Versi Indonesia
English version
Pengunjung Online : 0
Hari ini :217
Kemarin :788
Minggu kemarin:6.118
Bulan kemarin:41.661

Anda pengunjung ke 4.724.443
Sejak 11 Rabi'ul Awal 1429
( 19 Maret 2008 )


Pengunjung Baru ?
   |   


www.melayuonline.com www.wisatamelayu.com www.rajaalihaji.com www.tengkuamirhamzah.com www.ceritarakyatnusantara.com www.adicita.com www.maharatu.com www.jogjatrip.com www.kerajaannusantara.com www.infokorupsi.com www.indonesiawonder.com
Isnain, 11 Safar 1443 (Minggu, 19 September 2021)
 
9 November 2009 07:25

Telur Putih Jadi Perekat Bangunan, Menggali Ilmu di Festival Masjid Bersejarah (1)

Telur Putih Jadi Perekat Bangunan, Menggali Ilmu di Festival Masjid Bersejarah (1)
Oleh: Anton.

Rina tertegun saat melihat foto Masjid Penyengat. Tidak ketinggalan juga foto saat perang.”Lihat, foto ini indah sekali,” ujar Rina kepada temannya

Hari kedua festival, ada empat stand masjid yang buka. Sedangkan sisanya memajang makanan produk masing-masing provinsi. Festival ini memang menyajikan masjid-masjid dan keraton bersejarah dari beberapa provinsi.

Secara historis, masjid memang tidak terpisahkan dengan keraton. Di beberapa daerah pasti mempunyai sejarah tentang keberadaan masjid.

Biasanya keberadaan masjid tidak akan jauh dari peradaban daerah tersebut. Bahkan sejak masa peradaban Islam dibangun, masjid mempunyai peranan penting, selain sebagai sentral ibadah ritual pokok, tempat melakukan salat berjamaah, masjid juga diposisikan sebagai pusat pengendalian dan pengembangan aktivitas umat muslim.

Manfaat dibangunnya masjid hampir keseluruhan daerah sama. Namun ornamen dan arsitektur mesjid mempunyai keragaman sendiri-sendiri.

Seperti arsitektur masjid Pulau Penyengat pasti berbeda dengan masjid Raya Nur ‘ Alam di Pekanbaru. Begitu juga Masjid Raya Batam ornamennya pasti berbeda dengan mesjid Jami’ Tua Palopo di Makasar. Perbedaan inilah yang justru menjadikan masjid sebagai sejarah dalam penyebaran syiar Islam di dunia khususnya di Asia Tenggara.

Berbicara arsitektur mesjid pasti semua orang ingin tahu siapa orang yang membangun dan bagaimana sejarah berdirinya mesjid tersebut.

Masjid Jami’ Tua Palopo Makasar dibangun pada abad 17 dimana agama Islam mulai masuk ke wilayah Sulawesi Selatan. Pada masa awal penyebaran agama Islam di Sulsel ada tiga mubalig yang memegang peranan penting yakni Abdul Makmur, Sulaiman, dan Abdul Jawad. Tiga mubalig inilah yang membangun sekitar tahun 1604. ”Ada juga masjid di Gowa yang cukup tua, di Palopo masjid inilah yang paling kuno,” ujar Abdul Wahid.

Masjid kuno ini mempunyai ciri khas bangunan jaman madya Indonesia seperti bentuk atap yang menyerupai tumpang. Tiang raksasa menjulang tinggi di tengah-tengah balok kecil yang saling bertautan.

Dengan tinggi 8,50 meter, masjid ini terbuat dari kayu jenis Tjina Gurih (Cina Gurih). Seiring perkembangan jaman, kayu jenis ini ternyata sudah punah atau tidak ditemukan lagi. ”Lima tiang itu menunjukan rukun Islam, untuk meratakan dinding batu, bahannya dari lem yang terbuat dari putih telur,” ujarnya.

Masjid Sultan Riau atau lebih dikenal Masjid Pulau Penyengat ikut menyemarakkan festival masjid bersejarah di Asia Tenggara. Di stand inilah pengunjung bisa melihat betapa kuatnya hubungan unsur masjid dengan keraton. Selain foto kesultanan yang ditempel di dinding kayu, beberapa manuskrip berupa Alquran tulisan tangan turun menjadi saksi betapa megahnya kehidupan Islam di Pulau Penyengat.

“Masjid Pulau Penyengat dibangun tahun 1832. Arsitektur ditarik dari Eropa dan Timur Tengah.  Pembangunan masjid dilakukan dengan gotong royong. Bahan yang dibangun bukan dari semen tapi campuran putih telur sebagai perekat. Makanya sampai sekarang bangunan Masjid Penyengat masih kokoh dan kuat,” ungkap Raja Malik Hafrizal koordinator pameran Provinsi Kepri.

Selain sebagai tempat beribadah, Masjid Pulau Penyengat juga dijadikan sebagai pusat intelektual untuk belajar sejarah-sejarah Islam. Saat dibukanya festival, warga yang belum pernah tahu sejarah masjid langsung menyerbu stand Kepri ini. “Stand ini penuh dipenuhi pengunjung. Mereka melihat dari dekat naskah kuno dan buku Melayu,” ujarnya.

Sementara Provinsi Riau turut serta menghadirkan masjid-masjid kunonya seperti Masjid Raya Nur ’Alam, Masjid Agung An-Nur, Masjid Jami’ Pasar Usang Air Tiris Kampar, Masjid Raya Ar Rohman Rengat, Masjid Raya Al-huda Tembilahan, dan Masjid Syahbudin Siak.

Di antara Masjid di Riau, masjid yang dianggap paling tua adalah Masjid Nur ’Alam di Kota Pekanbaru. Masjid ini dibangun pada masa Sultan Abdul Jalil Amaludin Syah tahun 1762. Nama masjid diambil dari nama kecil Sultan Amaludin yakni Raja Alam. Upacara pembangunan dilakukan pada salat Jumat dengan imam Sayid Oesman Syahabuddin, menantu Sultan Amaludin dari kerajaan Siak.

Pada masa kerajaan Sultan Tengku Udo Sayid yang bergelar Assyaidinsyarif, Ali Abdul Jalil Saifuddin (1784-1810) pusat kerajaan Siak dipindahkan dari Mampura kecil ke kota tinggi (kota Siak sekarang ini). Dimasa pemerintahannya, masjid ini diberi nama “Selasar” yang dipergunakan sebagai tempat penziarah untuk beristirahat.

Sementara pada pemerintahan sultan terakhir kerajaan Siak yakni Sultan Syarif Kasim Sani (Sultan Kasim II) pada tahun 1946 masjid ini sempat di perluas bangunan Masjid Raya. ”Masjid ini masih berdiri kokoh dan tidak pernah sepi dari kunjungan masyarakat,” ujar koordinator pemeran. (ucu rahman)

Sumber : tribunbatam.co.id
Sumber Foto : melayuonline.com

Dibaca 4.635 kali

Sila Tulis Komentar Anda Disini !