Versi Indonesia
English version
Pengunjung Online : 0
Hari ini :179
Kemarin :788
Minggu kemarin:6.118
Bulan kemarin:41.661

Anda pengunjung ke 4.724.405
Sejak 11 Rabi'ul Awal 1429
( 19 Maret 2008 )


Pengunjung Baru ?
   |   


www.melayuonline.com www.wisatamelayu.com www.rajaalihaji.com www.tengkuamirhamzah.com www.ceritarakyatnusantara.com www.adicita.com www.maharatu.com www.jogjatrip.com www.kerajaannusantara.com www.infokorupsi.com www.indonesiawonder.com
Isnain, 11 Safar 1443 (Minggu, 19 September 2021)
 
22 September 2010 03:37

Bahasa Melayu “Punyo Wong Kito”

Oleh: Boni Dwi Pramudyanto dan Rudy Badil

Ampun beribu ampun, sembah patik mohon diampun… di tengah zaman ”klaim made in Malaysia”, sebaiknya segenap Wong Kito yang pemukim dataran berkah Sumatera Selatan, harus bergiat menyatakan Bahasa Melayu yang berakar pada rumpun bahasa Austronesia, yang diucapkan lebih dari 300 juta mulut penuturnya, sebagai bahasa berasal dari tanah rawa-rawa Palembang, bukan miliknyo wong asal ”tanah sebrang”.

Ampun beribu ampun ... berbagai sumber sejarah sahih dunia jelas gamblang menuturkan catatan tentang kehidupan Pangeran Parameswara alias Iskandar Syah (1334-1414) sebagai pendiri Kerajaan Malaka, serta menuturkan raja yang berkampung asli itu asal Palembang dan sudah berbahasa Melayu dan tercatat dalam kitab Sejarah Melayu yang beraksara Jawi (sejenis aksara Arab).

Juga ada Prasasti Kedukan Bukit (16 Juni 682 Masehi atau 604 Saka) yang menuturkan perjalanan Dapunta Hyang hingga mendirikan perkampungan Sriwijaya, memuat 10 baris tulisan berbahasa Melayu dengan aksara Palawa. Juga Prasasti Talang Tuo (23 Maret 684 Masehi atau 606 Saka), memuat tentang pembangunan Taman Sriksetra di sebelah barat laut Palembang, itu pun dengan bahasa Melayu beraksara Palawa juga.

Malah Prasasti Kota Kapur (28 April 686 Masehi atau 608 Saka) menuliskan persumpahan bagi kaum tidak berbakti kepada Sriwijaya, juga dalam bahasa Melayu beraksara Palawa. Lebih seram lagi, Prasasti Telaga Batu (abad ke-7 tanpa pertanggalan), memuat sumpah laknat terhadap pejabat negara yang berkhianat, prasasti itu pun berbahasa bahasa Melayu kuno dengan aksara Palawa.

”The Summa Oriental of Tome Pires and the Book of Francisco Rodrigues”, editor Armando Cortesao tahun 1967, mencatat: Parameswara lahir pada tahun 1334. Pada akhir tahun 1406 memeluk agama Islam ... oleh karena Parameswara memeluk agama Islam, maka tindakan raja itu diikuti oleh rakyatnya.

Demikian dapat dipastikan Islam masuk Malaka pada tahun 1406 ... meskipun Parameswara adalah penurun raja-raja Melayu, bersikap, dan beristiadat Melayu, dia masih membanggakan dirinya sebagai pangeran yang istrinya dari kalangan penguasa tinggi ... sebagai pewaris Sriwijaya, Parameswara juga mempergunakan tradisi Sriwijaya dengan memakai gelar Maharaja atau Yang Dipertuan untuk dirinya ... namanya diganti dengan Iskandar Syah untuk mengingatkan leluhurnya di Bukit Seguntang, yaitu Iskandar Zulkarnain (Djohan Hanafiah, 1998).

Sementara Andaya dan Andaya (A History of Malaysia, 1982) dengan gamblang mencatat: … warisan kebudayaan Melayu tidaklah berasal dari abad ke-15 dan bukan reputasi hebat Malaka … pada periode Sriwijaya mendominasi Selat Malaka … bukti-bukti tertua dari bahasa Melayu ialah ditemukan di Palembang dan Bangka … lahirnya bahasa resmi pemerintahan dan istana Sriwijaya merupakan bentuk awal dari bahasa Melayu. Legenda Melayu tentang pendiri Malaka adalah pangeran dari Palembang … kedudukan tertentu dari kebudayaan Sriwijaya yang punya pengaruh luas di batas-batas pemerintahan … kerajaan kecil dengan sendirinya akan mengadopsi kepemimpinan Sriwijaya, termasuk penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa elite … .

Bersamaan

Sejarah mencatat bahasa Melayu kuno itu telah disebarkan bersamaan dengan kekuatan ekonomi dan politik. ”Penyebaran dan pemantapan bahasa Melayu kuno itu justru pada saat kejayaan Kerajaan Sriwjaya, abad ke-7 sampai abad ke-12. ”Kejayaan Dinasti Syailendra itu sempat berkuasa di Jawa Barat dan Jawa Tengah pada abad ke-9, terbukti dengan adanya sebaran prasasti berbahasa Melayu kuno beraksara Palawa,” tutur Djohan Hanafiah (63), pakar budaya dan sejarawan.

Penggunaan bahasa Melayu sebagai media komunikasi di Sumatera Selatan kian mantap dan akhirnya menjadi bahasa perantara atau basantara alias lingua franca di kawasan Kerajaan Sriwijaya dan penguasa selanjutnya. Bahasa Melayu yang terus berkembang sebagai bahasa kontak antara pelaut dan pedagang menjadi bahasa antarmasyarakat di sepanjang pantai di kepulauan Nusantara itu.

”Pemakaian bahasa Melayu makin mantap setelah pedagang dan pejabat kerajaan kuno itu berhadapan dengan pendatang asal Eropa. Selain bahasa komunikasi, perjanjian perdagangan pun dibuat dalam bahasa Melayu. Misalnya lihat saja adanya kumpulan kontrak dagang antara VOC dan raja-raja di Nusantara ditulis dalam bahasa Melayu. Sejak tahun 1602 sudah ada surat perjanjian Corpus Diplomaticum Neerlando-Indicum,” tutur Djohan Hanafiah yang gemar menelisik informasi kuno di catatan arsip klasik.

Dalam perjalanan sejarah selanjutnya, bahasa Melayu sebagai salah satu bentuk kebudayaan tepian sungai, riverine culture, menjadi bahasa antara pemukim tepian maupun sampai ke hulu sungai. Boleh dikata semua suku bangsa di kawasan Sumsel dari Palembang, Musi, Komering, Ogan, Rawas, Kelingi, Kikim, Lembak, sampai Pagar Alam mampu berkomunikasi dengan dasar bahasa Melayu tetapi memiliki dialek-dialeknya tersendiri.

Dari hasil penelitian mengenai dialektologi bahasa Melayu di Palembang, Jambi, dan Bengkulu, ternyata ketiga daerah itu memiliki kesamaan besar. Adapun bahasa Melayu di Palembang yang terpengaruh bahasa Jawa pesisir utara atau Demak, kini menjadi ikon sebagai ”bahasa gaul” Wong Kito, ya orang kita semua, wong kito galo.

Suatu malam, saat mendengar siaran radio di Palembang dan menyaksikan tayangan PalTV, terdengar siaran dan tayangan dengan dialek lokal, tetapi sesekali terselip bahasa gaul Jakarta yang dong-sih-deh, Untungnya, sejauh ini belum ada klaim atau pengakuan membuta-tuli dari tetangga alias negeri jiran yang hobinya ngaku-ngakuin seni budaya Indonesia sebagai ”budaya aslinya”.

Ampun beribu ampun … begitu meniru gaya tetangga kita untuk minta maaf, sebaiknya jangan mengaku ya, karena sejak abad ke-7 bahasa Melayu kuno sudah terbukti asli asal Palembang, asli asal tanahnya Pangeran Parameswara. Bahasa Melayu itu, punyo wong kito galo.

__________

Boni Dwi Pramudyanto dan Rudy Badil, Wartawan Senior

Sumber: http://cetak.kompas.com
Sumber Foto: google.com

Dibaca 2.225 kali

Sila Tulis Komentar Anda Disini !