Versi Indonesia
English version
Pengunjung Online : 37
Hari ini :157
Kemarin :1.254
Minggu kemarin:7.189
Bulan kemarin:43.681

Anda pengunjung ke 3.737.947
Sejak 11 Rabi'ul Awal 1429
( 19 Maret 2008 )


Pengunjung Baru ?
   |   


www.melayuonline.com www.wisatamelayu.com www.rajaalihaji.com www.tengkuamirhamzah.com www.ceritarakyatnusantara.com www.adicita.com www.maharatu.com www.jogjatrip.com www.kerajaannusantara.com www.infokorupsi.com www.indonesiawonder.com
Isnain, 30 Ramadhan 1438 (Minggu, 25 Juni 2017)
 
15 Juni 2011 07:39

Poskolonialisme dalam Sajak-sajak Muhammad Haji Salleh

Poskolonialisme dalam  Sajak-sajak Muhammad Haji Salleh

Oleh Mujibur Rohman

Membaca puisi Pulang Si Tenggang (atau Si Tenggang’s Homecoming dalam versi bahasa Inggris) karya Muhammad Haji Salleh menyadarkan kita bahwa identitas kebudayaan adalah sebuah pencarian. Meskipun di akhir bait puisinya penyair itu sendiri menjawab “Lihat, aku seperti kau juga/masih Melayu”, kita tidak bisa kemudian membaca aku lirik dalam puisi itu sebagaimana kata Muhammad Haji Salleh atau aku sebagai manusia. Kita tidak dapat menafikkan bagaimana proses dan kehidupan seorang penyair berpengaruh pada karyanya. Pergulatan Salleh dengan identitasnya sebagai seorang manusia memang akhirnya membuat ia harus menentukan pilihan tentang siapa dirinya.

Muhammad Haji Salleh adalah seorang profesor sastra sekaligus penyair Malaysia kontemporer. Pertanyaan tentang identitas dalam puisinya yang terkenal Pulang si Tenggang adalah pertanyaan tentang identitas sebagai bangsa (bekas) jajahan. Ia pertama kali menulis puisi langsung dalam dua bahasa, Inggris dan Melayu Malaysia. Ia adalah produk kolonial Inggris dalam pengertian budaya sehingga beberapa sajaknya tampak sebagai sebuah petualangan menuju kampung halaman kebudayaan sendiri, yaitu budaya Melayu.

Ada beberapa sajak yang bisa disebut di sini selain puisi Pulang Si Tenggang yang menggambarkan “kepulangan” itu. Misalnya beberapa sajak yang terkumpul dalam Sajak-sajak Pendatang (1973), Travel Journal of Si Tenggang II (1979), Time and Its People (1978), Sajak-sajak dari Sejarah Melayu (1981), Dari Seberang Diri (1982), dan Rowing Down Two Rivers (2000). Beberapa sajak tersebut mempertanyakan poskolonialisme atas identitas diri dan kebudayaannya.

Bagi Salleh, pencarian identitas dan petualangan untuk kembali pada akar dan budaya sendiri adalah proses yang menyakitkan. Meskipun akhirnya ia berani menyatakan dengan lantang identitasnya sebagaimana disebut di atas, bukan mustahil rasa sakit tetap muncul. Sebagai seorang penyair tentu saja ia perlu membuka diri sedapat mungkin sebagai bagian dari masyarakat internasional dan komunitas lintas bangsa. Namun, penting pula baginya untuk tidak kehilangan tradisi dan identitasnya.

Persoalan-persoalan poskolonial yang muncul dalam kehidupan Muhammad Haji Salleh adalah keberadaannya di ruang antara. Di satu sisi ia adalah seorang Malaysia, namun di sisi lain ia adalah juga warga dari dunia yang lebih besar. Sebagaimana ketika membaca riwayat hidupnya, Muhammad Haji Salleh telah hidup dan bersentuhan dengan berbagai budaya dunia. Ia tinggal di berbagai negara, baik di Eropa maupun Asia, dan menjadi orang yang terasing dari akar budayanya dalam waktu lama. Pada saat itulah barangkali ia berusaha keras untuk menemukan identitas yang kemudian muncul dalam sajak-sajaknya.

Pencarian identitas diri sehubungan dengan pengalaman penjajahan adalah dua hal yang penting. Pertama, bangsa jajahan adalah bangsa yang tertaklukkan, yang kemudian berdampak pada rasa inferior mengenai diri dan budayanya sendiri. Kedua, pengasingan bangsa jajahan dari akar budayanya adalah cara-cara di mana dominasi kebudayaan berlangsung. Kedua hal tersebut menjadikan kaum pribumi kehilangan jati diri kebudayaannya sehingga cara untuk menemukan kembali identitas budaya adalah mengenali budaya sendiri.

Pencarian identitas sebagai bangsa terjajah dan pengalaman penulis mencari identitas diri melalui akar kebudayaan itu muncul dalam sajak-sajak Muhammad Haji Salleh. Melalui puisi-puisinya, Muhammad Haji Salleh melakukan dekonstruksi atas sejarah kolonial yang ia dan bangsanya alami. Puisi karya-karya Muhammad Haji Salleh muncul sebagai bentuk perlawanan atas kolonialisme di masa lalu dan kondisi-kondisi poskolonial saat ini.

__________

Mujibur Rohman, Redaktur www.MelayuOnline.com dan www.TengkuAmirHamzah.com

Sumber foto: http://bayusenja.net

Dibaca 9.959 kali

Sila Tulis Komentar Anda Disini !