Versi Indonesia
English version
Pengunjung Online : 0
Hari ini :234
Kemarin :788
Minggu kemarin:6.118
Bulan kemarin:41.661

Anda pengunjung ke 4.724.460
Sejak 11 Rabi'ul Awal 1429
( 19 Maret 2008 )


Pengunjung Baru ?
   |   


www.melayuonline.com www.wisatamelayu.com www.rajaalihaji.com www.tengkuamirhamzah.com www.ceritarakyatnusantara.com www.adicita.com www.maharatu.com www.jogjatrip.com www.kerajaannusantara.com www.infokorupsi.com www.indonesiawonder.com
Isnain, 11 Safar 1443 (Minggu, 19 September 2021)
 
5 Oktober 2010 03:54

Belajar Bahasa Jiran

Belajar Bahasa Jiran

Oleh Ahmad Sahidah

Masihkah kita mau belajar dari jiran? Mungkin tidak. Persoalan yang acap kali membelit Indonesia Malaysia bisa menjadi batu sandungan. Tapi, jika kita masih ingin memberi porsi pada diskusi perbedaan bahasa Melayu Malaysia dan bahasa Indonesia, simaklah ini. Apa yang tebersit di benak kita dengan kalimat berikut ini:

“Kita merasa seronok menonton rancangan bual politik di televisyen semalam.”

Ujaran semacam ini akan terdengar asing di sini karena ada beberapa kata yang bisa menimbulkan kesalahpahaman karena ketaksaan makna kata, seperti seronok, rancangan, dan bual. Bukankah kalimat tersebut sangat sederhana?

Teman Malaysia saya tak bisa menyembunyikan rasa senangnya apabila seseorang menyebut kata seronok, karena ia tahu bahwa kata ini mempunyai konotasi yang berkait dengan syahwat. Padahal di negeri tetangga, kata tersebut menunjukkan arti senang atau gembira, tidak lebih. Dalam sebuah kesempatan, saya pernah mendengar salah seorang anggota keluarga diplomat Indonesia menceritakan keterkejutannya karena mendengar kata “yang kurang sopan” ini dalam sebuah pertemuan resmi untuk pertama kalinya. Namun, setelah lama bekerja di Malaysia, ia pun mafhum.

Sementara, rancangan merupakan terjemahan dari programme. Kata ini akrab di telinga warga negara jiran karena sering digunakan dalam percakapan dan tulisan. Keberhasilan ini tentu merupakan buah kerja keras dari Dewan Bahasa dan Pustaka di sana, yang getol mencari padanan kata asing dalam bahasa Melayu dan tentu saja kekuatan media televisi dalam menyebarkan sebuah istilah. Tidak aneh jika kata asing banyak diterjemahkan ke dalam bahasa tempatan berbeda dengan bahasa dan media Indonesia yang tak berusaha melakukan hal yang sama dan lebih suka menyerap begitu saja dari bahasa lain, seperti grup, bukan kumpulan, atau sepenuhnya menggunakan kata asing, seperti reporter, padahal di Malaysia masih menggunakan kata lama, yaitu pemberita.

Nah, yang membingungkan adalah perbedaan nuansa arti kata, seperti bual. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 1988), lema ini berarti “omong kosong, cakap besar (sombong)”. Sepertinya, kata bual hanya cocok untuk pengertian negatif. Sementara di Malaysia, bual bermakna percakapan yang tidak melulu “kosong”, tetapi juga berisi. Tidak aneh jika sebuah acara televisi menggunakan kata bual untuk nama program diskusi di layar kaca, Bual Politik. Malah, kata temubual lebih sering digunakan dibanding kata yang mempunyai arti yang sama, wawancara.

Selain itu, istilah-istilah teknis dalam penelitian akademik tidak luput dari proses alih bahasa ke dalam bahasa Melayu, seperti variabel (variable) yang diganti dengan pembolehubah, dan eksperimen (experiment) diterjemahkan dengan ujikaji. Dua kata ini sering saya temukan dan saya dengar dalam pelbagai kesempatan. Kaum terpelajar tidak kikuk mengucapkan kata-kata tersebut, karena selain dibakukan, sering diucapkan dalam kegiatan pengetahuan. Sama dengan sejumlah kata lain yang secara sadar dimasyarakatkan, seperti facilitator dengan pemudahcara atau kata director dengan pengarah. Karena itu, jabatan Sri Mulyani di Bank Dunia diterjemahkan menjadi pengarah pengurusan (managing director), yang di sini diterjemahkan oleh pelbagai koran dengan direktur pelaksana.

Tentu, tugas kita bersama untuk memeriksa kembali penggunaan sejumlah kata yang diadaptasi dari bahasa asing, karena bahasa Indonesia mempunyai kosakata dan aturan turunan sendiri. Kata yang diserap dari bahasa asing begitu saja, seperti produsen, konsumen, dan distributor, telah menghilangkan kedigdayaan bahasa ini, karena sesungguhnya ia mempunyai aturan, yaitu imbuhan awal perkata dasar. Di negeri jiran, ketiga kata itu menjadi pengeluar, pengguna, dan pengedar. Malangnya, di sini kata yang terakhir ini acap kali digunakan untuk penggiat penjualan narkoba. Demikian pula, orang Malaysia lazim menyebut pengumpul sebagai ganti kata kolektor, di Indonesia kata pengumpul lebih memberi konotasi pada “pemulung barang bekas” atau “sampah”.

Lalu, bagaimana dengan istilah fellow, yang berarti teman, rekan atau sahabat? Apakah saya harus membubuhkan kata teman peneliti pascadoktoral sebagai penanda pekerjaan? Di Malaysia, kata ini dengan mudah disebut felo, sesuai dengan pengucapan dalam bahasa asal. Memang di Malaysia, banyak kata yang berasal dari bahasa Inggris dimelayukan sebagaimana pelafalan dalam bahasa aslinya, seperti montage, menjadi montaj, dan prestige berubah prestij. Meski mempunyai akar serumpun, bahasa Indonesia tidak mempunyai kosakata yang berakhiran [j], apalagi [g], seperti kata beg, yang berasal dari bag.

Sementara, praktik penyerapan kata turunan yang acap kali melimpah adalah penambahan akhiran -isasi di belakang sebuah kata dasar. Dengan demikian, kata bersangkutan menunjukkan proses, seperti sosialisasi yang juga bisa disepadankan sebagai pemasyarakatan. Sayangnya, kata yang terakhir jarang digunakan karena lebih dikenal untuk pembelajaran narapidana. Celakanya, dalam KBBI (1998: 286) kita menemukan istilah otomatisasi, padahal bahasa Inggrisnya automation, bukan automatization. Ternyata kita lebih bersemangat dari pemakai bahasa aslinya. Jadilah, imbuhan -isasi itu telah menjadi milik kita yang digunakan sewenang wenang.

__________

Ahmad Sahidah: Fellow Peneliti Pascadoktoral di Universitas Sains Malaysia.

Sumber: http://rubrikbahasa.wordpress.com
Sumber Foto: http://melayuonline.com

Dibaca 1.818 kali

Sila Tulis Komentar Anda Disini !