehat” kepada pempimpin masa kini: tiadalah pantas pemimpin  berperilaku seumpama anjing pemburu atau harimau mengejar rusa. Pemimpin harus mampu bersikap tegas “Nafsu yang jahat anakanda lawan, Supaya kita jangan tertawan, agar bangsa ini tidak tertawan oleh nafsu pemangsa pihak penguasa. Menjadi bangsa yang merdeka dari sikap pemimpin yang “setengah yang kurang akal dan bahasa, sangatlah gopoh hendak berjasa,”. Tiada perlu membuat bangsa ini nampak berjasa di mata raja dunia tetapi di dalam negeri ke sana ke mari langgar dan rampuh, apa yang terkena habislah roboh, apa yang berjumpa lantas dipelupuh. Semoga nasehat RAH masih terdengar hingga jauh, hingga sekarang dan masa yang akan datang.

__________

Hudjolly M.Phil, Peminat Kajian Tradisi


Referensi

E. Sumaryono, 1999. Hermeneutik Sebuah Metode Filsafat. Yogyakarta, Kanisius

Mudjia Raharjo, 2008.  Dasar-dasar Hermeneutika; Antara Intensionalisme dan Gadamerian. Yogyakarta, Ar-Ruzz Media Group.

Sartono Kartodirdjo, 1987. Kebudayaan Pembangunan dalam Perspektif Sejarah. Yogyakarta: Gadjah Mada Univerity Press.

Hudjolly, 2010. Nalar Pemberontakan, dalam www.RajaAliHaji.com

Hudjolly, 2010. Raja Ali Haji: Memadukan Tradisi Islam-Melayu dalam www.RajaAliHaji.com

Raja Ali Haji. ”Tsamarat Al Muhimmah” dalam Mahdini, 1999. Tsamarat Al Muhimmah, Pemikiran Raja Ali Haji Tentang Peradilan. Pekanbaru. Yayasan Pusaka Riau.

Raja Ali Haji, Tuhfat al Nafis.

Van der Putten & Al Azhar, (ed). 1997. Di dalam Berkekalan Persahabatan. ‘In Everlasting Friendship.’ Letters from Raja Ali Haji. Leiden: Department of Languages and Cultures of Southeast Asia and Oceania, University of Leiden. Terj Indonesia. Surat-surat Raja Ali Haji Kepada Von de Wall, Jakarta. KPG (2007).



Catatan:

[1] Lihat surat-surat yang disampaikan oleh RAH kepada seorang petugas dari Batavia yang ditempatkan di daerah Riau-Lingga-Melaka, Hermann von De Wall. Surat-surat tersebut telah dibukukan oleh van der Putten. Dari isi surat-surat itu, kehidupan pribadi RAH dapat dilihat, bahkan ia pun tak segan menceritakan keinginannya memperbaiki jam miliknya yang rusak.

[2] Demikian pula karya RAH yang lain seperti Tuhfat Al Nafis dan Tsamarat al Muhimmah, Lihat Hudjolly, 2010. Nalar Pemberontakan, dalam www.RajaAliHaji.com.

[3] Untuk bab kepemimpinan Islam Melayu lihat dalam karya RAH: Tsamarat al Muhimmah.

[4] Mengenai pemakaian sifat yang general dan sifat yang spesifik dalam karya-karya RAH dapat dilihat pada Hudjolly, 2010. Raja Ali Haji: Memadukan Tradisi Islam-Melayu, dalam www.RajaAliHaji.com.

Dibaca 11.526 kali

Sila Tulis Komentar Anda Disini !