Versi Indonesia
English version
Pengunjung Online : 34
Hari ini :144
Kemarin :194
Minggu kemarin:2.066
Bulan kemarin:10.498

Anda pengunjung ke 4.144.787
Sejak 11 Rabi'ul Awal 1429
( 19 Maret 2008 )


Pengunjung Baru ?
   |   


www.melayuonline.com www.wisatamelayu.com www.rajaalihaji.com www.tengkuamirhamzah.com www.ceritarakyatnusantara.com www.adicita.com www.maharatu.com www.jogjatrip.com www.kerajaannusantara.com www.infokorupsi.com www.indonesiawonder.com
Tsulasa', 01 Rabi'ul Akhir 1440 (Senin, 10 Desember 2018)
Mazhab Riau
Oleh : Hudjolly
Mazhab Riau
Judul Buku
:
Dari Raja Ali Haji ke Indragiri, Rampai Sastra Indonesia
Penyunting:Asrizal Nur
Pengantar:Maman S Mahayana
Penerbit:
Yayasan Panggung Melayu
Cetakan
:
Cetakan Pertama, 2007
Tebal Buku
:
12 x 9 cm, 102 hal
 

Sejarah sastra di Indonesia masih perlu dianyam kembali, sebab masih banyak serpihan penting yang belum terpintal dalam batang tubuh “sejarah sastra Indonesia”.  Rangkaian riwayat para sastrawan dari Indragiri sebelum dan sesudah Raja Ali Haji, merupakan salah satu contoh ke-tinggal-an itu.  Contoh lain adalah pembentukan sekat  geografis yang mempersempit kebesaran para sastrawan.  Sebut saja Tun Sri Lanang dan Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi, dua tokoh yang berasal dari Melayu, mendadak diberi sekat geografis masa kini. Abdul Kadir Munsyi diberi garis sebagai sastrawan di luar negeri (Singapura), demikian pula Tun Sri Lanang (Malaysia). Itulah kepingan lain yang sulit disatukan karena menyangkut pemerian batas wilayah masa kini, padahal  para sastrawan itu berjaya di masa lalu dan lahir dari rahim yang sama: Melayu.

Yayasan Panggung  Melayu pada tahun 2007  silam, mencoba meretas masalah tersebut dengan menerbitkan buku berjudul :  Dari Raja Ali Haji  ke Indragiri, sebuah buku kumpulan karya sastra. Para penyumbang tulisan buku disebut oleh Taufik Ikram Jamil sebagai sastrawan Mahzab Riau (hal ix).

Buku rampai sastra Indragiri tersebut berisi sebuah esai tentang Sekilas Kreativitas  Sastra dari Raja Ali Haji ke Indragiri ditulis oleh Haji.S.S Sai Gergaji. Disusul tiga cerpen  tulisan Abel Tasman, Mosthamir Thalih, si pengarang  buku “Telatah Wak Atan”  yang diproduksi menjadi serial TV di Riau. Berikutnya sajak-sajak dari Hafney Maulana, Herman Rante, Iwan Kusumawijaya, Jacob Syafei, SPN GP Ade Darmawi, Tengku M Sum dan sajak-sajak dari Tengku Sayed Basirun al Habsyi.

Nampaknya Mahzab Riau, atau kepulauan Riau dan Indragiri  yang merupakan daerah kantung utama Melayu, telah melahirkan segudang nama sastrawan berkelas. Nama Sutardji Calzoum Bachri berasal dari Rengat . Nama Sarimin Ismail berasal dari  Saleguri yang kemudian pindah ke Teluk Kuantan. Siapa tidak kenal nama Chairil Anwar?  Ayah dari Chairil adalah salah seorang Bupati Indragiri.  Masih ada nama lain seperti Ibrahim Sattah dan perantau asal Martapura yang menetap di Indragiri: Tuan  Guru Syekh Abdurahman Sidiq (hal 4-5). Namun, Sutardji maupun Sarimin bukanlah wakil nasional dari Mahzab Riau.

Mahzab Riau—menurut Mahayana (hal ix)—merupakan konsep berlandaskan ideologis dan visi estetik dalam konteks sebuah gerakan sastra Indonesia yang diberikan oleh Ikram Jamil.  Memang, sastrawan semacam Abel Tasman dan Sai Gergaji misalnya, merupakan dua sastrawan yang karya-karyanya memperlihatkan semangat perlawanan kultural, politik dan sosial yang menimpa puaknya (hal ix).

Dalam buku ini, Sai Gergaji mewartakan informasi penting  tentang  kiprah sastrawan Indragiri pasca Raja Ali Haji.  Abel Tasman, seorang cerpenis,  menyuguhkan semacam potret sosiologis yang paradoksal, berkelok-kelok namun menggunakan narasi mengalir. Tasman menawarkan sebuah kecemasan tentang  keadaan Riau (Melayu) yang tersekat-sekat batas  geografis dan keadaan seluruh negeri yang  tergerus perubahan sosio-budaya.

Mosthamir Thalib menyajikan dua sketsa yang mengandung  kegeraman atas praktik tindakan kebrengsekan  manusia atas manusia (hal x), mengkritik para politisi yang lebih suka mengurus keadaan dirinya daripada rakyatnya.  Semangat ini pula yang terekam dalam  buku santai penuh humor sitkom  Telatah Wak Atan” terbitan Adicita (2007).   Cerpen “Pengakuan Duit Haram” menjadi metafor menarik, berkisahlah  sekumpulan  uang  dalam  koper,  berbagi cerita tentang pengalaman diri mereka (kaum duit) sebagai “duit haram”:

Perwakilan Duit VI: (selembar duit kumuh mewakili dirinya sendiri) Sudah banyak pengalamanku diperlakukan sebagi duit haram. Satu kali aku dijadikan alat tukar untuk maksiat setelah transaksi “permesuman”. Lantas aku dipegang oleh seorang pelacur bau kencur. Iiiiih..., menggigil rasanya aku!

Para Duit           : (ketawa) Ha ha ha haaaa...!! (hal 25)

Sebuah keresahan  puak Melayu diguratkan oleh Tengku M Sum:

Traktat  London

Hanya

Secebis

Surat keparat

Itulah

Yang membentangkan

Sempadan

Di antara kita

(Singapura , Riau, Johor)

..... (hal 69)

Pada sketsa lain  Tengku M Sum meneriakan kematian budaya:

Pantun, gurindam, syair , mantra, dendang, nyanyi panjang bangsawan, tonil,menelu, mak Yong, mamanda, lamut, madihin, Telah disajikan tontonan sekedar pelepas lelah. Tanpa renungan, tanpa hakekat. Inilah lukisan dunia di atas kanvas kehidupan... (hal 67)

Apa yang hendak disampaikan buku ini adalah sebuah pesan untuk tidak membelenggu sastrawan dan kebesaran karyanya sebatas wilayah geografis masa kini. Raja Ali Haji tidak dapat lah ia diklaim sebagai milik Kepulauan Riau, karena ia berkibar jauh sebelum penetapan batas itu ada . Raja Ali Haji, Abdul Kadir Munsyi dan Tun Sri Lanang adalah milik Melayu, dan masing-masing  daerah yang kini terpisah sekat  politik itu mesti dilambungkan kembali ke pangkuan Melayu.

Buku ini menarik dibaca pecinta sastra untuk mengenal sastra Mahzab Riau, sekaligus merasakan kegelisahan yang dihadirkan dalam cerpen dan sajak ber-aroma Melayu. 

Hudjolly, Editor Rajaalihaji.com dan Melayuonline.com

Dibaca 3.048 kali

Sila Tulis Komentar Anda Disini !