Versi Indonesia
English version
Pengunjung Online : 0
Hari ini :155
Kemarin :788
Minggu kemarin:6.118
Bulan kemarin:41.661

Anda pengunjung ke 4.724.381
Sejak 11 Rabi'ul Awal 1429
( 19 Maret 2008 )


Pengunjung Baru ?
   |   


www.melayuonline.com www.wisatamelayu.com www.rajaalihaji.com www.tengkuamirhamzah.com www.ceritarakyatnusantara.com www.adicita.com www.maharatu.com www.jogjatrip.com www.kerajaannusantara.com www.infokorupsi.com www.indonesiawonder.com
Isnain, 11 Safar 1443 (Minggu, 19 September 2021)
 
18 November 2010 06:22

Kontribusi Ulama: Diantara Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia

Kontribusi Ulama: Diantara Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia

Oleh M Hasbi Amiruddin

Setiap tanggal 28 Oktober masyarakat Indonesia memperingati hari bersejarah, yaitu hari Sumpah Pemuda. Itu merupakan suatu sikap positif. Suatu bangsa dianggap bijak jika masih mengetahui bagaimana menghargai sejarahnya. Kita tidak akan tahu bagaimana lika-liku sejarah bangsa Indonesia terjadi andaikata sejumlah pemuda tidak bertekad mengadakan Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928.

Sumpah Pemuda tersebut menyatakan, kami pemuda Indonesia berbangsa satu, bangsa Indonesia, bertanah air satu, tanah air Indonesia dan berbahasa satu, bahasa Indonesia. Di antara tiga sumpah tersebut yang paling kongkrit yang telah dimiliki ketika itu adalah bahasa, yang ketika itu masih terkenal dengan bahasa Melajoe (Melayu) dan sudah dipakai untuk bahasa persatuan bagi masyarakat di nusantara.

Sementara bangsa dan wilayah atau tanah air masih belum dapat diklaim sampai di mana saat sumpah itu dilakukan. Terakhir kita ketahui, wilayah yang diklaim sebagai tanah air Indonesia adalah wilayah yang pernah dijajah oleh Belanda.

Berbicara masalah daerah yang pernah dijajah oleh Belanda sebenarnya masih debatable (dipersoalkan). Aceh, misalnya, ketika itu masih sebuah bangsa dan para pakar sejarah tidak semua setuju Belanda pernah menajajah Aceh. Mereka menamakan masa pendudukan, karena sejak Belanda masuk ke Aceh mereka terus-menerus harus berperang dengan rakyat Aceh.

Tulisan ini tidak menyoal masalah tersebut, saya memfokuskan pada masalah bahasa yang telah dinyatakan dalam sumpah pemuda dan sejauhmana peran ulama yang menyebarkan bahasa ke seluruh nusantara melalui pengajian dan dakwah.

Bahasa Indonesia yang kita kenal sekarang berasal dari bahasa Melayu yang digunakan sejumlah rumpun Melayu yang dominan mendiami wilayah Asia Tenggara. Dalam sejarah kita temukan, pengunaan bahasa Melayu ini terutama dalam pengajian-pengajian dan dakwah agama Islam yang kemudian berkembang menjadi bahasa sastra dan bahasa komunikasi antar suku di kepulauan nusantara, awalnya disebarkan oleh para ulama. Ulama, melalui pengajian-pengajiannya mengajarkan agama kepada murid-muridnya melalui bahasa Melayu dan seterusnya murid-murid tersebut mengajarkan murid-murid lainnya dalam bahasa yang sama.

Kalau benar kitab raja-raja Pasai telah ditulis sejak abad ke-13-14, itu berarti bahasa Melayu ini telah lama menjadi bahasa pengantar di kerajaan Pasai. Konon diceritakan, kerajaan Islam Pasai pernah diserang Majapahit, lalu sejumlah tokoh-tokoh di Pasai dibawa ke pulau Jawa. Kitab atau Hikayat Raja-Raja Pasai ini ditulis oleh tokoh-tokoh ini ketika berada di negeri dalam wilayah Majapahit, di pulau Jawa. Di samping itu Pasai pada abad ke-13 telah mulai menjadi pusat pengajian agama Islam untuk wilayah kepulauan nusantara, termasuk Malaysia, Thailand, Brunei, Singapura, dan Pilipina sekarang. Selain kedatangan sejumlah orang dari kepulauan nusantara dalam catatan sejarah juga didapatkan sejumlah ulama Pasai telah dikirim ke pulau lainnya untuk mengadakan dakwah termasuk ke pulau Jawa, Kalimantan dan Sulawesi.

Seperti juga kita baca dalam sejarah bahwa seorang pemuda Pasai yang telah alim lalu berangkat naik haji. Tetapi ketika pulang dia tidak dapat masuk lagi ke Pasai karena Pasai sedang berperang dengan Portugis, lalu dia singgah ke Banten. Di sana dia diangkat menjadi guru untuk mengajarkan agama Islam. Mungkin karena kharisma seorang guru yang sudah dianggap mumpuni dan dapat dipercaya, akhirnya didaulat menjadi seorang panglima perang melawan Belanda, yang kemudian kita kenal dengan nama Fatahilah.

Bahasa Melayu ini semakin berkembang pada abad-abad ke-16-17, yaitu ketika Aceh telah bersatu di bawah kerajaan Islam Aceh Darussalam. Pada masa ini dikenal 4 orang ulama besar di Aceh yaitu Hamzah Fansuri, Syamsuddin As-Sumatrani, Nuruddin Ar-Raniry, dan Abdurrauf Al-Singkili. Selain mereka mempunyai murid baik langsung atau tidak seperti Burhanuddin Ulakan dari Padang, Yusuf Al Makkasari dari Sulawesi, Al-Banjari dari Kalimantan, Daud Abdullah Al-Fatani dari Thailand dan sejumlah ulama dari Malaysia, ulama-ulama ini juga banyak menulis kitab sehingga pemikiran Islam di Asia Tenggara telah didominasi oleh pemikiran ulama-ulama ini. Hampir semua kitab-kitab mereka ditulis dalam bahasa Melayu. Sebagian kecil saja dalam bahasa Arab.

Murid-murid mereka kemudian juga menulis dalam bahasa Melayu sehingga akhirnya dapat dipastikan siapa saja yang dapat dianggap terpelajar waktu itu pasti mereka telah mampu berbahasa Melayu. Karena bahasa ilmiah telah dikembangkan dalam bahasa Melayu sejalan dengan Hamzah Fansuri menulis berbagai hal dalam bahasa Melayu termasuk tasawuf falsafinya. Demikian juga Syamsuddin As-Sumatrani telah menulis berbagai aspek masalah tauhid. Nuruddin Ar-Raniry malah telah menulis berbagai cabang ilmu seperti ilmu tauhid, fiqih, lingkungan hidup dan sejarah dari masa Muhammad sampai masa Sultan Iskandar Muda. Abdurrauf As-Singkili menulis begitu banyak kitab tapi yang terkenal adalah kitab Fiqih lengkap yaitu “Mir’ah Al-Tullab” dan tafsir Alquran “Tarjuman Mustafied”.

Kitab fiqihnya yang dalam bahasa Melayu diberi nama Cermin Segala Mereka yang Menuntut Ilmu Fiqih pada Memudahkan Syariat Islam, pernah dijadikan buku wajib pada Koninklijke Institute di Leiden, Belanda, pada tahun 1844. Kitab tafsirnya merupakan kitab tafsir pertama dalam bahasa Melayu. Kitab-kitab bahasa Melayu Abdurrauf As-Singkili masih dibaca oleh muslim Mindano hingga awal tahun 1900. Setelah 4 ulama besar ini masih banyak ulama-ulama yang menulis kitab dalam bahasa melayu yang kemudian diajarkan kepada sejumlah anak bangsa.

Bahasa Melayu yang awalnya merupakan bahasa pengajian dan dakwah terakhir kita ketahui telah pula menjadi bahasa resmi kerajaan. Setidak-tidaknya ketika raja kerajaan Islam Aceh Darussalam diultimatum oleh Belanda pada tahun 1873, diminta untuk mengakui kerajaan Belanda, kerajaan Aceh telah menolaknya dengan menulis surat dalam bahasa Melayu.

Bahasa yang telah satu ditambah dengan jiwa yang sudah sepenanggungan, karena terjajah, muncullah emosi yang sama di kalangan anak bangsa dalam wilayah Indonesia. Karena itulah kemudian muncul Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 sebagai eujud keinginan bersama memperjuangkan satu negara yang merdeka dan berdaulat penuh.

Dari ilustrasi ini, dapat kita pahami ulama dahulu telah mampu memberi pencerahan kepada anak bangsa mulai dari pengembangan ilmu pengatahuan, baik pengetahuan agama maupun pengetahuan lainnya, yang memberi semangat kepada persatuan dan anti penjajahan. Dan hasilnya umat telah bersatu padu lalu mengusir penjajah dan kemudian memproklamirkan negara sendiri yang bebas untuk mengamalkan ajaran agama dan memperkuat ekonomi anak bangsa sendiri.

__________

M Hasbi Amiruddin, Dosen IAIN Ar-Raniry

Sumber: http://serambinews.com
Sumber Foto: http://sufiroad.blogspot.com

Dibaca 2.196 kali

Sila Tulis Komentar Anda Disini !