Versi Indonesia
English version
Pengunjung Online : 18
Hari ini :128
Kemarin :194
Minggu kemarin:2.066
Bulan kemarin:10.498

Anda pengunjung ke 4.144.771
Sejak 11 Rabi'ul Awal 1429
( 19 Maret 2008 )


Pengunjung Baru ?
   |   


www.melayuonline.com www.wisatamelayu.com www.rajaalihaji.com www.tengkuamirhamzah.com www.ceritarakyatnusantara.com www.adicita.com www.maharatu.com www.jogjatrip.com www.kerajaannusantara.com www.infokorupsi.com www.indonesiawonder.com
Tsulasa', 01 Rabi'ul Akhir 1440 (Senin, 10 Desember 2018)
Raja Haji Fisabilillah “Hannibal dari Riau”
Oleh : Hudjolly
Raja Haji Fisabilillah “Hannibal dari Riau”
Judul Buku
:
Raja Haji Fisabilillah “Hannibal dari Riau”
Penulis
:
Hasan Junus
Penerbit:
Yayasan Pustaka Riau, Pekanbaru
Cetakan
:
Kedua, Tahun 2002
Tebal
:
108 halaman
 

Temaram senja dan sepoi angin laut pesisir mengantarkan layar perahu komando “Bulang Linggi” merapat di Teluk Ketapang. Perlahan namun begerak cepat, beriap-riaplah  ribuan pasukan menuruni kota-kota. Wilayah Semabuk, Bandar Hilir, Bandar Raya, Bukit Cina, daerah di sekitar Melaka, satu persatu ditaklukkan. Kota pusat VOC di semenanjung itu telah terkepung.  Dari arah berbeda, pasukan yang dipimpin Sultan Selangor dan Rembau menyergap melalui laut, menyusur pantai sampai  ke Tanjung Keling, memblokade kota Melaka. VOC di kota Melaka tercekat.

“Het was beschamed! (alangkah memalukan)” komentar HJ de Graaf, sang sejarawan.

Een handere hannibal (Seorang Hannibal lain)” Kata Jonkheer Ruych, seorang perwira Belanda di kapal Utrecht.

Ingatan perwira Belanda itu melayang ke zaman sekitar 200 tahun sebelum masehi, Hanibbal, seorang pemimpin dari Kartago (Afrika Selatan) membawa 59.000 orang menyeberangi Laut Tengah untuk menyerbu kota Roma, pusat kerajaan Romawi. Kali ini, seorang Melayu, Raja Haji membawa ribuan pasukan gabungan menyerang pusat kekuasaan VOC.

Sejarah merekam peristiwa pengepungan Raja Haji pada tanggal 13 Februari 1784. Pasukan itu merupakan gabungan Riau, Asahan, Siak, Batu Bahara, Indragiri, Jambi (pesisir Sumatra) ditambah pasukan dari Selangor, Naning, Rembau (pesisir Kalimantan), semua pasukan dikomando oleh Yang Dipertuan Muda Raja Haji. Dia lah yang  mendarat di Teluk Ketapang dan dalam tempo singkat langsung merangsek ke gerbang kota. Teluk Ketapang berada sekitar 15 kilometer sebelah selatan kota Melaka.

Saat itu VOC tengah sibuk menghadapi perlawanan serupa di Jawa dan Maluku dan mereka telah kalah dalam suatu pertempuran Riau beberapa waktu sebelumnya. Pertempuran Riau dipimpin oleh Raja Haji Kelana. Ketika perang ini berkecamuk, Raja Haji masih diberi pangkat Kelana, karena saat itu usianya masih terlalu muda untuk jabatan Yang Dipertuan Muda. Tetapi jabatan Kelana tidaklah ringan, ia menjaga semua perairan pesisir Sumatra. Petualangannya di laut inilah yang menjadikan Raja Haji banyak berhubungan dan disukai oleh Jambi, Selangor, Asahan dan negeri-negeri di pesisir Sumatra dan Kalimantan.

Raja Haji mendapatkan gelar Pangeran Sutawijaya dari negeri Jambi, mempersunting anak Raja Asahan, membangun kota perdagangan baru di  Kuala Cinaku dan Pekan Lais di negeri Indragiri. Di Selangor,  ia mengangkat Raja Lumu menjadi Sultan. Di Pontianak, ia mengangkat Syarif Abdul Rahman sebagai Sultan pertama (hal 11). Dukungan dan gabungan kekuatan armada untuk menyerang VOC diperoleh dari negeri-negeri ini. Dari negeri-negeri Jawa ia baru sempat berkirim surat, blokade perairan Riau kala itu tidak berhasil menembuskan misi pembentukan persekutuan ke daerah yang lebih luas.  

Sumber dari Belanda, RO Winstedt, menyebut jumlah pasukan penyergap kota Melaka ‘thousand warriors dan ‘three hundred women’(hal 43). Kalkulasi jumlah yang sulit diperkirakan.  Dalam versi Tuhfat al Nafis yang ditulis oleh Raja Ali Haji,  Yang Dipertuan Muda Raja Haji sadar bahwa penyerangan tersebut akan memakan waktu lama, sehingga para pemimpin pasukan membawa serta anak dan istri mereka. Rupanya jumlah 300 wanita yang dimaksud Winstedt samadengan jumlah pemimpin pasukan penyerangan itu.

Raja Haji memang pernah didera kekalahan di medan perang, pahanya terluka hingga ia harus didukung untuk keluar dari medan tempur. Kelak luka paha itulah yang digunakan Belanda untuk mengindentifikasi jenazahnya pada perang Teluk Ketapang.

Kegagahan Raja Haji melawan VOC merupakan kronik sejarah perlawanan raja-raja di nusantara melawan dominasi Belanda. Pada tahun 1997, pemerintah Indonesia menyematkan gelar Pahlawan Nasional. Nama  belakang “fisabilillah” merupakan nama tambahan yang diberikan padanya karena syahid di medan tempur. Ya, ajalnya dijemput dengan cara syahid, ia menunggung kuda dalam keadaan sakit, tangan kanan memegang keris, tangan kirinya mengenggam buku Dalil Khairat (hal 47), saat itulah berdesing peluru menebus dadanya, ia pun jatuh tersungkur lalu jasadnya dilarikan ke hutan oleh anak buahnya.  Hari itu 18 Juni 1874, sang Hannibal dari Riau tumbang membela kemerdekaan tanah kelahirannya.  Dan pada tanggal 26 Juni, kapal Dolphijn yang membawa jenazah Raja Haji dari Melaka ke Batavia terbakar habis.  Maka satu gelar traumatik disematkan pada Pangeran Sutawijaya, dia disebut dengan gelar baru ‘Raja Api’ (hal 103).

 Dihitung semenjak pendataran di Teluk Ketapang tanggal 13 Februari 1784 dan gugurnya sang komando “Bulang Linggi”, setidaknya terentang 4 bulan berkecamuk perang. Saat di ujung tanduk, Pasukan negeri Belanda yang datang untuk menghukum Pangeran Nuku dari Maluku  tiba di Melaka, itulah ikhwal rontoknya pasukan sang Raja Api.

Keberaniannya menolak bersekutu dengan VOC untuk melawan Inggris patut dijadikan tauladan pemimpin masa kini. Ia menolak kemewahan diri yang ditawarkan VOC demi kemerdekaan negerinya. Buku ini mendorong kecintaan pada negeri, dan sangat perlu untuk diajarkan pada generasi muda masa kini. Hidup mulia di negeri sendiri atau mati syahid. (hudjolly/res/2010)

Hudjolly, Editor www Rajaalihaji.com dan www.melayuonline.com

Dibaca 6.975 kali

Sila Tulis Komentar Anda Disini !