Versi Indonesia
English version
Pengunjung Online : 24
Hari ini :221
Kemarin :194
Minggu kemarin:2.066
Bulan kemarin:10.498

Anda pengunjung ke 4.144.864
Sejak 11 Rabi'ul Awal 1429
( 19 Maret 2008 )


Pengunjung Baru ?
   |   


www.melayuonline.com www.wisatamelayu.com www.rajaalihaji.com www.tengkuamirhamzah.com www.ceritarakyatnusantara.com www.adicita.com www.maharatu.com www.jogjatrip.com www.kerajaannusantara.com www.infokorupsi.com www.indonesiawonder.com
Tsulasa', 01 Rabi'ul Akhir 1440 (Senin, 10 Desember 2018)
Surat-surat Raja Ali Haji Kepada Von de Wall
Oleh : Jan Van Der Putten, dan al Azhar
Surat-surat Raja Ali Haji Kepada Von de Wall
Judul Buku
:
Surat-surat Raja Ali Haji Kepada Von de Wall
Penulis
:
Jan Van Der Putten,  dan al Azhar
Penerbit:
Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Cetakan
:
Januari 2007
Tebal
:
383 halaman
Ukuran
:
130 mm x 200 mm
 

Nama besar Raja Ali Haji tidak serta merta mempermudah penelusuran pernik sejarah hidupnya, meski secara umum masa kelahiran dan perjalanan usia mudanya dapat terlacak. Perihal tahun kematian Raja Ali Haji pun terdapat silang pendapat, namun surat-surat Raja Ali Haji dapat memberikan titik terang. Semula ia diperkirakan meninggal pada tahun 1872, ternyata Raja Ali Haji masih berkirim surat kepada Von de Wall pada tanggal 31 Desember 1872, syahdan kesimpulan 1872 sebagai tahun tutup mata Raja Ali Haji mesti direvisi, diperkirakan ia meninggal pada tahun 1873 di Pulau Penyengat. Di sisi lain, sejumlah peneliti (Maier,2001 ; Junus,2002) menyebut karakter tulisan melayu kerap tidak menyebutkan identitas dan kepribadian penulis di dalam karyanya, Raja Ali Haji pun mengikuti langgam yang sama pula. Dari surat-surat itulah beberapa kesimpulan kepribadian Raja Ali Haji dapat disusun secara lebih jelas.

Di antara isi surat-surat pribadi Raja Ali Haji di Pulau Penyengat kepada Hermann Von de Wall yang tinggal di Tanjung Pinang, ia banyak menceritakan kabar keadaan dirinya. Salah satu surat menuturkan keadaan sehari-hari Raja Ali Haji yang beristri empat dan beranak ‘banyak’. Saat itu, di usia sekitar 46 tahun ia kerap kerepotan keuangan untuk penghidupan keluarganya dan dikemukakanlah pada Von de Wall yang menjabat Assisten Resident tingkat 1.  

Semula, buku karya Jan van der Putten dan Al Azhar ini berbahasa asing “Berkekalan Persahabatan: in Everlasting Friendship: letters from Raja Ali Haji, diterbitkan oleh Department of Languages and Cultures of Southeast Asia and Oceania, University of Leiden tahun 1995. Melalui buku ini riwayat pribadi Raja Ali Haji dapat diikuti untuk digunakan sebagai acuan sosiologis-historis dalam mencermati karya-karya sang Maestro Gurindam Duabelas. “Kumpulan Surat-Surat Raja Ali Haji kepada Von de Wall” merupakan telaah dokumen, surat asli Raja Ali Haji dari tahun 1857 M-1872 M. Rentang waktu tersebut sedikit banyak menyingkap watak Raja Ali Haji dari sisi pernik kehidupan pribadinya.

“Syahdan yang kita memberitahu kepada sahabat kita hal diri kita, yang selama2 ini banyak juga berkenal2 dengan orang putih dan orang besar yang sudi2 berkenal-kenalan dengan kita, akan tetapi boleh sahabat kita siasat, belum pernah kita membanyakkan hajat dengan permintaan dan lainnya. Hanyalah sahabat kita seorang saja yang kita banyak berbuat manja....(surat ke 36)”

Siapa Von de Wall ? Nama lengkapnya Hermann Theodor Friedrich Karl Emil Wilhelm August Casimir Von de Wall (1809-1873). Lahir di Jerman, bekerja untuk Belanda bertugas di Cirebon, Kalimantan, dan Tanjung Pinang pada tahun 1855 dengan tugas menyusun kamus bahasa dan tata bahasa Melayu untuk kepentingan administrasi Belanda. Berkaitan tugas itulah, ia menjalin persahabatan dengan Raja Ali Haji. Persahabatan semacam ini juga terjadi di Jawa, antara Ranggawarsita dengan CF Wintter yang bertugas menyusun Kamus Kawi-Belanda.

Penulis buku ini, Jan Van Der Putten pengajar bahasa Melayu dan Indonesia di Leiden University, menggarap tumpukan dokumen sejarah di museum nasional yang nyaris tidak tersentuh, sehingga surat-surat Raja Ali Haji dapat terpublikasikan dalam dua bahasa: Inggris dan Indonesia. Untuk menyelami sisi pribadi Raja Ali Haji jelas tidak bisa meninggalkan referensi ini. Dari masalah keuangan, kesehatan, jam tangannya yang sudah sering rusak, permintaan membuat sampul kulit untuk sejumlah buku yang selesai ia tulis, sampai keresahan sosial Raja Ali Haji terhadap kualitas manusia Melayu saat itu dan tidak ketinggalan gambaran usaha-usaha yang dilakukannya demi mendapat dukungan keuangan untuk membangun tempat pangajaran, dapat ditelusuri dari buku ini.

Meskipun demikian, kajian terhadap surat-surat Raja Ali Haji masih harus dilakukan sendiri oleh pembaca, karena Van Der Putten tidak melakukan kajian analisis secara mendalam ditambah dengan keterbatasan surat balasan Von de Wall pada Raja Ali Haji menyebabkan terputusnya arus reprosikal wacana yang tersirat dalam surat-menyurat itu.

Hudjolly (res/26/10/2010)

________

Sumber Foto: http://www.goodreads.com

Dibaca 3.164 kali

Sila Tulis Komentar Anda Disini !