Versi Indonesia
English version
Pengunjung Online : 0
Hari ini :222
Kemarin :788
Minggu kemarin:6.118
Bulan kemarin:41.661

Anda pengunjung ke 4.724.448
Sejak 11 Rabi'ul Awal 1429
( 19 Maret 2008 )


Pengunjung Baru ?
   |   


www.melayuonline.com www.wisatamelayu.com www.rajaalihaji.com www.tengkuamirhamzah.com www.ceritarakyatnusantara.com www.adicita.com www.maharatu.com www.jogjatrip.com www.kerajaannusantara.com www.infokorupsi.com www.indonesiawonder.com
Isnain, 11 Safar 1443 (Minggu, 19 September 2021)
 
25 Juni 2010 05:28

Pentingnya Sopan Santun Berbahasa

Pentingnya Sopan Santun Berbahasa

Oleh Ahmad Ramlan

Pepatah lama mengatakan "Tak ada seuntai kawat besi, tali plastikpun jadi." Disinggung menegenai kebahasaan bahwa, "Bahasa menunjukan bangsa, bahasa menujukan identitas masyarakat.

"Melihat kondisi masyarakat kita sekarang ini, secara pribadi saya merasa prihatin dengan kebiasaan masyarakat yang cenderung kasar dalam berbahasa. Kesopan santunan kini tak lagi terpeliharan, "Pudar entah kemana!" Bahasa Indonesia khususnya sekarang ini sudah payah disatukan dengan visi Sumpah Pemuda yang sekian lama terbelenggu dalam penjajahan "Seolah luntur termakan waktu."

Dalam hal ini bukan bahasa Indonesia yang hilang, tetapi pemaknaan bahasa yang seharusnya mencerminkan nilai kesantunan dalam kehidupan sehari-hari. Kita lihat, seorang pemakai bahasa gaul atau bahasa asing yang cenderung tidak santun, malahan akan merusak keasrian bahasa. Penggunaan bahasa Indonesia jauh lebih besar dari pada bahasa asing, namun dalam forum internasional bahasa Indonesia atau bahasa Melayu belum dipakai sebagai bahasa resmi.

Bila kita menyimak acara TV, seperti termehek-mehek, talk show, kiss dan sinetron, tanpa disadari kita ikut terbawa arus, dalam penggunaan kekerasan berbahasa. Mengejek, mengintimindasi dan menghina seolah menjadi bahasa yang biasa sehingga dianggap sebagai bahasa Indonesia yang harus dipakai dan parahnya anak kecilpun terbiasa dengan bahasa yang kasar dan tidak santun itu, "Aneh jika dibiarkan berlanjut!"

Dalam Gurindan Dua Belas Karya Ali Haji pasal ke-5 bait pertama tertuang," Jika hendak mengenal orang, lihat kepada budi dan berbahasa." Namun sayangnya semakin bertambahnya usia bangsa ini, budi bahasa tak terperhatikan lagi. "Apa yang diwariskan kepada anak cucu kita kelak?"

Melihat kenyataan yang ada dari kekerasan berbahasa tidak sedikit yang memunculkan pertikaian atau perang saudara di negara ini, hingga jatuhnya korban, hanya karena "Menyepelekan hal yang sepele" dapat melunturkan nasionalisme dengan lebih menonjolkan fanatisme kedaerahan. Padahal bahasa dapat mencerminkan pribadi seseorang, karakter dapat dibaca bagaimana seseorang itu bertutur.

Lalu pada Gurinam Dua Belas pasal 7 bait ke-10 tertulis, "Apabila perkataan yang amatlah kasar, lekaslah sekian orang gusar," dan pada bait ke-9, "Apabila perkataan yang lemah lembut, lekaslah segala orang mengikut." Mungkin bila masih hidup Raja Haji Ali akan gusar dan sedih karena ternyata ditemukan banyak orang yang mengabaikan lemah lembut bertutur.

Bahasa juga bisa dijadikan sebagai alat kekerasan verbal seperti memaki, menghasut, mengancam, menghina atau lainya yang dapat membuat orang tertekan dalam ketidak santunan bertutur. Kata ini memberi kekerasan pada masyarakat tidak saja dikalangan bawah tapi juga dikalangan elit dan terpelajar, seperti yang sering kali lihat. Padahal Nabi SAW berpesan, "Orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya berkata baik-baik, jika tidak bisa, lebih baik diam."

Lingkungan dan keteladanan

Bahasa dapat dipelajari dari keteladanan, siapapun yang hidup dari lingkungan yang tidak dapat memberikan teladan dalam bertutur kata akan dengan mudah mengucapkan kata apapun. Orang tua di rumah, guru di sekolah, teman sepergaulan atasan terhadap bahwahan lainya. Lingkungan memiliki peran yang sangat besar, karena itu menonton tayangan TV harus lebih selektif jika tidak, banyak anak akan mudah mengadopsi kata-kata yang kasar dari tayangan TV, demikian lirik lagu, buku dan media cetak.

Dalam teori percakapan ada dua prinsip penggunaan bahasa yang wajar alamiah yakni sebagai prinsip kerjasama dan prinsip kesopanan. Pada prinsip kerjasama menganjurkan agar komunikasi verbal dilakukan dengan bentuk jelas, lugas dan umum, Sanggup Barus (dalam bukunya Korespondensi Indonesia), isinya benar dan relevan dengan koteksnya. Sementara prinsip kesopanan menganjurkan agar komunikasi verbal dilakukan dengan sopan yakni bijaksana, mudah diterima, murah hati, rendah hati, cocok dan simpatik.

Kenyataannya bahwa kita tidak bisa menciptakan lingkungan yang steril dari ungkapan yang tidak baik, karena bahasa merupakan ekspresi, tapi sebenarnya jika kesopanan itu direspon maka lama-kelamaan kebiasaan buruk itu akan ditinggalkan dan hal ini butuh kesadaran dari semua pihak agar jati negara ini tidak ternodai hanya karena tidak bisa menghargai bahasa sendiri, sebab bahasa memiliki peran penting dalam memajukan bangsa dan juga bahasa memiliki peranan sentral dalam perkembangan intelektual sosial dan emosional seseorang.

Jadi kalau bukan kita yang menghargai bahasa Indonesia siapa lagi? Apalagi UUD 1945 pasal 36 mengatakan dengan jelas bahwa, "Bahasa negara adalah Bahasa Indonesia." Ingat! Jangan sampai mengingkari amanat tersebut. Kalaupun belum bisa berbahasa dengan santun dan baik setidaknya menghindari kekerasan berbahasa, kita tidak ingin generasi yang akan datang tidak mengenal bahasa yang baik dan benar.

Jadi mari kita pergunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar jangan malu untuk menggunakannya dimanapun. J.S. Badudu pernah berkata, "Hendaknya kita juntukan bila kita menggunakan bahasa kita sendiri agar tumbuh menjadi bahasa yang teratur dan mantap."

Santun Berbahasa

Kini sudah saatnya untuk mengkampanyekan sopan dan santun berbahasa, baik di media massa, elektronik maupun dalam kehidupan sehari-hari. Bukankah lebih baik mengambil manfaat yang baik daripada sesuatu yang tidak baik demi perbaikan kualitas anak bangsa ini. Mari! Kita memantapkan dan gelorakan kembali Sumpah Pemuda dengan menjadikan bahasa Indonesia sebagai pemersatu bangsa demi anak cucu kita.

__________

Ahmad Ramlan adalah mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia FBS Universitas Negeri Medan, aktif dalam penulisan karya ilmiah.

Sumber: http://www.analisadaily.com
Sumber Foto:
http://www.adicita.com

Dibaca 5.768 kali

Sila Tulis Komentar Anda Disini !