Versi Indonesia
English version
Pengunjung Online : 38
Hari ini :193
Kemarin :1.374
Minggu kemarin:8.917
Bulan kemarin:40.086

Anda pengunjung ke 2.352.659
Sejak 11 Rabi'ul Awal 1429
( 19 Maret 2008 )


Pengunjung Baru ?
   |   


www.melayuonline.com www.wisatamelayu.com www.rajaalihaji.com www.tengkuamirhamzah.com www.ceritarakyatnusantara.com www.adicita.com www.maharatu.com www.jogjatrip.com www.kerajaannusantara.com www.infokorupsi.com www.indonesiawonder.com
Sabtu, 05 Safar 1436 (Jumat, 28 November 2014)
 
12 Oktober 2008 02:10
Sastrawan Riau dan Sastra Indonesia Mutakhir
Sastrawan Riau dan Sastra Indonesia Mutakhir


Oleh : Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono

Perkembangan sastra Indonesia merupakan kelanjutan dari sastra Melayu. Berdasarkan pandangan ini tentu para sastrawan lama dari daerah-daerah yang berbahasa Melayu merupakan pe­­lopor sastra Indonesia modern. Tidak mengherankan bila karya-karya Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi, Raja Ali Haji, Hamzah Fansyuri, dan lain-lain dianggap sebagai bagian dari sastra Indonesia. Dalam kurun waktu terakhir ini, penyair Sutardji Calzoum Bachri yang ingin mengembalikan kata kepada mantra muncul dalam arena perpuisian Indo­nesia. Sebagai seorang sastrawan Riau, ia telah memberikan sumbangan cukup besar terhadap sastra Indonesia mutakhir.

1. Pendahuluan

Judul tulisan ini menyiratkan bahwa sastrawan yang berasal dari Riau telah memberikan sumbangan bagi perkembangan sastra In­­do­­nesia mutakhir, suatu masa yang kita batasi sejak akhir ta­hun 60-an sampai terselenggaranya seminar ini. Judul itu tentu juga menyiratkan bahwa sastrawan dari daerah lain seperti Sunda, Kali­­mantan, dan Sumatera Barat bisa dan mungkin telah berbuat serupa. Sastra Indonesia yang kita miliki sekarang ini diciptakan oleh sas­tra­wan yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, karena bahasa Indonesia tidak lagi secara resmi menjadi milik daerah dan sukubangsa tertentu. Bahkan, boleh dikatakan bahasa ini telah mendesak bahasa-bahasa ibu yang dimiliki se­bagian besar orang Indonesia.

Anggapan yang secara luas diterima umum sekarang ini adalah bahwa bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Setidaknya, mau tidak mau harus diakui bahwa sebagian besar orang terpelajar kita se­­karang ini tidak akan menemui kesulitan besar membaca karangan yang ditulis dalam bahasa Melayu, termasuk yang ditulis lebih dari satu abad yang lampau. Setidaknya, ditinjau dari segi tata bahasa dan kosakata, jelas tampak adanya kesinambungan an­tara bahasa Melayu dan bahasa Indonesia. Oleh karena sastra me­rupakan bidang seni yang tidak terpisahkan dari bahasa sebagai alat penyampaiannya, maka sas­tra Indonesia dianggap sebagai per­kembangan yang wajar dari sas­tra Melayu. Berdasarkan pan­dangan ini tentu saja para sastra­wan lama dari daerah-daerah yang berbahasa Melayu dicantumkan sebagai pe­lo­por sastra Indonesia modern. Tidak meng­herankan apabila karya-karya Abdullah bin Abdulkadir Munsyi, Hamzah Fansuri, dan Raja Ali Haji dianggap sebagai bagian dari sastra Indonesia, sedangkan cip­­taan para sas­trawan lain yang sezaman, tetapi ditulis dalam bahasa dae­rah, di­ka­tegorikan sebagai sastra daerah.

Apabila kita berpegang pada pandangan tersebut harus dikatakan bahwa sumbangan yang pernah diberikan oleh sas­trawan lama dari Riau bagi sastra Indonesia sangat besar. Seti­dak­nya diakui bahwa pada abad kesembilan belas, sejumlah besar sastrawan dari Riau telah me­nulis dan menerbitkan syair-syair yang jumlahnya sangat banyak. Syair merupakan bentuk puisi yang dikenal luas di daerah-daerah ber­­bahasa Melayu (Riau khususnya), meskipun para sastrawan pada abad kesembilan belas juga menghasilkan prosa. Syair umumnya di­pergunakan untuk berkisah dan menyampaikan nasihat.

Berdasarkan bentuk dan isinya, ada dua hal yang bisa dicatat. Per­­tama, para penyair Riau masa itu, yang kebanyakan berasal dari Penyengat dan masih seketurunan, ternyata menyukai syair, sa­lah satu bentuk tetap dalam puisi Melayu. Bentuk lain yang juga di­per­­gunakan sebaik-baiknya, seperti gurindam yang dikenal luas di daerah-daerah lain di Indonesia berkat karya Raja Ali Haji, adalah juga suatu bentuk tetap. Kedua, kisah dan nasihat mem­butuhkan cara pengungkapan yang relatif mudah dipahami dan ditafsirkan. Umum­nya, untuk mencapai kedua maksud tersebut, maka makna ganda tidak diutamakan, bahkan dihindari.

Pada saat para sastrawan dari Penyengat itu bekerja, masyarakat Riau tentu juga melisankan jenis sastra dan bentuk puisi yang ber­beda. Di samping dongeng dan kisah yang dilisankan, jenis sastra lain seperti mantra pun tentu diucapkan. Mantra-mantra itu, meski ti­dak tersimpan serapi naskah-naskah yang diterbitkan di Penyengat dan Singapura, namun dianggap sebagai bagian sastra lama kita dan be­berapa di antaranya muncul dalam beberapa buku pelajaran ke­susastraan Indonesia.

Syair dan mantra sebenarnya merupakan dua bentuk puisi yang juga dikenal di luar daerah-daerah berbahasa Melayu, tentu dengan na­­ma-nama yang berlainan. Namun, sumbangan sastra­wan lama Me­­­layu bagi perkembangan sastra Indonesia tampak lebih jelas di­­bandingkan dengan yang diberikan oleh sastrawan dari daerah-dae­rah lain, karena bahasa Melayu memang paling mirip dengan ba­hasa persatuan kita ini. Seperti sudah disinggung, Riau menempati ke­dudukan penting dalam sejarah sastra lama Indonesia.

2. Sumbangan Riau Kepada Puisi Indonesia Modern

Sementara itu di Jawa pada akhir abad kesembilan belas, ber­sa­­maan dengan kegiatan para sastrawan dari Penyengat, sastra mo­dern yang juga ditulis dalam bahasa Melayu mulai berkembang. Ke­giatan yang semakin lama semakin marak itu antara lain ditandai oleh berdirinya sebuah badan penerbit yang dikenal dengan nama Ba­lai Pustaka, yang sepenuhnya digerak­kan oleh pemerintah kolo­nial Belanda waktu itu. Oleh beberapa pengamat, sastra terbitan Balai Pustaka sejak dasawarsa kedua abad ke-20 dianggap sebagai awal perkembangan sastra Indonesia modern. Dalam kegiatan yang ter­utama terjadi di Jawa itu, tampaknya peran para sastrawan dari Riau tidak begitu me­nonjol.

Perlu dicatat bahwa kegiatan sastra pada masa itu yang dimulai sejak sekitar akhir abad sebelumnya sampai Belanda me­ninggalkan Indo­nesia, tidak terbatas pada penerbit Balai Pustaka saja. Balai Pus­ta­ka sebelum Perang Dunia II telah menghasilkan sastra berbahasa Melayu yang banyak berkiblat ke Sumatera Barat, karena banyak pe­nulisnya yang berasal dari daerah tersebut. Pada waktu itu, bahasa Melayu rupanya tidak lagi merupakan milik khusus sastrawan dari dae­rah-daerah berbahasa Melayu. Orang Sunda, orang Bali, orang Jawa, orang Belanda, dan orang Cina pun mulai menciptakan sastra da­lam bahasa Melayu.

Namun, rupanya penulis puisi terpenting sebelum Perang Dunia II, Amir Hamzah, adalah seorang pangeran Melayu, meski­pun tidak berasal dari Penyengat. Sesudah kemerdekaan, sastra In­do­nesia tam­paknya mulai diisi oleh karya-karya penting yang ditulis oleh para sastrawan yang tidak berasal dari daerah-daerah berbahasa Melayu. Setelah kematian Chairil Anwar tahun 1949, puisi Indonesia mendapat sumbangan berharga dari para penyair yang berasal dari Pulau Jawa, seperti Ramadhan K.H., Toto Sudarto Bachtiar, dan Rendra. Mereka itu berasal dari daerah-daerah yang memiliki sastra lama sendiri, yang ketika mulai menulis dulu mungkin sekali tidak memiliki gambaran ten­­tang kegiatan sastra di Penyengat. Sampai dengan tahun 60-an boleh dikatakan tidak pernah dibicarakan munculnya penyair penting yang berasal dari Riau.

Baru sekitar paruh pertama dasawarsa ketujuh abad ke-20, puisi Indonesia modern mendapat sumbangan yang nyata dari seorang pe­nyair yang berasal dan Riau, Sutardji Calzoum Bachri. Ia menulis puisi yang berbeda bentuknya dari yang dihasilkan kebanyakan penyair Penyengat. Puisinya lebih dekat ke puisi yang dilisankan oleh pawang. Seperti katanya sendiri, “Maka menulis puisi bagi penulis adalah mengembalikan kata kepada mantra.” Nyatanya, sumbangan penyair ini terhadap perkem­bangan sastra Indonesia antara lain adalah pada penyampaian puisi kepada kha­layak secara lisan. Segi inilah yang akan dibicarakan secara khusus dalam tulisan ini, tanpa merendahkan segi lain yang sudah banyak di­bicarakan pe­ngamat lain.

3. Pembacaan Puisi

Membaca pusi, atau yang lebih dikenal dengan poetry reading, bukanlah hal baru dalam perkembangan kesenian kita. Sejak kira-kira tahun 1950-an, kegiatan semacam itu –yang mula-mula di­se­but deklamasi– sudah dikenal luas di kalangan pelajar. Lomba de­kla­­masi merupakan kegiatan yang biasa dilakukan oleh sekolah atau organisasi kesenian. Para penyair umumnya suka terlibat da­lam kegiatan semacam itu, bahkan beberapa di antaranya sejak se­­­mula telah menunjukkan kemampuannya sebagai deklamator. Na­mun demikian, pada waktu itu membaca puisi sendiri belum me­ru­pakan kegiatan yang banyak dilakukan. Baru pada akhir tahun 60-an khalayak sastra Indonesia diberi suguhan yang agak berbeda sehubungan dengan pembacaan puisi. Para penyair tam­pil di depan khalayak membaca puisinya sendiri dan biasanya diikuti dengan se­rangkaian tanya jawab. Kebiasaan semacam itu di beberapa negeri Barat sudah lama ada, tetapi tidak mendapat perhatian di kalangan pe­nyair kita sebelum akhir 60-an itu. Amir Hamzah, Chairil Anwar, dan Toto Sudarto Bachtiar misalnya, ti­dak beminat terhadap kegiatan semacam itu.

Penyair-penyair yang mempelopori pembacaan puisi semacam itu adalah Rendra dan Taufiq Ismail. Daya tarik utama Rendra adalah kemampuannya bermain di panggung, di samping pesan yang di­sam­paikan lewat puisinya. Pada umumnya, puisi Rendra berkisah ten­­tang kekuatannya, terutama yang terletak pada peng­gunaan majas yang sering sangat padat. Pembacaan puisi Taufiq Ismail menarik ter­utama karena kelakar dan ejekannya, di samping pencitraan yang tersusun dalam beberapa sajaknya. Kedua penyair ini memiliki ke­samaan dalam memikat khalayaknya; sebagian sajak mereka berisi sin­diran atau protes terhadap ketimpangan sosial.

Yang telah dilakukan kedua penyair itu membuktikan bahwa unsur bunyi dalam puisi bisa sangat penting, meskipun pada sebagian besar sajak yang mereka baca unsur makna lebih menentukan. Me­re­ka membaca puisi terutama untuk menyampaikan “pesan” ke­pa­da khalayaknya. Namun, hal itu bukan merupakan petunjuk bah­wa khalayak sepe­nuhnya bisa menangkap “pesan” itu, bahkan bu­kan petun­juk bahwa khalayak semata-mata datang untuk hal itu. Meskipun Taufiq Ismail dan Rendra tidak menyamakan puisi mereka dengan mantra, mungkin sekali bagi sebagian khalayak puisi itu te­rasa sebagai mantra.

4. Sutardji Calzoum Bachri Dan Mantra

Berbeda dengan kedua penyair itu, Sutardji Calzoum Bachri me­ng­­akui ingin mengembalikan kata kepada mantra. Ini berarti ia menghadapi persoalan yang tidak mudah dipecahkan penyair lain, ka­rena mantra pada dasarnya adalah puisi lisan, sedangkan yang di­­­hasilkannya adalah sastra tulis. Berbeda dengan jenis puisi lain, mantra terutama tidak dimasukkan sebagai alat komunikasi antar­ma­nusia, tetapi merupakan alat komunikasi manusia dengan alam gaib, bahkan untuk menghasilkan tenaga gaib.

Sebagai sastra lisan, mantra menyandarkan sebagian besar ke­kuat­an­nya pada unsur bunyi sebagai alat untuk berkomunikasi dengan alam gaib dan untuk menghasilkan tenaga gaib. Mantra tidak perlu sepenuhnya dipahami manusia. Apa­bila mantra diucap­kan, orang yang mendengarnya dan juga mengucapkannya tidak perlu se­­­penuhnya memahaminya. Yang lebih penting adalah bunyi yang sedemikian rupa sehingga bisa tercipta komunikasi dan tenaga gaib itu.

Puisi yang ditulis Sutardji Calzoum Bachri, sesuai dengan kre­do­­­nya, tentu harus mampu menciptakan semacam tenaga gaib, te­tapi puisi itu ditulis untuk berkomunikasi dengan manusia, ti­dak dengan alam gaib. Di atas kertas, ia tentu juga diharapkan mampu men­ciptakan kekuatan gaib, setidaknya suasana gaib. Bagi penulis, Sutardji adalah penyair modern kita yang pertama dengan sungguh-sungguh menyadari pentingnya tipografi dalam penulisan puisi. Di atas kertas, cara yang dapat menerjemahkan kekuatan bunyi adalah ti­pografi. Seperti halnya bunyi yang disusun dengan baik, tipografi me­rupakan unsur visual yang mam­pu dengan segera merebut per­hatian kita.

Dalam sajak Rendra yang berjudul Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta misalnya, perhatian pembaca tidak tertuju kepada tipo­grafi, tetapi pada pengertian-pengertian yang disampaikannya; pem­bacaan sajak tersebut tentu diharapkan bisa semakin memper­jelas pengertian-pengertian itu. Demikian juga, misalnya beberapa sajak pendek Taufiq Ismail yang merupakan penciptaan kembali beberapa pepatah kita. Hal serupa itu tentu tidak berlaku bagi sajak Sutardji seperti yang dikutip ini.

Tragedi Winka & Sihka

 

kawin

     kawin

           kawin

                kawin

                     kawin

                           ka

                                win

                                      ka

                                win

                           ka

                     win

                ka

         winka

                winka

                     winka

                           winka

                                sihka

                                      sihka

                                           sihka

                                                sih

                                                      ka

                                                           sih

                                                      ka

                                                sih

                                           ka

                                      sih

                                ka

                           sih

                     ka

                           sih

                                sih

                                      sih

                                           sih

                                                sih

                                                      sih

                                                           ka

                                                                ku


Membaca sajak tersebut, pengertian-pengertian seperti yang bisa kita dapatkan dari sajak-sajak Taufik Ismail dan Rendra ti­dak akan ter­­capai, sebab memang Sutardji tidak bermaksud me­nyampaikan pengertian-pengertian semacam itu. Seperti halnya dalam mantra, unsur bunyi lebih menonjol dibandingkan unsur makna, dan rupanya penyair ini menyadari benar hal itu.

Tidak seperti kebanyakan penyair, Sutardji tidak hanya berhenti pada tulisan. Ia sengaja berusaha melisankan puisinya sebaik-baik­nya. Baginya, pembacaan puisi bukanlah sekadar kegiatan sam­pingan bagi apa yang telah ditulisnya, tetapi merupakan bagian yang tak ter­­pisahkan dari kegiatan kepe­nyairannya. Dengan demi­kian, tulisan Sutardji merupakan sema­cam naskah sandiwara yang baru sempurna apabila dipen­taskan. Di panggung, sajak-sajaknya seperti “Q” dan “Pot” men­jelma menjadi seni lisan yang mampu memukau khalayaknya, meskipun di atas kertas sulit dibayangkan cara membacanya. Penulis kita, Popo Iskandar, benar ketika me­nyatakan bahwa sajak-sajak Su­tar­dji baru mendapat harga penuh bila dibacakan, tentunya oleh pe­nyairnya sendiri.

Berdasarkan apa yang telah dilaksanakannya selama ini, bahwa Sutardji bukan saja pembaca puisi yang baik, tetapi penyair yang dengan bersungguh-sungguh berusaha menciptakan tenaga gaib de­ngan cara membaca puisinya sendiri, maka ia adalah penyair mo­dern Indonesia pertama yang menyadari hal itu, dan apa yang dilakukannya itu menunjukkan hasil yang nyata, yang merupakan sumbangan bagi perkembangan puisi Indonesia. Penghargaan ke­pada unsur bunyi dalam puisi, penghargaan terhadap pembacaan puisi, dan perhatian terhadap pendengar, bukan hanya pembaca puisi, telah meningkat. Pembacaan puisi Sutardji selalu mendapat perhatian besar, dan be­berapa penyair telah berusaha mengikuti jejaknya, tentu dengan hasil yang berbeda-beda.

                                              ----------------ooOoo----------------

_______________________

Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono, lahir di Solo, 20 Maret 1940. Lulus jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (1964). Basic Hu­ma­nities Program, Honolulu, Universitas Hawaii, AS (1970–1971). Menjadi dosen IKIP Malang cabang Madiun (1964–1968), Pengajar Fakultas Sastra, Uni­versitas Diponegoro (1968–1974), Pengajar Fakultas Sastra, Universitas Indonesia (1975–sekarang). Kegiatan lainnya adalah sebagai Direktur Pelaksana Yayasan Indonesia (1973–1978), Sekretaris Yayasan Dokumentasi Sastra HB Jassin (1975– sekarang), Ketua Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (1984–sekarang).Mantan anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) ini juga menulis esei dan kritik. Pernah menjadi redaktur Basis dan bekerja sebagai redaksi Horison.

Karya pertamanya dimuat di Post Minggu, Semarang, Desember 1957. Setelah itu puisi-puisinya banyak menghiasi media Ibu Kota, termasuk majalah Mimbar Indonesia pimpinan H. B. Jassin, “paus” sastra Indonesia. Sedangkan karya-karya lainnya adalah, Kumpulan sajak: Duka-mu Abadi, Jeihan/Pustaka Jaya, (1969), Mata Pisau, Puisi Indonesia/Balai Budaya, (1974), Akuarium, Puisi IndonesiaBalai Pustaka, (1974), Perahu Kertas, Balai Pustaka, (1983) –kumpulan syair Perahu Kertas ini mendapat penghargaan Dewan Kesenian Jakarta, 1983. Sihir Hujan, Dewan Bahasa dan Pustaka, Malaysia, (1984) karya ini menerima anugerah ‘‘Puisi Putra II‘‘ dari Gabungan Persatuan Penulis Nasional (Gapena), Malaysia. Sosiologi Sastra, Sebuah Pengantar Ringkas, Pusat Bahasa, (1978), Novel Indonesia sebelum Perang, Pusat Bahasa, (1979), Tifa Budaya, ed., Leppenas, (1980), Seni dalam Masyarakat Indonesia, ed., Gramedia, (1983), Sastra Indonesia Modern: Beberapa Catatan, Gramedia, (1983). Karya ter­je­mahannya antara lain, Lelaki Tua dan Laut (Ernest Hemingway), Daisy Manis (Henry James), dan Lirik Klasik Parsi, semuanya pada 1970-an. Salah satu sajaknya, Berjalan Ke Barat Waktu Pagi Hari dimuat dalam antologi puisi dunia.

_______________________

Makalah ini disampaikan pada Seminar “Masyarakat Melayu Riau dan Kebudayaannya”, yang diselenggarakan di Tanjungpinang, Riau, Indonesia, pada tanggal 17 – 21 Juli 1985. (Dengan penambahan hyperlink dari rajaalihaji.com)

Mengingat pentingnya makalah ini, Redaksi rajaalihaji.com memuat ulang dengan penyuntingan seperlunya.

Kumpulan makalah (prosiding) seminar ini telah dibukukan dengan judul “Masyarakat Melayu dan Budaya Melayu dalam Perubahan”, dengan editor Prof. Dr. Heddy Shri Ahmisa-Putra, setelah dilakukan penyuntingan ulang pada klasifikasi dan urutan pada daftar isi, bahasa, maupun perubahan judul. Editor juga memberikan Wacana Pembuka dan Wacana Penutup serta Kata Pengantar pada setiap bagian. Diterbitkan oleh Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM), Edisi Eksklusif (Hard Cover), 965 halaman.


Kredit foto : Sebagian koleksi Buku-buku yang diterbitkan oleh Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu

Dibaca 9.100 kali

Sila Tulis Komentar Anda Disini !



Artikel terkait