Versi Indonesia
English version
Pengunjung Online : 0
Hari ini :207
Kemarin :788
Minggu kemarin:6.118
Bulan kemarin:41.661

Anda pengunjung ke 4.724.433
Sejak 11 Rabi'ul Awal 1429
( 19 Maret 2008 )


Pengunjung Baru ?
   |   


www.melayuonline.com www.wisatamelayu.com www.rajaalihaji.com www.tengkuamirhamzah.com www.ceritarakyatnusantara.com www.adicita.com www.maharatu.com www.jogjatrip.com www.kerajaannusantara.com www.infokorupsi.com www.indonesiawonder.com
Isnain, 11 Safar 1443 (Minggu, 19 September 2021)
 
6 Desember 2010 08:03

82 Tahun Refleksi Bahasa Keadilan

82 Tahun Refleksi Bahasa Keadilan

Oleh Hasyim Asy’ari

Kami, putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia. Ya, itulah salah satu sumpah para pemuda 82 tahun lalu, sebuah pengakuan terhadap keberadaan Bangsa dan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

Saat itu para pemuda sadar bahwa untuk membangun sebuah bangsa diperlukan alat komunikasi yang mudah dan bisa digunakan dalam pergaulan. Bahasa Indonesia dipilih sebagai alat untuk mempertemukan apa yang oleh Ben Anderson (1991) disebut komunitas yang dibayangkan bersama (imagined community). Kesadaran kebangsaan itu yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya Republik Indonesia, bangsa membentuk negara.

Jadi bukan bahasa Jawa, bahasa mayoritas penduduk Indonesia, yang dipilih sebagai bahasa bangsa, melainkan bahasa Melayu, karena bahasa inilah yang sekian lama menjadi bahasa pergaulan (lingua franca) membentang di kawasan Asia Tenggara hingga Asia Selatan. Kelebihan lain bahasa Melayu adalah karakter egaliter di dalamnya.

Ini membedakan dari bahasa Jawa yang membelah masyarakat penuturnya ke dalam strata rendah-menengah-tinggi dengan ragam basa Jawa ngoko-krama madya-krama inggil. Dalam konteks untuk membangun kesetaraan sebagai bangsa, pilihan pada bahasa Melayu adalah pilihan yang lugas dan revolusioner.

Kini setelah 82 tahun, bahasa Indonesia dituturkan dan dipahami oleh lebih dari 90% warga Indonesia, walaupun sebagian besar warga Indonesia juga masih menggunakan satu dari 748 bahasa yang ada di Indonesia sebagai bahasa ibu. Kendati demikian, bangsa Indonesia memiliki kelebihan, yaitu telah memiliki bahasa Indonesia sebagai satu bahasa pengantar, baik bahasa sehari-hari maupun bahasa resmi.

Pada titik ini nyaris tidak ada persoalan komunikasi antaretnis di Indonesia, karena potensi konflik atau kesalahpahaman dapat didamaikan dengan bahasa yang sama yaitu bahasa Indonesia. Sebagai perbandingan dapat diambil pelajaran dari Kanada dan negeri jiran Malaysia.

Kanada terbentuk jauh lebih awal dari Indonesia, yaitu tahun 1867. Mulanya negara itu adalah bekas koloni Prancis dan juga koloni Inggris, karena itulah Kanada menjadi anggota Negara Persemakmuran Inggris, sekaligus anggota La Francophonie.

Latar belakang historis itu membawa Kanada memiliki dua bahasa resmi, yaitu bahasa Prancis dan Inggris. Bahasa Perancis adalah bahasa mayoritas di Quebec dan banyak digunakan di New Brunswick, dan Ontario bagian timur, utara, dan barat daya, serta dipakai oleh komunitas tertentu di Kanada Atlantik dan Kanada Barat. Bahasa Inggris adalah bahasa mayoritas di tempat lainnya, dengan pengecualian di beberapa komunitas dan teritori Nunavut.

Pelajaran Berharga

Malaysia, adalah negara federasi terbentuk pada 31 Agustus 1957. Negara tersebut berdiri di atas tiga puak, yaitu mayoritas puak Melayu, puak China-Malaysia, dan puak India-Malaysia. Bahasa Melayu dan Islam masing-masing menjadi bahasa dan agama resmi negara. Malaysia adalah negara multisuku, multibudaya, dan multibahasa. Penduduk Malaysia (2007) tercatat 26,6 juta jiwa, terdiri atas 62% bumiputera (termasuk Melayu), 24% China, 8% India, dan sisanya minoritas suku asli.

Suku Melayu, kelompok terbesar di Malaysia memainkan peranan dominan secara kultural dan politis. Bahasa Melayu merupakan bahasa asli dan dijadikan bahasa resmi nasional Malaysia. Beberapa tahun terakhir ini, Malaysia menggunakan slogan Satu Malaysia dalam rangka kampanye persamaan berbangsa dan berbahasa, yaitu bangsa dan bahasa Melayu.

Pengalaman Kanada dan Malaysia, memberi pelajaran berharga. Kanada sepakat dalam perbedaan, yaitu memilih Prancis dan Inggris sebagai bahasa resmi, dengan aneka kelonggaran bagi warganya mendapat perlakuan setara dengan pilihan dua bahasa itu.

Malaysia sebagai moyangnya bahasa Melayu terancam gagal menjadikan bahasa itu sebagai bahasa pergaulan antaretnis. Kegagalan ini sedikit banyak karena kesan otoriterisme (soft-authoritarianism) puak Melayu kepada puak lainnya dalam dominasi budaya dan politik.

Pada konteks itu, bangsa Indonesia patut bersyukur karena telah melampaui itu semua, 82 tahun lalu. Etnis mayoritas Jawa tidak memaksakan dominasi dalam berbahasa, justru bahasa Melayu yang berasal dari minoritas Riau-Lingga dipilih secara alami sebagai bahasa Indonesia. Pada titik inilah keadilan itu bermula. Persatuan itu tercipta karena bahasa keadilan.

__________

Hasyim Asy’ari, dosen Fakultas Hukum Undip

Sumber: http://suaramerdeka.com
Sumber Foto: http://lenterahati.web.id

Dibaca 1.813 kali

Sila Tulis Komentar Anda Disini !