Versi Indonesia
English version
Pengunjung Online : 10
Hari ini :228
Kemarin :194
Minggu kemarin:2.066
Bulan kemarin:10.498

Anda pengunjung ke 4.144.871
Sejak 11 Rabi'ul Awal 1429
( 19 Maret 2008 )


Pengunjung Baru ?
   |   


www.melayuonline.com www.wisatamelayu.com www.rajaalihaji.com www.tengkuamirhamzah.com www.ceritarakyatnusantara.com www.adicita.com www.maharatu.com www.jogjatrip.com www.kerajaannusantara.com www.infokorupsi.com www.indonesiawonder.com
Tsulasa', 01 Rabi'ul Akhir 1440 (Senin, 10 Desember 2018)
 
19 Maret 2008 00:07
Raja Ali Haji: Merajut Bahasa Menghadirkan Indonesia

 A.      Pendahuluan

Pada tahun 1928, para pemuda Nusantara dari berbagai organisasi kepemudaan berkumpul dan mengucapkan sumpah bahwa mereka adalah satu bangsa, satu tanah air dan satu bahasa Indonesia. Berkumpulnya para pemuda dari berbagai suku bangsa yang ada di Nusantara dan kemudian dengan penuh kesadaran mengucapkan sumpah merupakan fenomena yang sangat luar biasa (menentukan) dalam sejarah Nusantara dan pembentukan Negara Indonesia.

Ketika mereka bertemu dan melahirkan komitmen bersama tentulah karena mereka mempunyai pandangan yang sama tentang tanah air, bangsa, dan bahasa. Proses dari munculnya komitmen bersama tersebut karena mereka tentunya menggunakan bahasa yang dapat dimengerti bersama. Padahal menurut Mohammad Hatta, pada permulaan abad ke-20 bahasa Indonesia belum dikenal. Jika demikian, apa bahasa yang di gunakan oleh para pemuda tersebut? Analisis historis tentunya sangat diperlukan untuk menyingkap tabir tersebut.

Nusantara merupakan sebuah kawasan yang terdiri dari ribuan pulau yang di dalamnya hidup berbagai macam suku bangsa dengan budaya dan bahasa yang berbeda-beda. Jika demikian, bahasa apakah yang disebut dengan bahasa Indonesia dalam Sumpah Pemuda tahun 1928? Bahasa yang digunakan adalah bahasa Melayu sebagaimana hasil kesepakatan kongres bahasa Indonesia di Medan tahun 1954 (Hasan Junus, dkk, 2004). Mengapa bahasa Melayu? Karena bahasa melayu pada saat itu merupakan bahasa yang digunakan dalam aktivitas perdagangan dan pemerintahan. Menurut Mohammad Hatta, sampai tahun 1928 yang menjadi lingua franca di Nusantara adalah bahasa Melayu, yaitu bahasa Melayu Riau. Orang Belanda menyebutnya Riouw Maleisch.

Dipilihnya bahasa Melayu Riau sebagai bahasa Indonesia, karena bahasa ini, selain sebagai lingua franca, juga merupakan bahasa yang dibina dan dirawat oleh para cendikiawan yang berada di daerah Riau. Oleh karena dibina dan dirawat, maka bahasa Melayu Riau menjadi bahasa yang berpredikat tinggi sehingga menjadi bahasa paling banyak digunakan baik oleh masyarakat pribumi ataupun oleh para pejabat dan pegawai Belanda. Bahkan, orang-orang Belanda yang hendak ditugaskan di wilayah Nusantara harus menguasai bahasa Melayu. Berdasarkan hal itulah, dapat dipahami jika para pemuda pada tahun 1928 mengangkat bahasa Melayu menjadi bahasa kebangsaan yang terangkum dalam kalimat ”berbahasa satu bahasa Indonesia”.

Salah satu cendekiawan yang berperan besar dalam meletakkan dasar-dasar tata bahasa Melayu adalah Raja Ali Haji. Bahasa hasil rajutan Raja Ali Haji tersebut di kemudian hari dijadikan bahasa nasional, yaitu bangsa Indonesia. Namun sayang, jasa-jasanya yang besar tersebut tidak banyak diketahui orang. Mungkin saja, jika pada saat itu Raja Ali Haji tidak merawat dan menjaga bahasa Melayu, maka boleh jadi pada tahun 1928 para pemuda tidak akan berikrar tentang bertanah air, berbangsa, dan berbahasa Indonesia. Berdasarkan peran sentral itulah, maka pemikiran Raja Ali Haji tentang bahasa perlu digali dan diapresiasi.


B.      Biografi Kebahasaan Raja Ali Haji

Gurindam dua belas (1847), Bustanul Katibin (Taman Para Penulis) (1857), dan Kitab Pengetahuan Bahasa (1859) merupakan bagian dari karya-karya Raja Ali Haji dalam bidang kebahasaan dan kesusastraan. Karya-karya tersebut secara nyata tidak hanya menunjukkan kepiawaiannya dalam dunia tulis menulis tetapi juga kepribadian dan kesadarannya tentang manfaat bahasa untuk membangun peradaban bangsa.

Pembentukan kepribadian (character building) dan kesadaran (awareness) tersebut tidak datang secara tiba-tiba, tetapi melalui sebuah proses yang tidak mudah. Apalagi dikala itu, tempat ia tinggal (Riau) merupakan daerah jajahan Belanda. Namun walaupun berada dalam suasana terjajah, Raja Ali Haji mampu membuktikan dirinya sebagai pribadi unggul sehingga mampu menginspirasi tidak saja masyarakat yang hidup sezaman dengannya tetapi juga generasi-generasi selanjutnya. 

Jika kita melakukan kajian secara historis, maka akan diketahui bahwa kepiawaiannya dalam dunia tulis-menulis dan kesadarannya tentang adanya manfaat yang luar biasa dari bahasa dipengaruhi oleh lima faktor, yaitu: pertama, dalam diri Raja Ali Haji mengalir darah Bugis. Menurut Nurhayati Rahman (2004), darah Bugis yang mengalir dalam diri Raja Ali Haji telah membentuknya menjadi pribadi yang suka merantau.[1] Kebiasan suka merantau tersebut telah menjadikan Raja Ali Haji secara alamiah memiliki kemampuan dan kepekaaan untuk beradaptasi secara aktif dalam merespon beragam lingkungan baru. Darah perantau yang mengalir dalam tubuh Raja Ali  Haji telah membawanya mengenal berbagai macam masyarakat dari Jawa hingga dunia Arab. Apa yang Raja Ali Haji lihat dan alami dalam perantauannya memberi pengaruh yang signifikan dalam membentuk kepribadiannya.

Kedua, bakat Raja Ali Haji dalam dunia tulis menulis diwarisi dari ayahnya, raja Ahmad.[2] Raja Ahmad merupakan penyemangat, pendukung, fasilitator dan saingan Raja Ali Haji dalam bidang sastra dan kepengarangan (Teuku Haji Ibrahim Alfian, 2004). Menurut Hasan Junus (2002), Raja Ahmad selain sebagai penasehat kerajaan, ia juga menulis berbagai syair, seperti: Syair Raksi, Syair Perang Johor, Syair Engku Putri, dan lain sebagainya. Ketertarikan Raja Ahmad yang luar biasa terhadap dunia tulis-menulis pada akhirnya mendorong Raja Ali Haji untuk mencitai dunia tulis- menulis.

Ketiga, posisi Riau secara geografis berada pada posisi strategis. Kondisi tersebut, memungkinkan Riau menjadi tempat tujuan dan persinggahan para pedagang atau sekedar tempat transit berbagai macam suku bangsa. Oleh karena itu, Riau menjadi kawasan yang sangat heterogen dan kosmopolitan sehingga memungkinkan Raja Ali Haji mengenal dan memahami budaya dari berbagai macam suku bangsa. Pengetahuan terhadap budaya lain sedikit banyak telah menyadarkan Raja Ali Haji pentingnya bahasa yang dapat dimengerti dan dipahami oleh berbagai macam orang.

Keempat, lingkungan Riau pada saat itu merupakan kawasan yang secara kesusastraan dan kebudayaan sangat dinamis. Tempat ini merupakan gudang para sastrawan dan budayawan Melayu. Dalam kondisi yang demikian, Raja Ali Haji mempunyai kesempatan yang sangat besar untuk berprofesi dan berprestasi dalam bidang budaya dan sastra. Kesempatan tersebut semakin terbuka lebar karena ia merupakan salah satu putra bangsawan sehingga mempunyai kesempatan untuk mendapatkan pendidikan di lingkungan istana kerajaan Penyengat dari para ulama yang datang dari berbagai negeri. Hasan Junus (1998: 39) mengungkapkan:

Raja Ali Haji mendapatkan pendidikan dasarnya dari ligkungan istana penyengat. Ia mendapat didikan dari tokoh-tokoh terkemuka yang datang dari berbagai daerah. Waktu itu di pulau Penyengat banyak berdatangan ulama dari berbagi negeri meramaikan pusat kebudayaan Melayu yang intinya ditekankan pada pengkajian ajaran Islam. Mereka datang dan berdomisili di Riau untuk mengajar dan belajar. Hal ini disebabkan di Riaulah.......bahasa dan kesusastraan dipelihara dan dikembangan secara bersemangat dan menyentuh semua kalangan. Dalam hal itu, tentu saja anak-anak dari kaum keraton  yang mendapat kesempatan pertama dan terpilih untuk menikmati pendidikan. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Raja Ali Haji dengan sebaik-baiknya.    

Kelima, perjalanan ke berbagai daerah baik yang disekitar Riau ataupun di daerah lain. Pada tahun 1822 M, Raja Ali Haji dibawa oleh Ayahnya ke Betawi menjumpai Gubernur Jendral Baron van der Capellen. Pada kesempatan itu, ia berkesempatan menonton “Komidi Holanda” di “Schouwbrurg” (sekarang Gedung Kesenian Jakarta). Setelah itu, ia berkunjung ke Jawa pada tahun 1823 dan 1826 M. Pada perjalanannya ke tanah Jawa pada tahun 1826 M,  ia bertemu dengan Residen Jepara D.W. Punket van Haak. Pada tahun 1827,  Raja Ali Haji  dibawa oleh ayahnya untuk menunaikan ibadah Haji ke Mekkah. Di Mekkah, ia tidak saja beribadah tetapi juga untuk memperdalam pengetahuannya tentang Islam dan untuk belajar bahasa Arab kepada Syeikh Daud bin Abdullah Al-Fatani. Sebelum pulang ke Riau, Raja Ali Haji beserta ayahnya menyempatkan diri berkunjung ke Mesir.

Perjalanan Raja Ali Haji ke Mekkah dan ke Mesir tidak saja menambah pengetahuan keislaman Raja Ali Haji dan ayahnya, tetapi juga telah menumbuhkan kesadaran baru tentang pentingnya bahasa dan perlunya bersatu untuk membebaskan diri dari kolonialisme. Benih-benih kesadaran tersebut, nampaknya sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial politik yang saat itu berkembang di kawasan Arab, khususnya Mesir. Pada tahun-tahun tersebut, Perdana Menteri Mesir Muhammad Ali menyerukan Pan Arabisme sebagai bentuk perlawanan terhadap hegemoni Inggris (Thariq Bisyri, 1996). Benih-benih tersebut yang nampaknya mempengaruhi kepribadian Raja Ali Haji, terutama terhadap pentingnya bahasa sebagai media untuk menyatukan masyarakat Melayu dan penyikapannya terhadap kolonialisme Belanda.

Kedekatan Raja Ali Haji dengan para sahabatnya yang berasal dari Belanda bukan karena ia berpihak kepada kolonial Belanda tetapi karena Raja Ali Haji ingin memanfaatkan kemampuan dan fasilitas yang dimiliki para sahabatnya untuk menerbitkan karya-karyanya. Sebagaimana diungkapkan oleh Barbara Watson Andaya dan Virginia Matheson (1983: 99):

”....Sementara orang-orang Melayu menaruh respek kepada Raja Ali Haji sebagai seorang Muslim yang taat dan ahli dalam adat, Belanda memandangnya sebagai bahaya terhadap kontrol administratif mereka di Riau. Residen Netcher dalam laporan pensiunnya menggambarkan Raja Ali Haji sebagai cendikiawan yang sangat menentang setiap perubahan atas adat istiadat tradisional Melayu, Raja Ali Haji bersikap antagonis terhadap kehadiran orang Belanda dan bukan kawan bagi orang Eropa....”   

Nampaknya, kelima hal di atas merupakan faktor penentu pembentukan kepribadian dan pemikiran Raja Ali Haji, khususnya dalam bidang bahasa. Hal tersebut, secara jelas dapat dilihat pada dua karya Raja Ali Haji, yaitu Kitab Bustanul Katibin yang ditulis pada tahun 1857 M., dan Kitab Pengetahuan Bahasa yang ditulis pada tahun 1859 M. Melalui kedua karya Raja Ali Haji tersebut kita akan mengetahui betapa ia mempunyai pemikiran visioner yang menggugah dan menyatukan masyarakat Melayu  dengan menggunakan Bahasa.
 

C.  Merawat Bahasa, Menghadirkan Indonesia

Bahasa merupakan sarana utama yang digunakan oleh manusia untuk membangun peradabannya. Melalui bahasa, manusia mengembangkan kehidupan spritual, inteletual, dan sosialnya. Manusia berfikir dengan bahasa, bahkan sebelum pemikiran itu diformulasikan dalam bentuk ujaran. Tanpa bahasa tidak mungkin ada kehidupan spritual, inteletual, dan sosial. Oleh karena itu, penulisan Kitab Bustanul Katibin dan Kitab Pengetahuan Bahasa secara jelas menunjukkan bahwa Raja Ali Haji sangat memahami pentingnya bahasa dan kesusastraan untuk menopang kehidupan bangsanya.

Melalui kedua Kitabnya, Kitab Bustanul Katibin dan Kitab Pengetahuan Bahasa, Raja Ali Haji telah menyadarkan setiap orang yang berada di daerah Melayu, khusunya Riau, bahwa bahasa mempunyai peran signifikan dalam kehidupan manusia. Berkat kerja keras Raja Ali Haji dan kawan-kawannya merawat dan mengembangkan bahasa Melayu, pada tanggal 28 Oktober 1928 para pemuda dari berbagai daerah di Nusantara dengan latar belakang budaya yang berbeda berkumpul dan mengucapkan sumpah untuk berbahasa satu bahasa Indonesia.

Penulisan Kitab Bustanul Katibin dan Kitab Pengetahuan Bahasa oleh Raja Ali Haji pada tahun 1850-an secara jelas menunjukkan bahwa pada saat itu Raja Ali Haji telah menyadari bahwa bahasa dan sastra merupakan media penting untuk membangun kesadaran nasionlisme dan patriotisme. Raja Ali Haji memberikan landasan yang kokoh untuk membentuk masyarakat yang merdeka dan tidak tercerabut dari akar lokalitasnya. Berdasarkan kerja keras Raja Ali Haji bertungkus lumus merawat dan mengembangkan bahasa dan satera Melayu, generasi-generasi setelahnya mempunyai modal untuk membangun peradabannya. Oleh karena itulah maka tidak salah ketika Abdul Hadi (2004) mengatakan bahwa Raja Ali Haji bukan sekedar produk dari zamannya, tetapi ia adalah hati nurani dan suri tauladan utama bagi bangsanya. Dia tidak berdiam diri menyaksikan masyarakatnya terpuruk dan martabatnya jatuh ke tangan bangsa-bangsa lain. Dia berfikir dan mengerahkan segenap kemampuannya untuk membantu masyarakatnya agar terlepas dari keterpurukan yang telah sekian lama menderanya. Sebagai seorang sastrawan, maka yang ia lakukan untuk mengentaskan masyarakatnya adalah dengan menggunakan bahasa.

Bahasa bagi Raja Ali Haji mempunyai banyak fungsi, di antaranya adalah: Pertama, bahasa sebagai peneguhan Jati Diri. Kolonialisme yang terjadi di dunia Melayu tidak hanya menyebabkan kehidupan masyarakat Melayu secara ekonomi dan politik hancur tetapi juga, yang paling parah, mulai menipisnya jati diri Melayu. Secara perlahan tetapi pasti, masyarakat Melayu dipaksa untuk menerima kebudayaan asing, walaupun nyata-nyata nilai-nilai yang terkandung dalam kebudayaan tersebut banyak bertentangan dengan nilai-nilai dan falsafah hidup orang Melayu. Para penjajah secara intensif melakukan gerakan-gerakan demelayuisasi. Pemuda-pemuda Melayu dari waktu ke waktu semakin tercerabut dari akar budayanya. Maka perawatan dan pengembangan bahasa Melayu yang dilakukan oleh Raja Ali Haji dan sastrawan Riau lainnya telah memungkinkan bahasa Melayu berada pada posisi sejajar dengan bahasa kaum kolonialis. Hasil kerja Raja Ali Haji dan sastrawan Riau lainnya menjadi bahasa pengantar tidak saja dalam dunia akademik tetapi juga dalam administrasi pemerintahan. Begitu gemilangnya pencapaian Raja Ali Haji dan kawan-kawanya dalam bidang kebahasaan sehingga para pegawai Belanda yang hendak ditugaskan bekerja di daerah Melayu harus menguasai bahasa Melayu.

Kedua, bahasa sebagai lingua franca. Bahasa Melayu sejak zaman Sriwijaya telah menjadi bahasa penghubung dalam setiap aktivitas masyarakat. Namun demikian, pada saat itu, bahasa Melayu hanya digunakan semata-mata untuk aktivitas ekonomi. Karena kepentingan menguasai bahasa Melayu hanya untuk urusan ekonomi, maka fungsi-fungsi yang lain tidak pernah muncul. Bahkan ada kecenderungan bahasa Melayu semakin kehilangan bentuknya sebagai sebuah identitas Melayu. Kunjungan Raja Ali Haji ke berbagai daerah telah menumbuhkan kesadaran bahwa bahasa Melayu dipergunakan oleh berbagai kalangan hanya saja dengan dialek yang berbeda-beda. Bagi Raja Ali haji, penggunaan bahasa Melayu oleh berbagai lapisan masyarakat merupakan potensi besar untuk dijadikan alat pemersatu hanya saja terkendala oleh penggunaan dialek yang berbeda. Kondisi ini tentu saja membuat prihatin orang-orang yang menggawangi bahasa Melayu, khususnya Raja Ali Haji. Keprihatinan tersebut mendorong Raja Ali Haji dan cendikiawan Riau untuk menggalakkan kegiatan penulisan dan persuratan Melayu. Bahasa itu menunjukan martabat sebuah bangsa, ungkap Raja Ali Haji. Keberadaan Kitab Bustanul Katibin (1857 M) dan Kitab Pengetahuan Bahasa (1859) merupakan salah satu usaha untuk menjadikan bahasa sebagai potret martabat bangsa.

Ketiga bahasa sebagai pembangkit nasionalisme. Peran bahasa Melayu sebagai lingua franca antar suku bangsa melahirkan kesepahaman di antara para pemuda. Kesepahaman tersebut tertuang dalam apa yang disebut sumpah pemuda: berbangsa, bertanah air, dan berbahasa Indonesia. Munculnya semangat Nasionalisme tersebut secara jelas merupakan salah satu dari dampak telah tertatanya struktur kebahasaan Melayu. Memang ada beberapa tokoh yang berusaha menolak bahwa yang dimaksud dengan bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu, Riau. Tetapi sejarah membuktikan bahwa yang menjadi bahasa pengantar dalam dunia pendidikan dan administrasi pemerintahan Belanda pada saat itu adalah bahasa Melayu Riau.

Bahasa Melayu berkembang sedemikian pesat dari sekedar lingua franca menjadi alat perlawanan terhadap kolonialisme. Memang semangat ini ”tidak murni” muncul dari rahim Melayu, tetapi diinspirasi dari gerakan pembahruan Islam yang terjadi di Timur Tengah, khususnya Mesir. Gerakan pembaharuan Islam yang lahir di negeri-negeri Arab dan Persia merupakan reaksi terhadap gerakan kolonialisme, khususnya ancamannya terhadap kehidupan sosial, budaya, dan agama masyarakat. Kunjungan Raja Ali Haji ke Mesir pada tahun 1827 bersama ayahnya, nampaknya telah menginspirasinya untuk melakukan hal yang sama untuk masa depan bangsanya. Oleh karena itu, penulisan Kitab Bustanul Katibin dan Kitab Pengetahuan Bahasa nampaknya tidak sekedar untuk merawat bahasa Melayu tetapi juga sebagai bentuk perlawanan kebudayaan terhadap budaya yang dibawa oleh kaum kolonialis.

Bustanul Katibin (taman para pengarang) yang ditulis pada tahun 1857 dan baru diterbitkan pada tahun 1875 merupakan Kitab tata bahasa Melayu yang disusun berdasarkan tata bahasa Arab Alirah Sibawaih. Tata bahasa yang ditulis oleh Raja Ali Haji merupakan upayanya untuk menjaga kemurnian bahasa Melayu. Sedangkan Kitab Pengetahuan Bahasa merupakan semacam kamus bahasa Melayu yang isinya mencakup pengetahuan bahasa, kosa kata, dan istilah-istilah Melayu khususnya yang berkaitan dengan agama, kebudayaan, dan sastra. Memang, secara sekilas kedua Kitab tersebut hanya Kitab bahasa, tetapi kandungan isi dan manfaatnya telah membuktikan bahwa kedua Kitab tersebut merupakan peletak dasar peradaban Melayu, yang kelak menjadi inspirator bagi para pejuang untuk mendirikan Negara Kesatuan Indonesia.   

Keempat, bahasa sebagai media Penyebaran ilmu dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Apa yang dilakukan oleh Raja Ali Haji membuktikan bahwa bahasa merupakan media utama menyebarkan ilmu pengetahuan dan pada saat bersamaan menjadi media untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Peletekan pondasi bahasa yang dilakukan oleh Raja Ali Haji dengan menulis Kitab Bustanul Katibin dan Kitab Pengetahuan Bahasa merupakan jalan untuk menyebarkan ilmu. Teori-teori sosial mengatakan bahwa bahasa merupakan faktor utama untuk membentuk peradaban. Seberapa pun besarnya ide seseorang, tetapi tidak diejawantahkan ke dalam bentuk bahasa yang dapat dimengerti dan dipahami, maka ide besar tersebut tidak akan ada gunanya sama sekali.

Setelah landasan bahasa Melayu dibentuk, maka Raja Ali Haji melanjutkannya dengan menyebarkan pengetahuannya kepada masyarakat luas. Oleh karena masyarakat telah memiliki pengetahuan bahasa yang sama, maka ketika Raja Ali Haji menulis buku-buku yang lain, masyarakat dengan sendirinya telah siap menerima ilmu yang disebarkan oleh Raja Ali Haji dan para cendikiawan lainnya. Ibarat hendak memberikan rumah kepada seseorang, Raja Ali Haji telah memberikan informasi tentang bentuk rumah, pagar, dan bahkan kuncinya juga diberikan. Dengan cara tersebut, niscaya orang yang mendapatkan rumah tidak akan kebingungan lagi. Demikian juga dengan bahasa. Mungkin saja, Kitab Tuhfat al-Nafis (anugrah berharga) tidak akan bisa dipahami jika sebelumnya Raja Ali Haji tidak ”mensosialisasikan” landasan kebahasaannya. 

Dari pemaparan di atas, dapat diketahui bahwa Raja Ali Haji merupakan tokoh yang benar-benar memahami potensi besar yang dimiliki bahasa. Dengan bahasa yang dirawat, dikembangkan dan dibuat landasannya, Raja Ali Haji telah menghadirkan Indonesia.  
  

D.     Penutup

Pilihan Raja Ali Haji untuk merawat, mengembangkan, dan memberikan landasan bagi bahasa Melayu merupakan tindakan visioner yang jarang ada bandingannya hingga saat ini. Kerja kerasnya tidak saja menjadikan bahasa Melayu Riau menjadi bahasa yang terawat tetapi juga telah menjadi bahasa nasional Indonesia. Selain itu, apa yang dilakukan oleh Raja Ali Haji pada tahun 1850-an telah menjadi jalan hadirnya sebuah negara bangsa yang bernama Indonesia. Oleh karena itu, menurut hemat penulis, dari sekian banyak karya Raja Ali haji, Kitab Bustanul Katibin dan Kitab Pengetahuan Bahasa merupakan karyanya yang paling monumental.

Namun sayang, informasi tentang Raja Ali Haji banyak direduksi sehingga ia hanya dikenal sebagai pengarang gurindam dua belas. Raja Ali Haji ibarat tukang kapak yang jasanya akan dilupakan orang seiring datangnya tukang ketam. Sebagaimana diungkapkan UU Hamidy (2004):

 ”Raja Ali Haji ............telah membina dan memelihara bahasa Melayu di Riau. Usaha itu telah melapangkan jalan bagi terbentuknya bahasa nasional Indonesia. Tetapi jasa beliau yang demikian hampir tidak dikenal. Kebanyakan orang hanya menghargai lembaga atau individu, yang membina bahasa Indonesia. Perbuatan Raja Ali Haji membina dan memelihara bahasa Melayu, bagaikan mengapak dan menarah bahasa itu, sehingga akhirnya mempunyai bentuk dan dasar yang baik.........maka upaya membina bahasa itu hanyalah bagaikan mengetam.....tidak lagi meletakkan dasar-dasar yang pokok daripada bahasa itu.......tapi sayang, yang dihargai hanya tukang ketam; tukang kapak telah dilupakan.”    

                                                         ---------------ooOoo---------------------

Refrensi:

  • Bisyri, Thariq, 1996, almalameh al ammah lil fikri as-siyasi al islami fi at-tarikh al-ma‘ashirah, Kairo: Dar al Syurq.
  • Haji, Raja Ali, 2005, Bustanul Katibin, Yayasan Karyawan Kuala Lumpur, Kuala Lumpur.
  • Jamil, Taufik Ikram, 2003,Penggalan Kepala untuk Sultan Melayu: Membolak-balik Tuhfat al-Nafis”, dalam Kompas,  Jumat, 01 Agustus 2003.
  • Junus, Hasan, 2002, Raja Ali Haji: Budayawan Di Gerbang Abad XX, Unri Press, Riau.
  • Junus, Hasan, dkk, 2004, Sejarah Perjuangan Raja Ali Haji, Unri Press Pustaka, Riau.
  • Putten, Tan Van der dan Al Azhar, 2007, Dalam Berkekalan Persahabatan: Surat-surat Raja Ali Haji Kepada  Von de Wall, KPG, Jakarta.
  • “Raja Ali Haji: Ulama dan Intelektual Melayu,” dalam  http://tokoh.blogspot.com/2005/05/raja-ali-haji-ulama-dan-intelektual.html, diakses tangal 23 Desember 2007.
  • Shadik, Faisal, Politik Islam Melayu, 2007,  (Studi Pemikiran Raja Ali haji 1808-1873), tesis, Pasca Sarjana UIN SUKA.
  • Sunjayadi, Achmad, ”Menyingkap Kumpulan Surat Pribadi Raja Ali Haji, dalam http://achmadsunjayadi.wordpress.com/2007/08/04/menyingkap-kumpulan-surat-pribadi-raja-ali-haji/, tangal 23 Desember 2007.
  • Yudono, Jodhi, ”Raja Ali Haji, Magma Sastra Melayu”, dalam http://www.kompas.com/gayahidup/news/0411/25/011519.htm, diakses tangal 23 Desember 2007.
  • Andaya, Barbara Watson, dan Matheson Virginia (1984), ”Pemikiran Islam dan tradisi Melayu: Tulisan Raja Ali Haji dari Riau”, dalam dari Raja Ali Haji Hingga HAMKA: Indonesia dan Masa Lalunya, Grafiti, Jakarta.


[1] Kepribadian suka merantau pada orang Bugis, memungkinkannya untuk mengenal dan memahami berbagai masyarakat yang mempunyai kultur yang berbeda. Cara tersebut memungkinkan orang-orang Bugis untuk membangun peradaban yang integratif antar suku bangsa tanpa dipisahkan oleh sekat-sekat budaya, ekonomi, maupun geografis. Dalam konteks ini, merantau tidak diartikan semata-mata sebagai proses perpindahan seseorang menuju dunia baru, tetapi juga sebagai bentuk keberanian untuk mengenal orang lain. 

[2] Raja Ali Haji (RAH) dilahirkan di Pulau Penyengat, Kepulauan Riau pada tahun 1908. Ayahnya bernama Raja Ahmad (bergelar Engku Haji Tua) dan ibunya bernama Encik Hamidah binti Panglima Malik Selangor. RAH adalah cucu dari Raja Haji Fisabilillah Yang Dipertuan IV dari Kerajaan Riau-Lingga dan merupakan keturunan bangsawan Bugis. Raja Ali Haji memiliki beberapa saudara laki-laki dan perempuan dari ayah yang sama, yaitu Raja Haji Daud (sulung), Raja Endut alias Raja Umar, Raja Salehah, Raja Cik, Raja Aisyah, Raja Abdullah, Raja Ishak, Raja Muhammad, Raja Abu Bakar, dan Raja Siti (bungsu).
 
Dibaca 5.928 kali