Versi Indonesia
English version
Pengunjung Online : 0
Hari ini :224
Kemarin :788
Minggu kemarin:6.118
Bulan kemarin:41.661

Anda pengunjung ke 4.724.450
Sejak 11 Rabi'ul Awal 1429
( 19 Maret 2008 )


Pengunjung Baru ?
   |   


www.melayuonline.com www.wisatamelayu.com www.rajaalihaji.com www.tengkuamirhamzah.com www.ceritarakyatnusantara.com www.adicita.com www.maharatu.com www.jogjatrip.com www.kerajaannusantara.com www.infokorupsi.com www.indonesiawonder.com
Isnain, 11 Safar 1443 (Minggu, 19 September 2021)
 
28 Oktober 2010 02:02

Raja Ali Haji: Gurindam dan Konsistensi

Raja Ali Haji: Gurindam dan Konsistensi

Oleh: Hudjolly

Salah satu karya besar Raja Ali Haji, Gurindam Dua Belas, pasal 6 ia menulis:

Cahari olehmu akan sahabat

Yang boleh dijadikan obat

Cahari olehmu akan guru

Yang boleh tahukan tiap seteru

Cahari olehmu akan isteri

Yang boleh menyerahkan diri

Cahari olehmu akan kawan

Pilih segala orang yang setiawan

Cahari olehmu akan abdi

Yang ada baik sedikit budi (www. Rajaalihaji.com)

Gaya tulis Raja Ali Haji sungguhlah terasa kuat, sepatutnya ia mendapatkan predikat sastrawan Melayu yang tiada lekang oleh waktu, bahkan tulisan ini pun tiada luput terpercik setitik irama Melayu pula. Baris pertama Gurindam pasal 6 menyebut semacam panduan dalam menjalin persahabatan, “sahabat yang bisa menjadi obat”. Kehadiran kawan yang darinya seseorang mendapat kesejukan, dapat meringankan beban saat kesulitan menerpa, kawan yang setiawan dari segala orang. Makna harfiah syair ini dapatlah dikatakan demikian, kendati secara hermeneutis 12 rangkaian syair Gurindam Dua Belas menunjukkan suatu pesan politik yang khas dan tidak terpisah-pisah dalam setiap pasalnya. Tetapi pembicaraan mengenai pesan khas tersebut tiadalah dibahas dalam kertas kerja ini untuk sementara.

Petunjuk umum pasal 6 Gurindam Dua Belas ialah  ‘syarat persahabatan’. Sulit meraba siapa saja yang menjadi sahabat Raja Ali Haji, setidaknya dari “Berbekalan Persahabatan” yang dilaporkan Van Der Putten dan Al Azhar (2007), bahwa Hermann Von de Wall dapat dikategorikan sebagai sahabat Raja Ali Haji. Sejumlah surat yang disampaikan padanya, keluh kesah serta kesulitan yang diadukan pada Wall dapatlah dijadikan argumen dari kesimpulan status ‘persahabatan’ tersebut. Lalu menyeruaklah pertanyaan: apakah Raja Ali Haji sudah menunjukkan konsistensi antara pesan-pesan harfiah gurindam pasal 6 ini dengan persahabatan yang dijalinnya? 

Gurindam pasal 6 tidak menyediakan pesan harfiah tentang kualifikasi personal seorang sahabat. Baik atau buruk perangai, terpercaya atau tidak terpercaya, tidak disyaratkan, ia hanya menyebut “Pilih segala orang...”. Maka kualifikasi sahabat hanya berdasar dua hal: setiawan dan obat, tidak perduli dari rumpun mana ia berasal, Melayu atau non Melayu.

Hermann Von de Wall, digambarkan oleh Van der Putten (2007) sebagai seorang pemabuk, lahir di Jerman dan bekerja untuk Belanda dengan gelar kehormatan ‘assistent-resident kelas satu’. Hendrik MJ Maier (2001) menyebut sifat Von de Wall seorang pemarah, suka mengganggu dan mengejek. Maier menambahkan, gaji tinggi Von de Wall digunakan membiayai sejumlah informan untuk melancarkan tugas utamanya: menyusun kamus Melayu dan tata bahasa Melayu, termasuk mengadakan hubungan baik dengan keluarga Raja Muda di Pulau Penyengat, memberi hadiah, mengumpulkan informasi, bahkan ia disebut dapat menyelesaikan sejumlah konflik kerajaan. Tugas Wall tidak hanya menyusun kamus dan tata bahasa, tetapi mendukung usaha Batavia menguasai kerajaan Riau-Lingga dan menguasai perkembangan raja-raja lokal setempat. Meier tak segan menyebut tingkah lakunya Von de Wall bagaikan mata-mata politik untuk membaca pemikiran dan tingkah laku orang setempat.

Persahabatan sejak 1857 sampai akhir 1872, bukan waktu yang pendek. Dan Raja Ali Haji  bukan tidak mungkin telah mengetahui karakter Von de Wall, karena Wall disebut memiliki hubungan dekat dengan Raja Muda di Pulau Penyengat, tempat di mana Raja Ali Haji mendapatkan posisi sebagai penasehat raja. Perkenalan Raja Ali Haji dengan Von de Wall bermula dari istana Raja Muda dan di awal perkenalannya itu jelas-jelas Raja Ali Haji menyatakan (surat no 68) ”.. adab dan hormat dalam peraturan persahabatan orang-orang Islam adanya. Raja Ali Haji pun berikrar putih hati, ikhlas dalam persahabatan yang ditujukan untuk ‘memungut bahasa-bahasa melayu yang berserak’.

Dari perkenalan pertama, mungkin Raja Ali Haji belum mengenal perangai Von de Wall, tetapi ia telah berikrar untuk menerimanya dengan putih hati. Perkembangan selanjutnya, besar kemungkinan Raja Ali Haji semakin mengetahui perangai Von de Wall dari surat-surat balasan yang diterimanya. Meski telah semakin mengenali perangai Von de Wall, alih-alih menjaga jarak, Raja Ali Haji justru kian akrab dan terbuka dalam menjalin persahabatan.

Jika dikembalikan pada pesan harfiah untaian Gurindam Dua Belas pasal 6, Von de Wall dianggap sosok yang bisa menjadi obat bagi situasi sakit Raja Ali Haji. Di satu sisi, kehadiran Wall di tengah masyarakat Melayu untuk memungut serpihan bahasa Melayu barangkali menjadikan Raja Ali Haji berpikir “boleh tahukan tiap seteru”, ia sadar benar akan ruang kekuasaan Belanda dan di titik mana Wall dalam sistem kekuasaan tersebut. Di sisi lain, keadaan sosial masyarakat Melayu yang sering disebut ‘tidak berilmu’ oleh Raja Ali Haji menjadi pertimbangan hubungannya dengan orang-orang Eropa. Dan Wall cukup setiawan untuk mendengar, memahami keresahan sosial Raja Ali Haji, suatu hal yang sulit didapati kala itu. Kesadaran seteru, memahfumkan Raja Ali Haji siapa yang sungguh berkuasa di wilayah kerajaan-kerajaan Melayu hingga Batavia:

“Syahdan saya ini orang yang daif minta perbantuan dari pada pihak gupernemen khassatan yaitu yang saya ada mencinta hendak berbuat satu tempat rumah2 pada tempat yang sunyi sedikit akan dijadikan tempat pelajaran kanak2 melayu siapa-siapa yang suka ridho kepada ilmu bahasa melayu dan surat-suratan daripada peraturannya dan lain-lain. Demikian lagi ilmu aldin mana2 ilmu kadar yang saya dapat sediki2 itulah yang saya hendak bukakan. Dan lagi satu perkakas mengerjakan tab,mana kitab yang kita karang yang berguna kepada orang islam atau yang lainnya dari pada bangsa lain jika ia suka maka yaitu boleh kita karangkan” (no surat 82), demikian surat Raja Ali Haji pada Residen Netscher.

Selain kesadaran kekuasaan itu, hubungan transaksional nampak tertera dalam surat tersebut menunjukkan pembacaan situasi dari RAH. Kedekatan RAH dengan istana Pulau Penyengat juga memungkinkan baginya dalam menggalang dukungan untuk kepentingan pengajaran Melayu. Namun sebuah pertanyaan dapat diajukan: kenapakah RAH tetap mengajukan permintaan pada gupernemen? Dalam keadaan yang demikian itu, posisi persahabatan dengan Von de Wall adalah obat penyakit sosial, dan Wall tetap setia membalas surat RAH serta memenuhi sejumlah permintaannya hingga ia pun tutup usia. Sebagai ulama istana, kepribadian Wall jelas berlawanan dengan apa yang RAH yakini, dan ini sebuah ‘tantangan’ hubungan persahabatan—masa itu—berbalut status dan tugas masing-masing. Tantangan itu dijawab oleh kenyataan hubungan persahabatan berlangsung selama 15 tahun, dari keterbukaan pribadi RAH pada Wall, setidaknya ikrar putih hati tetap ditunaikan dilatasi pengetahuan ‘Yang boleh tahukan tiap seteru’.

Tetapi mungkin akan berlainan cerita jika sebelum tutup usia, misalnya di tahun ke tujuh persahabatan mereka, Wall ditarik oleh pemerintah Belanda dari tugasnya. Akankah RAH masih berkirim surat pada Von de Wall? Jika iya, apakah Wall tetap membalas surat tersebut? Dari model persahabatan dengan Wall, seorang asing, Eropa, Raja Ali Haji mengambil sikap terbuka—sebuah sikap yang melampui zamannya—dengan mempertahankan model persahabatan dua orang yang bertolak belakang karakternya itu. Kesetiaan pada prinsip ‘segala orang’ tetap dijunjung. Seandainya Gurindam ditulis sebelum persahabatan itu, maka untaian Gurindam Dua Belas bukanlah sekedar bait-bait sastra nan elok semata, melainkan prinsip-prinsip hidup yang diyakini dan ditunaikan sang penulis. Jika Gurindam ditulis sesudah persahabatan itu, tetaplah Gurindam Dua Belas menunjuk kepada sistem yang hidup dan dibatinkan oleh penulisnya. Nyatalah, syair, sastra, hikayat, dongeng, bukan sekedar sebuah simbol-simbol ekspresif untuk menunjuk benda dan objek, kronologi ataupun keadaan. Syair, sastra, hikayat, dongeng (mitos) adalah kode semiotik nalar yang diinkripsi dalam tradisi.

Apa yang diyakini RAH dalam persahabatannya dengan Von de Wall, dapatkah disebut konsistensi terhadap  prinsip ‘obat dan setiawan’ itu? Atau persahabatan itu di-putih hati-kan lantaran faktor mahfum seteru sehingga mengambil langkah strategi transaksional, sadar ruang akan kekuasaan pemerintah Belanda? Misteri. Meski berselimut kabut misteri, tiada luput disebut dalam tinta sejarah bahwa surat menyurat RAH dan Von de Wall, semata puput oleh maut. (Hudjolly/opini/26/10/2010).

__________

Hudjolly, Editor Rajaalihaji.com

Dibaca 2.799 kali

Sila Tulis Komentar Anda Disini !