 |
Pengunjung Online : 26
Anda pengunjung ke 151.796 Sejak 12 Rabi'ul Awal 1429 ( 20 Maret 2008 )
|
Tsulasa', 09 Muharam 1430 (Selasa, 6 Januari 2009)
 | Oleh : Maryulis Max
Begitu banyak kisah percintaan yang berujung pada kisah kasih tak sampai berseliweran mewarnai kesusastraan dunia. Mulai dari kisah cinta abadi Romeo dan Juliet di Italia, Ohatsu dan Tokubei di Jepang, Uda dan Dara di Malaysia atau Cleopatra di Mesir, Helen dari Troya Yunani, Siti Nurbaya dan Syamsul Bahri di Minangkabau, kali ini Rida K Liamsi men... detail... » |
| |  | Oleh : Ding Choo Ming
Dunia kepenulisan di masyarakat Melayu pada abad ke-18 belum menitikberatkan nama, hak serta status pengarang. Kala itu, kepengarangan merupakan pekerjaan yang mirip seperti halnya tukang kayu yang bekerja berdasarkan permintaan pasar. Berdasarkan logikan tersebut, hasil karangan atau tulisan sebelum abad ke-19 “bukan karya” sipengarang, melainkan ... detail... » |
| |  | Oleh : Mahdini
Eksistensi suatu negara ditentukan oleh tiga hal, yaitu adanya wilayah, pemimpin, dan rakyat yang dipimpin. Pada masa lampau, kerajaan-kerajaan juga mensyaratkan adanya pemimpin atau raja. Oleh sebab itu, keberadaan raja adalah niscaya. ”Rakyat itu umpama akar, raja itu umpama pohon; jikalau tiada akar niscaya pohon tiada akan dapat berdiri”. Itula... detail... » |
| |  | Oleh : Hasan Junus
Siapa menyangka jika Pulau Penyengat ternyata merupakan mas kawin yang diberikan Sultan Mahmud Marhum Besar alias Marhum Mesjid sang penguasa Kerajaan Johor kepada Engku Puteri Raja Hamidah alias Engku Puteri. Dalam rentetan sejarah, belum ada satupun permaisuri raja yang mendapat mas kawin sebesar mas kawin yang diperoleh Engku Puteri. Kiranya, En... detail... » |
| |  | Jika diibaratkan dengan hubungan kekeluargaan, kesusastraan Indonesia dan Malaysia bagaikan saudara kembar, kakak-beradik sekandung. Demikian dinyatakan Maman S. Mahayana dalam pengantar bukunya yang mengkhususkan topik kajian sekitar persoalan akar, sistem dan konflik ideologi dalam sastra kedua negara serumpun ini.
detail... » |
| |  | Oleh : Hasan Junus
Raja Haji dan Raja Ali Haji merupakan dua tokoh Melayu Riau yang dikenal sebagai Pahlawan Nasional. Raja Haji adalah seorang pemimpin kharismatik yang telah berhasil menghancur-leburkan armada laut Belanda di Perairan Riau pada tanggal 6 Januari 1784. Sedangkan Raja Ali Haji adalah seorang budayawan yang jangkauan karyanya meliputi berbagai bidang ... detail... » |
| | | | | | |
|
 |