Versi Indonesia
English version
Pengunjung Online : 10
Hari ini :202
Kemarin :194
Minggu kemarin:2.066
Bulan kemarin:10.498

Anda pengunjung ke 4.144.845
Sejak 11 Rabi'ul Awal 1429
( 19 Maret 2008 )


Pengunjung Baru ?
   |   


www.melayuonline.com www.wisatamelayu.com www.rajaalihaji.com www.tengkuamirhamzah.com www.ceritarakyatnusantara.com www.adicita.com www.maharatu.com www.jogjatrip.com www.kerajaannusantara.com www.infokorupsi.com www.indonesiawonder.com
Tsulasa', 01 Rabi'ul Akhir 1440 (Senin, 10 Desember 2018)
Model Peradilan Menurut Raja Ali Haji
Oleh : Hudjolly
Model Peradilan Menurut Raja Ali Haji
Judul Buku
:
Tsamarat Al Muhimmah, Pemikiran Raja Ali Haji Tentang Peradilan
Penulis
:
Drs. Mahdini.MA
Penerbit:
Yayasan Pusaka Riau
Cetakan
:
Catakan pertama, Desember 1999
Tebal
:
ix hal + 163 hal
 

Lembaga peradilan telah dikenal semenjak zaman purba, jauh sebelum bangsa Yunani membuat sistem peradilan yang banyak dirujuk hingga masa kini. Bentuk lembaga peradilan berbeda pula ragam dan aturannya.  Di berbagai zaman dan peradaban bangsa, lembaga peradilan bersulih rupa seiring masa. Di alam Melayu, misalnya, semenjak berdirinya Kerajaan Johor-Riau-Lingga telah berdiri pula suatu lembaga peradilan yang menggunakan pandangan sistem hukum syarak (syariah) yang tetap menunjung hukum adat lokal.  Tujuan peradilan itu ialah menerapkan hukum jinayah (pidana Islam) agar tercipta keadilan di Kerajaan Johor-Riau-Lingga kala itu.

Tsamarat Al Muhimmah, merupakan sebuah kitab buah tangan Raja Ali Haji, sarjana era 1800an, tentang lembaga peradilan dan sistem kenegaraan. Adalah Drs  Mahdini.MA, sarjana era masa kini yang menulis ulang dan mengkaji pemikiran Raja Ali Haji khusus masalah sistem peradilan. Tsamarat Al Muhimmah dikaji mendalam oleh Mahdini, kemudian hasil karya tersebut dipublikasikan pada tahun 1999 oleh Yayasan Pusaka Riau dengan judul Tsamarat Al Muhimmah, Pemikiran Raja Ali Haji Tentang Peradilan .

Buku tersebut berisi dua bagian utama, satu bagian penutup dan dua bagian tentang bagaimana latar belakang teks asli Tsamarat Al Muhimmah karya Raja Ali Haji. Tata cara pemakzulan dan pemberhentian raja serta pejabat kerajaan diterangkan pada bagian pertama buku karya Mahdini. Semua mekanisme administratif dan legal kerajaan itu dilandaskan pada prinsip-prinsip hukum syarak dan hukum adat. Dalam hal pengangkatan raja dilakukan melalui tiga cara. Pertama, melalui pemilihan oleh badan Ahlul Halli wal Aqdl, kedua melalui penunjukkan oleh pendahulunya, disebut istikhlaf. Ketiga melalui pengambilan atau perebutan kekuasaan (hal 3).

Bab kedua, membahas Tertib Kerajaan dan Aturan Mahkamah atau struktur lembaga negara dan badan peradilan. Lembaga peradilan diletakkan sebagai syarat utama sebuah negara.  Karena peran lembaga ini strategis, maka harus ada pengaturan dan aturan tentang cara beroperasinya lembaga ini.  Maka persoalan kode etik para qadli peradilan dan segala macam syarat-aturan yang diterapkan dalam sebuah lembaga peradilan dijelaskan secara khusus dan terperinci.

Raja Ali Haji melalui Tsamarat Al Muhimmah menyajikan persoalan-persoalan aturan peradilan secara terperinci yang meliputi: makna peradilan, syarat menjadi qadli, dan tata cara melangsungkan perkara di peradilan. Mahdini tidak ketinggalan membahas wewenang dan struktur peradilan yang ideal menurut pandangan Raja Ali Haji.  Struktur yang ideal terdiri dari dua lapis  yakni  mahkamah kecil yang berada di tingkat daerah dipimpin oleh Qadli dan mahkamah peradilan yang berada di ibukota negara dipimpin oleh Qadli al Qudlah (hal 136).

Meski vital, peranan lembaga peradilan tidak lepas dari  institusi agama. Para ulama diletakkan untuk membantu kelancaran kerja para qadli. Sedangkan Syekh al Islam atau pimpinan negara bertanggungjawab pada kelangsungan proses peradilan yang adil. Selain mengeluarkan fatwa-fatwa, Syekh al Islam juga melakukan amanat pengawasan lembaga kehakiman (hal 135). Sedangkan pelaksanaan tugas kenegaraan diemban oleh Wazir al Adhim, pembantu utama Syekh al Islam. Wazir inilah yang bertanggungjawab penuh pada pelaksanaan roda pemerintahan.

 Peradilan berada di bawah pengawasan Syekh Al Islam disebabkan fungsi peradilan (mahkamah) sebagai “tempat mendirikan hukum atas segala hamba Allah Ta’ala”(hal 118). Menurut tafsiran Mahdini, mahkamah peradilan versi Tsamarat diselenggarakan berdasarkan pembidangan hukum yang lazim dipakai dalam yuridiksi peradilan Islam, yaitu bidang Jinayah, Mu’amalah dan Munakahat.  Para qadli yang diangkat mencerminkan pada penguasaan masing-masing bidang hukum tersebut, karena itu terdapat qadli khusus yang menangani munakahat, jinayah dan mu’amalah. Para qadli diangkat dalam jabatannya sebagai qadli al qudah (menteri kehakiman). Para qadli bertanggungjawab dalam menyelesaikan persoalan-persoalan hukum yang diajukan kepadanya. Jadi bukan hakim yang memutuskan perkara.

Cara kerja lembaga peradilan dan sistem kenegaraan yang disampaikan Raja Ali Haji dalam Tsamarat Al Muhimmah dipengaruhi oleh karya-karya Islam klasik seperti Ihya ulumuddin  (karya al Ghazali) dan Al Ahkam al Sulthaniyah (karya Al Mawardi) dan beberapa hipogram lain. Memang, teks Tsamarat Al Muhimmah memfokuskan diri tentang kenegaraan dan kerangka dasar lembaga-lembaga negara di bawah raja.  Lantaran fungsi dan kedudukan Raja Ali Haji sebagai ulama dan penasehat keagamaan Kerajaan Riau Lingga, maka Raja Ali Haji berkepentingan untuk menelurkan aturan-aturan kenegaraan yang berlandaskan hukum Islam. Karya Tsamarat itu ditujukan pada raja, para pembesar kerajaan dan pegawai pelaksana hukum (qadli) secara umum.

Untuk menegakkan keadilan, Tsamarat, menurut Mahdini membedakan istilah “hakim” dan “qadli”. Qadli dipergunakan untuk menyatakan kewenangan orang yang memutuskan suatu perkara berlandaskan hukum  Allah. Istilah “hakim” dipergunakan untuk menyatakan orang yang bertugas membantu wazir (menteri urusan dunia) menjalankan pemerintahan dan tidak menangani masalah hukum. 

Pandangan kenegaraan RAH cukup berbeda dengan Indonesia modern, sehingga Tsamarat Al Muhimmah menarik untuk dibaca oleh petinggi negeri dan peminat hukum kenegaraan. 

Hudjolly, Editor Rajaalihaji.com dan melayuonline.com

Dibaca 3.863 kali

Sila Tulis Komentar Anda Disini !