Versi Indonesia
English version
Pengunjung Online : 6
Hari ini :237
Kemarin :194
Minggu kemarin:2.066
Bulan kemarin:10.498

Anda pengunjung ke 4.144.880
Sejak 11 Rabi'ul Awal 1429
( 19 Maret 2008 )


Pengunjung Baru ?
   |   


www.melayuonline.com www.wisatamelayu.com www.rajaalihaji.com www.tengkuamirhamzah.com www.ceritarakyatnusantara.com www.adicita.com www.maharatu.com www.jogjatrip.com www.kerajaannusantara.com www.infokorupsi.com www.indonesiawonder.com
Tsulasa', 01 Rabi'ul Akhir 1440 (Senin, 10 Desember 2018)
 
27 Mei 2011 06:08

Harapan Baru Sastra dan Bahasa Indonesia

Harapan Baru Sastra dan Bahasa Indonesia

Oleh Hudjolly

Pada medio tahun 2011 ini, Yayasan Lontar mengawali terobosan baru: menterjemahkan karya sastra Indonesia untuk konsumsi masyarakat dunia. Komunitas internasional tidak mengenal sastra Indonesia karena kendala bahasa. Untuk mengisi kekosongan itu, disusunlah proyek penterjemahan sastra Indonesia dari periode awal tahun 1920 hingga periode terkini dalam buku berseri ”Modern Library of Indonesia” yang disunting oleh John McGlynn. Apa yang dilakukan lembaga non pemerintah seperti Yayasan Lontar harus menjadi lecutan peringatan bagi pemerintah dan dunia akademik. Betapa terseoknya bahasa dan sastra Indonesia. Selama ini, pemerintah dan dunia akademik berpacu mengejar standardisasi penguasaan bahasa asing sebagai “parameter mutlak” untuk mencapai derajat kesarjanaan, tapi justru melupakan bahasa Indonesia.

Meskipun standarisasi telah berhasil, bahasa dan sastra kita justru “tidak mampu” ditransfer ke bahasa asing tersebut. Lagi-lagi kita menganggap sepi karya sastra anak negeri. Fakta itu kian memperjelas bahwa standardisasi dan penguasaan bahasa asing sebagai “si parameter mutlak” itu ternyata tidak digunakan sebagai sarana untuk mengangkat semesta karya Indonesia ke kancah internasional. Sebaliknya, pembelajar bahasa asing mulai meninggalkan semesta karya Indonesia untuk beralih mendewakan semesta karya asing. Karya Amir Hamzah dipuja di Malaysia, terlantar di kampung sendiri. Lembaga pemelihara sastra seperti Yayasan Lontar atau Pesanggrahan HB Jassin dan upaya-upaya budaya lainnya seperti www.TengkuAmirHamzah.com atau www.RajaAliHaji.com dan semacamnya berjuang hidup dalam kesendiriannya.

“Saya kira di Indonesia hanya punya seni pertunjukkan,” kata seorang penyair Amerika Serikat kepada sastrawan Indonesia, Putu Wijaya, di Jerman (Kompas, 21/5). Demikianlah potret pandangan masyarakat Internasional terhadap bangsa Indonesia, seolah kita adalah pelahap dan importir segala produk asing. Bahkan bahasa dan sastra pun kita mengimpornya. Penyesalan tiada guna. Setidaknya ada dua hal yang dapat dilakukan masyarakat Indonesia. Pertama, kembali mencintai bahasa Indonesia dan menempatkannya dalam prioritas teratas kemahiran berbahasa. Kedua, membangun kepercayaan diri berbahasa Indonesia. Dua hal itu sudah dilakukan, www.TengkuAmirHamzah.com dan www.RajaAliHaji.com, yang tidak bisa disangkal telah turut menyuarakan kecintaan terhadap bahasa Indonesia. Kampanye cinta bahasa Indonesia adalah tanggung jawab bersama sebagai pewaris Indonesia.

Membangun kepercayaan diri berbahasa Indonesia telah dilakukan oleh Yayasan Lontar. Proyek ”Modern Library of Indonesia” akan mengalirkan sastra Indonesia untuk diperkenalkan ke komunitas internasional. Dalam hal ini, alihbahasa ke bahasa Inggris digunakan sebagai alat komunikasi dan sarana mempropagandakan semesta Indonesia di masyarakat internasional. Yayasan Lontar percaya bahwa karya sastra Indonesia layak mendapat sambutan dunia dan patut dibanggakan. Barisan ini yakin bahwa bahasa Indonesia berkualitas unggul yang mampu menghantarkan sastra secara ultim. ”Modern Library of Indonesia” akan menjadi titik temu produk kebudayaan yang bernama bahasa. Semua orang Indonesia dapat mulai memupuk kepercayaan terhadap bahasa Indonesia dengan cara meletakkan penguasaan berbahasa Indonesia di atas semua bahasa. Kita dapat mengawali dengan menghapus paradigma pendewaan bahasa asing di benak masing-masing lalu mengkampanyekan bahwa bahasa Indonesia setara bahasa internasional di semua bidang.

Sastra Daerah dan Sastra Nasional

Sementara kita bersiap membawa sastra Indonesia ke pentas masyarakat internasional, janganlah lupa untuk menjaga beratus sastra daerah yang justru terdesak oleh bahasa Indonesia. Kita dapat mengadopsi cara pikir proyek Yayasan Lontar, bahwa sastra daerah sangat berharga untuk dialihbahasakan ke bahasa Indonesia agar masyarakat Indonesia juga mengenal sastra daerah dan tidak hanya mengenalnya hanya sebagai sumber seni pertunjukkan. Dengan cara demikian, kekayaan sastra daerah dan seni tradisi tetap terpelihara sebagai kekayaan bangsa Indonesia. Maka, sudah menjadi kewajiban dari lembaga-lembaga pemerintahan di semua level, daerah hingga pusat, untuk memulai proyek semacam itu. Tetapi diperlukan kecermatan untuk melakukan alihbahasa agar tidak menginterupsi kesinambungan original sastra daerah.

Apabila dua tugas itu dapat berjalan lancar, sastra Indonesia akan memasuki babak baru, di mana sekat-sekat wilayah tidak lagi menjadi batas. Daerah-daerah adalah persemaian sastrawan berkaliber nasional ketika sastra Indonesia akan disuarakan menjadi sastra dunia. Perbedaan bahasa akan menjadi rahmat penyumbang keragaman sastra, kesemarakan, sehingga tidak ada lagi dominasi bahasa terhadap bahasa lainnya. Semua bahasa adalah sama berkualitas, sama indah.

Bergantung pada pemilik bahasa, banggakah menggunakan bahasa sendiri dan sanggupkah melahirkan karya dengan bahasa tersebut? Sudah saatnya penjajahan bahasa diakhiri. Kita berharap proyek ”Modern Library of Indonesia” akan mendatangkan efek domino dalam semesta kebahasaan Indonesia dan akan membuka mata, menginsyafkan agen-agen “penjajah bahasa” yang bercokol di dalam negeri. Kita berharap pula, mereka yang memerangi bahasa dan sastra Indonesia sebagai bahasa “kelas dua” akan beralih secara sukarela berbalik menjadi juru bicara bahasa Indonesia di hadapan komunitas internasional. Di luar sastra, bangsa Indonesia juga membutuhkan wakil-wakil di semua bidang yang sanggup menunjukkan pada komunitas ilmiah internasional bahwa hasil karya intelektual berbahasa Indonesia tidak kalah dengan masyarakat negeri lain.

Hudjolly, M.Phil, Peminat Kajian Tradisi.

Email: tembuslangit@yahoo.co.id

 

Sumber Foto: http://www.seasite.niu.edu

Dibaca 2.640 kali

Sila Tulis Komentar Anda Disini !



Opini terkait